"Memangnya keberhasilan seseorang ditentukan dari seberapa banyak dia menaklukkan hati seseorang?"- Ali Sandya
╺╼╼╼╼❁⿴⃟͜᷼᎒⃟❒۪۪༘❁╺╼╼╼╼
Ali Sandya Naratama
⸾〬ꦿ҂⃨
╺╼╼╼╼❁⿴⃟͜᷼᎒⃟❒۪۪༘ ❁╺╼╼╼╼
"Terima kasih, Pak Damar."
"Eh? Iya, sama-sama, Tuan muda."
Pria dipanggil pak Damar itu mengangguk sungkan pada anak majikannya yang baru saja turun dari mobil SUV yang dikendarainya. Padahal ini bukan kali pertama anak majikannya itu mengucapkan terima kasih. Namun, tetap saja pak Damar merasa dia sungkan menerima ucapan tersebut.
Ali Sandya, pria berumur 31 tahun itu tidak langsung masuk ke dalam rumahnya setelah turun dari mobil. Pria itu duduk di kursi pelataran dan melepas sepatu yang kantor—— yang sebenarnya hanya dipakainya ketika pergi ke kantor, ketika keluar dari ruangannya, dan ketika pulang dari kantor itu di sana. Mamanya paling tidak suka jika para anggota keluarga masuk dengan sepatu atau sandal yang sudah dibawa keluar dari rumah. Kotor, kata mamanya.
"Assalamualaikum? Mama?"
Ali menjinjing sepasang sepatunya ketika sudah menginjakkan kaki di dalam rumah. Meski ribet karena harus menjinjing tas laptop juga sebenarnya. Namun, mending ribet daripada terkena omelan tak berujung dari nyonya rumah.
"Di dapur, Le."
Begitu mendengar sahutan mamanya dari arah dapur, Ali meletakkan sepatunya sebentar di samping tangga untuk menyapa mamanya sebentar.
"Mama ada kegiatan apa aja hari ini?"
Ali menyimpan tas mackbooknya di atas meja bar dan mengambil langkah mendekati wastafel untuk membersihkan tangan dan juga wajahnya.
"Tadi pagi ada pengajian terus siangnya ada wirid. Jangan minum air dingin," Syifa mencubit pinggang putranya ketika mulai membuka kulkas. Syifa sangat tahu apa yang dicari Ali di dalam sana.
"Sakit, Ma. Siapa sih yang mau minum air dingin? Mas mau ambil buah kok," elak Ali dan pura-pura celinga-celinguk melihat isi kulkas.
"Ngapain buka kulkas? Nih, di meja ada buah. Alasan terus kamu ya, Le."
Karena tahu alibinya tidak berhasil, Ali pun segera menutup kembali pintu kulkas yang tadi dia buka. Ya, dia memang berniat untuk meminum satu atau dua teguk air dingin sehabis pulang kantor.
"Masak apa, Ma?"
"Ayam bakar. Cuma Mama mau buat perkedel lagi. Tolong kupas kentang ya, Le?"
"Oke. Mas ganti baju dulu, ya? Nggak lama kok."
Setelah mengambil tangan mamanya untuk dia cium, Ali pun langsung berlalu meninggalkan Syifa yang terkejut. Padahal tangannya kotor. Kenapa anaknya itu selalu saja membuat Syifa kaget seperti ini?
Sesampainya di dalam kamar, Ali langsung mengisi daya baterai mackbook yang tadi belum terisi penuh selama di kantor. Pekerjaan di kantor hari ini tidak terlalu banyak hingga Ali meluangkan waktunya sedikit untuk menyusun melihat hasil desain dari rumahnya yang belum juga selesai dibangun di mackbooknya. Ali sudah sangat ingin pindah rumah, karena jarak rumah orang tuanya ke biro tempat dia bekerja terlalu jauh. Bekasi-Jakarta Pusat. Belum lagi jika macat, maka sebagian waktunya akan habis di jalan. Sebenarnya bisa saja dia menyewa satu unit apartement di dekat kantor. Namun, Ali sama sekali tidak tertarik untuk tinggal di apartement.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUBU
FanfictionPrilly Zoravanya tak menyangka bahwa kehadiran Ali Sandya Naratama mampu membangkitkan semua luka di masa lalunya.
