~
Reyhan memilih membolos hari ini. Ia tidak bisa fokus belajar, karena terlalu banyak pikiran dan tekanan. Ia memilih duduk melamun di meja belajarnya. Dengan buku yang terbuka, menunjukan halaman yang kotor dengan darah dan air mata bekas semalam.
Ia sudah mengganti seragamnya dengan kaos putih biasa. Tangannya meraih ponsel di sampingnya. Membukanya pada log panggilan dan mengetikan satu nama, Papa.
Ia ragu akan menelpon dan memberitahu semuanya. Ia memikirkan bagaimana reaksi papa nanti. Lama Ia putuskan, dan akhirnya Ia menekan tombol telepon pada ponselnya.
Ia mengepalkan tangan. Menetralisir rasa gugup yang datang. Menunggu panggilan itu masuk.
Entah nasib baik atau buruk, panggilan itu tak terjawab. Reyhan menghela nafas lega. Ia takut jika reaksi papa akan berbanding balik dengan apa yang Ia bayangkan.
Namun Ia tetap berusaha memberi tahu papa. Lewat pesan chat yang entah kapan akan papanya buka. Ia hanya mengirimkan foto berupa surat dari rumah sakit yang menyatakan penyakit yang dideritanya.
Lalu, Ia teruskan kepada tantenya. Setelah itu, Ia meletakkan ponselnya begitu saja dan menaruh kepalanya pada meja belajar. Ia menghela nafas berat.
Ia rasa akhir-akhir ini harinya berantakan. Ia tidak tahu jika menyembunyikan rahasia yang menurutnya sepele bisa sebesar itu akibatnya.
Namun, jika sepele kenapa harus Ia sembunyikan? Reyhan pun mentertawakan dirinya sendiri. "Drama lo!" Ucapnya sambil memukul kepalanya.
Brak!
Suara pintu yang dibuka secara kencang mengejutkannya. Reyhan segera menegakkan tubuhnya dan menoleh pada siapa yang membuka pintu.
Stevani.
Wanita itu sudah berdiri di tengah pintu dengan nafas terengah-engah.
"Tante, habis nga-"
Stevani berlari dan memeluk Reyhan erat. Ia menangkup kepala Reyhan dalam pelukannya. Sangat posesif.
Reyhan yang diperlakukan seperti itu terkejut bukan main. Otaknya mencerna, lalu sedetik kemudian Ia paham. Pasti ini karena pesan yang baru saja Ia kirim.
Reyhan tersenyum sendu. Ia melepas pelukan Stevani. Kemudian mengajak tantenya yang masih lajang itu duduk di tepi kasurnya.
"Maaf Rey. Tante ngga bisa jagain kamu." Ucap Stevani penuh penyesalan setelah duduk di tepi kasur Reyhan.
Reyhan tersenyum, kemudian Ia mengambilkan air putih yang selalu sedia di atas nakas itu, dan memberikannya pada Stevani. "Minum dulu tan."
Stevani menurut. Ia meminum air itu hingga setengah. Setelah itu, air itu di ambil alih oleh Reyhan dan meletakkannya di atas nakas kembali.
"Rey." Panggil Stevani. Matanya menatap Reyhan penuh kasih sayang. Ia tidak menyangka jika selama ini, orang yang selalu terlihat kuat dalam segala keadaan ternyata menyimpan rahasia besar.
"Aku ngga apa-apa tan. Tante tenang aja." Ucap Reyhan dengan senyuman. Ia tidak ingin wanita yang merawat nya sejak umur lima tahun itu bersedih karenannya.
"Kenapa baru bilang?" Tanya Stevani, Ia merapihkan rambut Reyhan yang panjang, hampir sealis.
"Ngga mau bikin khawatir orang." Jawab Reyhan jujur.
"Jangan selalu merasa sok kuat Rey, kalo emang kamu ngga kuat, ya." Pesan Stevani. Reyhan hanya mengangguk membalas.
Reyhan menatap wanita itu lamat-lamat. Ia salah jika menganggap semua rumah tempat mengadunya hilang, ternyata masih ada rumah yang selalu menerimanya apa adanya. Yang selalu penuh kelembutan dan kasih sayang layaknya kasih seorang ibu.
Namun pengecualian untuk Nanda.
"Tante ngga kerja?" Tanya Reyhan, melihat Stevani yang masih menggunakan pakaian kantor.
Stevani tersentak. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Oh ya, tante lupa, tadi niatnya pulang ambil dokumen, tapi waktu lihat pesan kamu, tante langsung kesini ngga mikir apa-apa lagi."
Reyhan terkekeh. Jujur, Ia merasa tertegun, Stevani lebih mementingkan dirinya dari pada dokumen kerjanya.
"Kamu sendiri kenapa ngga sekolah?" Tanya balik Stevani. Ia menatap tajam keponakannya itu.
Reyhan meneguk salivianya susah payah. Ia gugup mencari alasan. "Itu, tadi agak ngga enak badan tan." Ucap Reyhan diakhiri cengiran tanpa dosa.
"Kamu sakit?" Tanya Stevani khawatir. Ia memegang dahi Reyhan dengan punggung tangannya.
Reyhan memejamkan matanya saat punggung tangan itu menyentuh dahinya. Ia melepaskan tangan Stevani perlahan. "Engga tan. Cuma lemes aja tadi."
"Kalo ada apa-apa bilang tante ya. Jangan merasa sok kuat lagi." Ujar Stevani memperingati. Reyhan menganggukan kepala, menyetujui.
Kemudian Reyhan mengantar Stevani sampai pintu keluar.
~
Prang!
Sambutan yang sangat meriah untuk seorang Tasa yang baru saja pulang sekolah. Sekolah di pulangkan lebih cepat hari ini, karena banyak guru yang ikut takziah kerumah Sabrina.
Tasa menghela nafas kasar. Matanya sontak berkaca-kaca. Akhir-akhir ini amarahnya sangat mudah dipancing. Bahkan dengan hal-hal sepele pun.
Tadi contohnya. Piring melayang dan pecah tepat di depannya, ketika akan menaiki tangga, yang kurang beberapa langkah lagi.
Ia memejamkan matanya dan mengepalkan tangan erat. Ia menoleh pada kedua orang tua yang tiada hari tanpa bertengkar itu. Sepertinya, hidup mereka tidak akan tenang jika, sehari saja, tidak bertengkar.
"MAU SAMPAI KAPAN SI KAYAK GINI TERUS?! NGGA CAPEK APA!!" Teriaknya kencang, dengan mata terpejam. Ketika Ia membuka matanya, matanya dipenuhi oleh cairan bening yang kapan saja siap turun.
"GUE YANG NGELIHAT AJA CAPEK TAU NGGA!" Teriaknya lagi. Air mata nya sudah lolos. Namun dengan cepat Ia mengusapnya kasar.
Julia maupun Galang, hanya mampu diam tak berkutik. Mereka terlampau terkejut dengan sikap anaknya yang brutal.
"Mana sopan santun kamu Tasa!" Galang mencoba memperingati.
"SOPAN SANTUN, SOPAN SANTUN LAGI! EMANG KALIAN TAHU APA ITU SOPAN SANTUN? EMANG KALIAN PERNAH NGAJARIN GUE APA ITU SOPAN SANTUN? GUE UDAH BERAPA KALI SI BILANG KALO GUE NGGA PERNAH DI AJARIN SOPAN SANTUN SAMA SEKALI SAMA KALIAN!"
Tasa benar-benar hilang kendali. Ia berjalan pada vas bunga yang anteng di meja dekat tangga. Vas bunga itu di ambil oleh Tasa dan dilemparkannya dengan keras tepat di depan kedua orang tuanya.
"LIHAT! INI YANG SELAMA INI KALIAN AJARIN KE GUE! APA ITU NAMANYA SOPAN SANTUN YANG SELALU KALIAN TANYAIN KE GUE?" Tunjuk Tasa pada vas bunga yang hancur di lantai.
Julia hanya bisa menangis. Ia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan. Galang, hanya menatapnya tak percaya.
"Orang tua macam apa kalian ini?" Ucap Tasa penuh penekanan. Kemudian Ia berlalu meninggalkan keduanya kekamar. Tak lupa menutup pintu kamar dengan kencang.
"ARGH!!!" Teriaknya menggelegar memenuhi kamar yang tak kedap suara. Ia yakin kedua orang tuanya mendengar teriakannya. Ia membuang barang-barang di meja belajarnya. Kemudian berhenti, tatkala Ia akan membuang jaket milik Reyhan yang belum Ia kembalikan.
Saat itu, Ia terbawa emosi, hingga hanya membawa obat Reyhan tanpa jaketnya.
Melihat jaket itu, memori tentangnya dan Reyhan berputar begitu saja. Membuat perasaan Tasa berantakan tak karuan. Tasa melempar jaket itu pada kasur, dan memukulnya brutal. Sampai Ia terduduk lemas di lantai kamarnya yang dingin.
Dengan memeluk jaket Reyhan Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali pertikaiannya dengan Reyhan malam itu.
Dan tadi Ia sempat mendengar cerita kenapa Ibu Sabrina bisa meninggal. Yaitu karena penyakit gagal ginjal.
Satu fakta itu membuat hatinya semakin merasa bersalah. Jika saja bisa memutar waktu, maka Tasa akan kembali pada waktu itu. Lalu Ia akan mendengarkan penjelasan Reyhan malam itu, sebelum Ia marah-marah tak jelas.
~
Tue, Aug 23-22
12.25
-sibuk banget besti
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope Not
Teen FictionTidak ada yang mudah didunia ini, semuanya sangat sulit. Jika ingin yang mudah dan menyenangkan, maka kamu harus berjuang dulu. -Sun, Jun 26-22 -6.36 End -Mon, Oct 24-22 -8.10
