Dilihat sederhana.
Namun, kau akan tertatih jika jadi aku.
_____________
Ali sudah sadar. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut. Kelopak matanya berkedip lemah dengan pandangan mata yang tidak jelas. Dia hanya bisa melihat siluet seorang perempuan yang berdiri di sisi ranjang yang tengah menarik sesuatu dari salah satu jarinya. Kesadaran Ali tidak bertahan lama. Ketika benda tersebut diletakkan di atas nakas, Ali kembali kehilangan kesadarannya begitu saja dengan mulut yang belum sempat menyapa orang tersebut.
Terhitung sudah lima hari sejak Ali dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan dan lepas dari beberapa alat yang memenuhi tubuhnya. Namun, kondisinya belum bisa dikatakan baik-baik saja setelah lima hari keluar dari ICU. Dalam artian stuck di kondisi yang sama dan masih sama mengkhawatirkannya. Syifa sendiri masih berjuang untuk kesembuhan sang putra. Berbeda dengan beberapa minggu belakangan ini, dia tidak lagi ditemani oleh seseorang. Tidak ada lagi yang mengabarinya untuk menunggu kabar sang putra meski hanya bisa menunggu di ruang tunggu ICU. Syifa benar-benar mengurus Ali sendiri.
Dan pagi ini, dia resmi menerima berita yang tidak mengenakan. Prilly, sang menantu, yang dua minggu terakhir ini sudah tidak pernah lagi datang menjenguk tiba-tiba saja memberinya kabar duka.
"Aku keguguran, Ma." Berita itu disampikan langsung oleh Prilly yang pagi itu memang meminta bertemu dengan Syifa di taman rumah sakit. Perempuan itu hadir sambil menyeret tiang infusnya. "Aku kehilangan anak kami," tambah Prilly kemudian.
Wajah Prilly terlihat amat pucat dan tidak sesegar biasanya. Matanya tampak lelah dengan bibir yang terlihat kering.
"Jo, what's happend?" Karena sejujurnya Syifa tidak mendapat kabar apa-apa. Dia hanya berpikir bahwa ketidakhadiran Prilly selama dua minggu terakhir ini karena kondisi sang menantu sedang tidak baik. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Zahwa kepadanya. "Umi bilang kamu sakit."
"Ya, aku sakit, Ma. Karena baru saja operasi pembersihan. Aku minta maaf karena nggak bisa menjaga calon anak kami dengan baik. Aku berusaha, tapi aku lagi-lagi gagal. I've try my best dengan seluruh upayaku, tapi aku nggk bisa," ujar Prilly kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang dikenakannya. Diletakkannya sebuah amplop coklat ke atas tangan sang mertua yang ia tarik pelan. "Aku gagal jadi istrinya Mas. Aku nggak bisa ngurus Mas dengan baik. Maka dengan itu, aku minta maaf sebesar-besarnya. Tolong bilang ke Mas, aku mau lepas, Ma. Maaf sekali lagi." Dan Prilly langsung beranjak setelah amlop coklat itu berada di tangan sang mertua.
Dia pergi dengan langkah yang pelan meninggalkan taman rumah sakit.
Demi kewarasan yang sulit untuk ia gapai, Prilly merelakan sesuatu yang lain demi kehidupannya esok hari.
Dia tidak akan menangis. Dia tidak akan menyesali semuanya. Sudah seharusnya ini semua diakhiri.
Surat pernyataan cerai sudah ia buat dan ia titipkan kepada sang mertua. Selanjutnya, mungkin dia akan bertemu kembali dengan sang suami di persidangan pertama mereka. Atau mungkin ... mereka tidak bertemu sama sekali. Karena Prilly tidak berniat untuk hadir selama persidangan, terlebih untuk mediasi.
Mereka tidak boleh bertemu lagi. Prilly takut goyah. Dia takut tergoda untuk memeluk pria itu ketika nanti mereka bertemu. Sebab, dia terlalu sayang. Rasanya terlalu besar kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUBU
FanficPrilly Zoravanya tak menyangka bahwa kehadiran Ali Sandya Naratama mampu membangkitkan semua luka di masa lalunya.
