28. Duka tanpa Aba-aba

1.3K 220 22
                                        

Siang itu, Prilly memutuskan untuk menghampiri Audy ke rumah setelah aksi diam sahabatnya tersebut terhitung sejak ia meminta Atha untuk berhenti mengikuti media sosial milik Audy. Kedatangannya disambut oleh saudara Audy yang membukakan pintu untuknya. Seorang Jeffry Rahardian menyambut kehadirannya, sosok yang dulu sempat ia idolakan saat masih duduk di bangku sekolah.

"Siang, Mas," sapanya dengan senyum. Kalau ini dulu, jangankan tersenyum, menyapa Jeffry saja ia tak berani.

"Oh, siang, Prilly. Cari Audy? Ada di dalam." Jeffry mempersilahkannya untuk masuk. Pria itu menyingkir dari daun pintu, kemudian menggerakkan tangannya ke dalam rumah. "Nggak lupa slogan di rumah ini, kan? Anggap aja rumah sendiri ya. Saya panggil Audy dulu."

Kemudian sosok Jeffry berlalu, meninggalkan Prilly seorang diri di ruang tamu besar tersebut. Sekali lagi, jika ini dulu maka Prilly tidak akan sungkan berjalan ke sana dan ke mari saat berada di rumah milik keluarga Rahardian ini. Namun sekarang, dia tidak bisa melakukan hal yang sama dikarenakan sudah lama tidak berkunjung ke mari terhitung sejak tamat dari bangku SMA.

"Heh!"

Prilly tersentak ketika mendengar suara tak sopan tersebut. Dia mendapati Audy berdiri tak jauh darinya sedang memutar bola matanya, terlihat jengah.

"Nggak usah sok kaku deh. Sini!"

Dia akhirnya bangkit, mengikuti Audy ke bagian rumah yang lebih dalam yakni kamar perempuan itu yang berada di lantai 2. Saat berada di lantai 2, dia lagi-lagi berpapasan dengan Jeffry yang tampaknya sudah siap untuk pergi ke acara formal. Prilly mengangguk singkat ketika matanya tak sengaja bertemu tatap dengan mata milik Jeffry.

"Mas lo udah nikah?" Prilly baru berani bertanya ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar.

"Selama lo belum dapat undangan dari dia, berarti belum."

"Serius? Kok bisa?"

"Gay kali. Udah 35 nggak kawin-kawin. Kerja mulu isi kepalanya."

Jika saja saat ini Prilly tengah memegang sesuatu di tangannya, mungkin ia takkan segan untuk menimpuk kepala Audy dengan benda di tangannya.

"Makin cakep sih mas lo itu, Dy."

"Iya, bang Atha juga makin cakep."

Kemudian dia dan Audy saling tatap sebelum mereka tertawa bersama. Audy menghampiri Prilly yang duduk di pinggir ranjangnya. Dipeluknya ibu hamil tersebut dengan erat.

"Lo takut kehilangan gue makanya datang ke sini?" Yang segera mendapat anggukan dari Prilly.

"Gue nggak punya sahabat lagi."

"Gue nggak ada apa-apa sama bang Atha. Cuma bercanda doang. Kemarin cuma kesel sebentar sama lo."

"Lo biasanya bawel."

"Kan gue kesel."

Kemudian pelukan itu terurai. Prilly dengan pelan rebahan di ranjang ukuran besar milik Audy, sedangkan Audy pergi ke bagian kamarnya yang lain untuk beberapa saat dan kembali dengan sebuah tas kertas di tangannya. Tas kertas itu diletakkan di kabinet, kemudian Audy bergabung bersama Prilly rebahan di atas kasur.

"Gue dulu sempat mikir kalau lo sama Jeffry itu jodoh. Karena bisa-bisanya lo sama dia lahir di tanggal dan bulan yang sama. 14 Februari. Anak valentine banget."

"Ya ... buktinya nggak jodoh."

"Iya. Udah paling bener lo sama suami lo yang sekarang. Kalau sama Jeffry, lo bakal ditinggal kerja luar negeri terus."

"Memangnya lo bakal kasih restu seandainya gue sama mas Jeffry?"

"Kasihlah! Orang tua gue juga ngasih restu kok. Cuma lonya aja yang cinta mati sama Adam."

BUBUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang