~
"Rey! Mau langsung pulang?" Ucap Hana begitu keduanya sampai didepan gerbang rumahnya.
"Iya Hana, maaf." Balas Reyhan dengan nada lembut. Ia melihat harapan yang sangat ketara di manik mata Tasa.
"Oke, ngga apa apa. Hati-hati!" Tasa memundurkan langkahnya, dan melambai.
"Iya, makasih." Reyhan menutup kembali kaca helm nya dan pergi meninggalkan Tasa dengan harapannya.
"Gue, benaran di tolak?" Tanya Tasa entah pada siapa. Ia menunjuk dirinya sendiri. Menatap motor Reyhan yang semakin menjauh.
"Ku kira hubungan kita special." Gumam Tasa pelan, lalu memasuki rumah.
~
Sesampainya dirumah, Reyhan segera berlari ke lantai atas menuju kamar mandi di kamarnya. Kemudian memuntahkan semua isi perutnya. Rasa mual dan sesak itu sudah Ia tahan sejak pulang dari rumah Tasa.
Raina yang mendengar kegaduhan dari Reyhan menghampiri kamarnya. Kebetulan pintunya terbuka lebar, tanpa pikir panjang Raina segera masuk kedalam. Kosong, Ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang juga terbuka, lalu berjalan kesana.
"Bang!" Teriaknya kala melihat Reyhan yang memuntahkan semua isi perutnya. Ia berjalan dan berniat membantu. Namun suara Reyhan menghentikan langkahnya.
"Jangan! Keluar! Nanti lo jijik Rai." Reyhan berkata panik bercampur lemah. Setelah mengatakan itu, Ia lanjut muntah. Rasa sesak kian terasa membuatnya sulit mencari pasokan udara. Badannya pun kian lemas.
"Gue ngga peduli!" Tasa berdecak kemudian menghampiri Reyhan. Ia memijat pelan tengkuk Reyhan, membantunya mengeluarkan isi perut nya.
"U-udah." Ucap Reyhan lirih. Ia segera menyiram muntahannya. Kemudian membasuh wajahnya yang pucat. Tangannya begitu dingin dan berkeringat. Ia keluar kamar mandi di bantu oleh Raina.
Raina dengan telaten membantu Reyhan. Ia melepas tas Reyhan yang masih tergantung di pundaknya. Membantu melepas sepatunya juga. "Mau ganti baju dulu apa langsung tidur bang?"
"Tidur aja." Reyhan benar-benar lemas. Rasa sesak itu belum menghilang. Ia terus membuka mulutnya untuk membantu bernafas.
Raina membantu Reyhan berbaring. Tapi tak lama kemudian, Reyhan mendudukkan badannya lagi. "Kenapa bang?" Ucapnya kawatir.
"Sesak Rai." Reyhan berkata lirih. Ia memukul pelan dadanya yang langsung dicegah oleh Raina. Ia menatap adiknya itu sendu.
"Jangan, nanti tambah sakit. Mau ke rumah sakit?" Raina berkata lembut. Jujur Ia menahan air matanya sejak tadi. Rasanya menyakitkan sekali melihat sang abang terlihat lemah seperti ini.
Reyhan menggeleng. Ia mulai memejamkan mata, mulutnya senantiasa terbuka. Jadilah Ia tidur dengan posisi bersandar pada sandaran kasur.
Raina dengan inisiatif nya menyelimuti Reyhan sampai batas dada. Kemudian Ia naik pada kasur disebelahnya. Merebahkan diri disana dan merangkulkan tangannya pada pinggang Reyhan. Ia ikut memejamkan mata dikamar Reyhan. Saat itu juga air matanya turun. Kini Ia menahan isakan agar tidak keluar.
Genggaman Raina pada pinggang Reyhan mengerat. Seolah tak ingin kehilangan. Reyhan merasakan itu. Bahkan Raina menangis dalam diam pun Reyhan tahu, karena suara ingus yang sangat ketara. Dalam hati Reyhan benar-benar memaki dirinya yang tak becus menjadi abang. Tapi dilain sisi Ia juga bersyukur bahwa yang sakit ialah dirinya bukan Raina.
~
"Gue di tolak Fen." Ucap Tasa dengan wajah lesu.
Kini Tasa sedang duduk berdua dengan Fendi di ruang tamu rumah Fendi. Kurang lebih sudah lima belas menit an Tasa bertamu disini. Waktu lima hari kemarin benar-benar sangat di manfaatkan oleh Fendi untuk mengenal lebih jauh seorang Tasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope Not
Novela JuvenilTidak ada yang mudah didunia ini, semuanya sangat sulit. Jika ingin yang mudah dan menyenangkan, maka kamu harus berjuang dulu. -Sun, Jun 26-22 -6.36 End -Mon, Oct 24-22 -8.10
