14. You Smile Like You Love Me

1.8K 270 28
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ruangan itu didominasi oleh warna hitam, bertolak belakang dengan warna beige dan coklat yang seakan mendominasi seisi rumah di luar ruangan ini. Benar-benar hanya ada kegelapan di ruangan ini. Jika saja tidak ada pencahayaan melalui lampu LED strips di sela bawah tempat tidur, maka kamar ini bisa dipastikan sangat terlihat mengerikan. Prilly seakan dipaksa untuk mengerti bahwa suaminya memang memiliki sisi segelap kamar ini yang mungkin saja tidak diketahui oleh dirinya. Dia suka berkali-kali keluar-masuk kamar, tetapi masih saja tidak bisa untuk tidak bergidik ngeri. Bagi dirinya yang sangat menyukai warna-warna lembut dan tenang, kamar tidur ini terasa menegangkan baginya. Dan di saat dirinya merasa ketakutan sekadar untuk berbaring di tempat tidur, suaminya sudah jatuh terlelap dengan damainya dalam balutan bedcover hitam.

"Gila, ya? Bisa-bisanya dia kepikiran buat kamar segelap ini dan dia bisa tidur nyenyak!" Dengan sepasang tangan berkaca di pinggang, Prilly menggerutu keras meski tahu jika gerutunya tidak bisa didengar oleh suaminya. Enggak kebayang deh ini kalau token habis malem-malem dan suprise! Seisi kamar makin gelap gulita!" Dan dia masih menggerutu tanpa segan dengan angka yang tertera di jam digital yang berada di atas nakas. "Enggak bisa sih ini. Gue harus minta satu ruangan untuk gue kerja kalau gini," katanya sambil berlalu dari area kamar tidur.

Prilly berdiri di luar kamar dengan napas yang terhela, terdengar amat lega. "Baru bisa napas normal gue, Tuhan. Apa gue tidur di kamar tamu aja, ya?" Sambil bermonolog, Prilly berjalan menuju sisi rumah yang lain, membuka pintu berwarna putih yang terletak di samping tangga. "Setidaknya ada satu kamar yang bisa buat gue tidur nyenyak," gumamnya terlihat amat lega ketika mendapati nuansa teduh dan hangat pada kamar tidur tamu tersebut. Kamar tidur tersebut tidak terlalu besar dengan nuansa putih dan coklat hangat, tetapi masih minim furniture. "Ini kalau furniture-nya udah lengkap, gue minta jadi kamar gue."

Dia mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur dengan mata yang menatap plafon tanpa berkedip. "Seharusnya enggak begini, Jo. Seharusnya lo enggak tersenyum seperti lo mencintai dia."

Malam itu Prilly menghabiskan waktu sebelum tidurnya dengan mengajak dirinya sendiri berbicara, memikirkan banyak hal hingga terkadang dia tertawa atau mengomel sendiri, meninggalkan Ali yang matanya langsung terbuka ketika pintu kamar ditutup pelan oleh istrinya beberapa saat yang lalu. Dia mengubah posisi berbaringnya dengan mata yang menatap plafon polos di atas sana. Tangannya meraba sisi nakas, meraih remote control untuk mengatur sesuatu. Tak lama, remot itu kembali ia letakkan di atas nakas disusul plafon kamar yang terbuka, memperlihatkan atap kaca yang tembus pandang. Ali memperbaiki posisi berbaringnya dengan jari yang saling bertaut di depan dada. Pukul sepuluh malam dan ini bukan jam tidur normalnya. Biasanya di jam ini, Ali masih berada di kantor, sibuk membuat menggambar atau merevisi desain melalui komputer. Dan dia baru akan pulang ketika jam mengarah ke jam dua belas, mengemudi seorang dari Pondok Indah menuju Bekasi dengan jalanan ibu kota yang sejujurnya tidak pernah tertidur. Hal itu, sudah menjadi rutinitasnya sejak masih di bangku kuliah. Perbedaannya, Ali dulu pulang larut malam karena kegiatan kampus ataupun kegiatan di luar kampus yang tidak pernah ada habisnya atau memang dia sejak dulu tidak pernah mau pulang lebih awal ke rumah meski kegiatan di luar rumah selesai lebih cepat.

BUBUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang