Prilly tidak percaya dengan adanya reinkarnasi. Meski dari kebanyakan drama Korea yang ditontonnya selalu menyinggung tentang kepercayaan mereka terhadap reinkarnasi, Prilly tetap tidak mempercayainya. Namun hari ini, dia tiba-tiba saja mempertanyakan sesuatu yang sering dipertanyakan oleh beberapa tokoh di drama Korea.Bunyinya, "kebaikan apa yang sudah dia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai dia mendapatkan keberuntungan seperti ini?" Pertanyaan seperti itu tak seharusnya terbesit di pikiran Prilly, karena dia tidak mempercayai adanya reinkarnasi. Akan tetapi, karena terus menerus mendapatkan perhatian berlebih dari suaminya, Prilly merasa dia terlalu beruntung untuk mendapatkan ini semua: perhatian, kasih sayang, dan kehangatan dari pria yang sama sekali tidak bisa dia balas perasaannya. Tidak seharusnya dia menerima semua kebaikan ini di saat dia tidak melakukan banyak kebaikan selama 25 tahun masa kehidupannya.
Bagaimana tidak? 3 jam sebelum keberangkatan mereka ke bandara, Ali sudah menyiapkan segala kebutuhan Prilly tidak terkecuali baju yang akan dikenakan Prilly selama berada di pesawat, hidang makanan yang akan mereka makan sebelum berangkat menuju bandara, dan juga membangunkan Prilly di saat semuanya sudah selesai. Di saat Prilly masih terlihat berantakan sehabis bangun dari tidur siangnya, Ali justru sudah duduk rapi di kursi meja makan sambil memainkan game di iPad miliknya. Hal tersebut membuat Prilly membantu sesaat, sebelum matanya melihat jam dinding. Tangannya menutup pintu kamar tamu, kemudian menghampiri Ali sambil menguap beberapa kali. Siang menjelang sore yang sejuk. Ali bahkan membuka semua akses bukaan di ruangan, mematikan AC hingga udara dari luar masuk dengan leluasa.
"Mas? Kamu kok udah rapi?" Prilly menari kursi meja makan tanpa tenaga, kemudian duduk di sana sambil menuangkan air minum ke dalam gelas. "Kenapa baru banguni aku jam segini? Aduh, aku ngantuk banget," katanya lagi yang dengan segera menutup mulutnya.
"It's ok. Kamu mandi gih, biar kita langsung berangkat. Takutnya macet."
"Ini kan, hari Senin."
Dengan mata yang masih serius menatap layar iPad, Ali menjawab, "Jakarta nggak kenal hari Senin atau Sabtu untuk buat jalanan macet, Jo."
"Oh, oke. Ini apa, Mas?" Jari Prilly menunjuk hidangan yang tersaji di atas piring. "Iya, aku tahu ini sawi. Tapi, dalamnya ini apa?"
"Isinya daging ayam. Hanya menu itu yang bisa saya masak dengan rasa percaya diri."
"Oke, makasih, Mas."
Tanpa banyak berkomentar, Prilly menikmati hidangan makan siangnya dalam porsi yang lebih sedikit dari biasanya dengan ditemani oleh Ali yang masih larut dalam permainannya yang tidak kunjung selesai tersebut. Di sela kunyahannya, Prilly asyik menatap figur suaminya yang tampak tenang meski jarinya bergerak dengan cepat seperti sedang memburu target.
"Mas, mau nanya. Boleh?"
"Hem. Apa itu?"
"Kamu main game apa, sih?"
"PUBG." Dan ditanggapi dengan oh oleh Prilly.
"Kok kamu nggak marah-marah? Abangku aja kalau main game itu kadang sampai ngomong sendiri. Kesel katanya."
"Saya main game untuk lepas stress, bukan untuk semakin stress."
"Ohhh. Mau nanya lagi, boleh?"
"Hem."
"Mas merokok, nggak?"
Ali menggeleng. "Saya vape kalau lagi banyak kerjaan dan butuh inspirasi untuk projek. Kenapa? Kamu anti laki-laki merokok dan yang sukanya ngevape?" tanyanya diikuti kepalanya yang terangkat dari layar iPad, berganti menatap Prilly yang juga sedang menatapnya dengan sendok menggantung di dekat mulut. "Serius, Jo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BUBU
FanfictionPrilly Zoravanya tak menyangka bahwa kehadiran Ali Sandya Naratama mampu membangkitkan semua luka di masa lalunya.
