~
Pagi-pagi sekali, Tasa sudah dibangunkan dengan suara cekcok dan berbagai macam piring pecah. Ia terkejut, karena suara itu terdengar begitu dekat. Ia lantas membuka pintu kamarnya dengan marah. Marah karena orang tuanya yang sangat brutal ketika berdebat.
Prang! Satu buah vas bunga terlempar, tepat mengenai kepalanya. Tasa memejamkan matanya. Kepalanya pening seketika. Darah mengalir melewati pelipisnya. Ada satu goresan lumayan dalam di ujung jidatnya. Ia hampir saja terjatuh jika tidak berpegang pada pintu.
Cekcok berhenti seketika. Kedua orang tua itu telah menyebabkan anak tidak bersalah mereka terkena amukan emosi mereka.
Julia langsung menghampiri Tasa karena khawatir. Ia ingin melihat luka yang didapatkan putrinya akibat vas bunga lemparan Galang. Ketika Ia akan menyentuh Tasa, gadis itu langsung menangkisnya dan mundur. Urat amarah kembali muncul. Julia mendekat ke arah Galang dan menamparnya keras.
Plak!
"LIHAT! GARA-GARA KAMU ANAK AKU JADI LUKA!"
Tasa menghela nafas lelah. Bahkan ketika Ia terluka orang tuanya masih saja berantem. Ia lelah, akhirnya Ia kembali masuk ke kamar. Dengan kencang Ia menutup pintu itu.
Brak!
Melihat itu, Julia kembali menghampiri putrinya. Ia mengetuk pintu berkali-kali dan memanggilnya. "Tasa, ayo kita ke dokter dulu sayang di obatin dulu itu lukanya."
Namun seolah tuli, Tasa membiarkannya. Ia mencoba mengobatinya sendiri.
~
"Bang!" Raina berlari menghampiri Reyhan yang hampir terjatuh. Mereka baru saja melakukan sholat subuh berjamaah. "Lo kambuh?"
Reyhan menggeleng pelan. Perlahan, Ia mencoba berdiri sendiri dan duduk pada pinggiran kasurnya. Mereka berjamaah di kamar Reyhan, karena kamarnya yang selalu bersih. "Gue ngga tahu, akhir-akhir ini sering lemes sendiri."
Raina yang masih memakai rukuh, memberikan segelas minum kepada Reyhan. Reyhan menerimanya dan meminum hingga setengah. "Mau langsung control?"
Lagi, Reyhan menggeleng. Ia tidak ingin bolos sekolah, walaupun itu demi kesehatannya Ia tidak ingin.
"Yaudah istirahat dulu aja di sini, biar gue buatin bubur. Waktu buat siap-siap sekolah juga masih banyak." Raina melepas rukuhnya. Kemudian Ia keluar kamar Reyhan bersiap untuk membuat bubur.
~
Waktu sekolah tiba. Reyhan terkejut, ketika Tasa datang dengan topi yang membalut kepalanya. Pasalnya, ini adalah kali pertamanya. Biasanya Tasa tidak mengenakan apapun, dan membiarkan rambutnya terurai begitu saja.
"Hana, lo ngga apa-apa?" Tanya Reyhan begitu Tasa duduk di bangku sebelahnya.
Gadis itu tertegun. Hanya Reyhan lah satu-satunya orang yang menanyakan keadaan gadis itu di pagi ini. Gadis itu menghela nafas lelah. Kemudian membuka topinya perlahan. Ia sedikit meringis saat membukanya.
Reyhan membuka mulutnya terkejut. Dibalik topi gadis itu, ada perban yang sengaja Ia sembunyikan. Perlahan tangan Reyhan mengusapnya pelan. "Ini kenapa?"
Lagi, lagi Tasa tertegun dengan pertanyaan Reyhan. Sikap lembut dan perhatian Reyhan semakin membuatnya jatuh hati terhadap pria ini. "Ngga sengaja kena vas bunga lemparan papa."
Reyhan menatap mata hitam itu lekat. Ia seperti melihat dirinya dahulu ketika melihat tatapan lelah itu. Kemudian Reyhan mengambil topi di genggaman Tasa dan memakaikannya pelan. Sampai Tasa tak meringis sedikit pun. Namun sebelum itu, Ia meniupnya sekali dan tersenyum. " Siapa yang ngobatin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope Not
Fiksi RemajaTidak ada yang mudah didunia ini, semuanya sangat sulit. Jika ingin yang mudah dan menyenangkan, maka kamu harus berjuang dulu. -Sun, Jun 26-22 -6.36 End -Mon, Oct 24-22 -8.10
