9|•°•|Stalking Disaster

2.8K 461 59
                                        

Ali kembali ke pinggir pantai tempat Prilly berada dengan dua botol minuman di tangannya. Sejak insiden beberapa menit yang lalu, perempuan itu lebih banyak diam. Ali antar ke kamar hotel pun, Prilly menolak. Katanya mau duduk di pinggir pantai saja. Karena tahu emosi perempuan itu belum stabil, Ali pergi untuk membeli minuman agar Prilly meneguk beberapa teguk air untuk meredakan emosinya. Ali menarik celananya terlebih dahulu agar dia duduk lebih nyaman di atas hamparan pasir pantai tanpa alas apa-apa. Tangan kanannya mengelurkan satu botol yang segelnya sudah dia buka kepada Prilly yang diterima perempuan itu tanpa pikir panjang.

"Udah lebih tenang?" Ali baru mengeluarkan suara setelah perempuan di sebelahnya meneguk minuman yang tadi dia berikan.

"Hm, saya merasa aneh menjadi pusat perhatian seperti tadi. Itu... memalukan."

Ali memerhatikan wajah Prilly dari samping dengan begitu seksama. Ada keterkejutan yang masih bisa dibaca dari raut wajah perempuan ini. Ada juga sekelebat kepedihan yang tak bisa perempuan ini sembunyikan dengan baik. Ali menangkap dua hal tersebut secara jelas. Ketika beberapa waktu yang lalu Ali melihat Prilly tengah menjadi pusat perhatian, karena mendapat fitnah-Ali menolak untuk percaya jika anak sahabat mamanya ini menjadi perusak rumah tangga orang-Ali seakan kehadirannya dibutuhkan oleh seorang Prilly Zoravanya. Sepasang mata Prilly yang beberapa waktu lalu penuh dengan kegetiran menatapnya dengan lama. Perempuan itu hanya menatapnya, tepat di sepasang matanya. Ali bisa merasakan itu.

"Kamu kenal mereka?"

Ali melihat Prilly tersenyum pedih sebelum perempuan itu bersuara dengan tidak meninggalkan kesan pedih di suaranya. "Yang laki-laki, mantan saya. Yang perempuan, si pengkhianat."

Awalnya Ali sudah berpikir jika hubungan ketiganya tidak membaik karena ada pengkhianatan klise tentang percintaan. Namun, sepertinya Prilly tidak mengizinkannya hanya dengan mengganggap itu pengkhianatan biasa, yang lukanya bisa sembuh jika sudah menemukan sosok lain di masa yang akan datang.

"Brutus di dalam kehidupan saya. Perempuan itu-orangnya."

Nama Marcus Junius Brutus tentu saja tidak asing lagi di indera pendengaran Ali. Terlebih ketika Ali mendengar nama itu, ada nama lain yang sepertinya tidak mau ketinggalan untuk menyerbu ingatannya yakni, Julius Caesar, penguasa Republik Romawi. Membaca kisah keduanya yang saling berkaitan sebenarnya menimbulkan rasa tidak nyaman di hati Ali. Berbicara tentang pengkhianatan memang tidak akan pernah terdengar menyenangkan, tentu saja. Selama Ali hidup hampir 32 tahun ini, dia hanya memiliki Dipta sebagai sahabatnya. Hanya Dipta. Satu harapan Ali sejak bersahabat dengan Dipta atau lebih tepatnya ketika dia selesai membaca kisah tragis Julius Caesar dan Mercus Junius Brutus : Ali tidak ingin menjadi sosok Brutus di kehidupan Dipta dan dia berharap Dipta juga tidak melakukan itu kepadanya.

"Di khianati sahabat, karena cinta memang sangat luar biasa pedihnya, Mas. Akan tetapi, difitnah oleh sahabat sendiri sebagai pencuri, mungkin hanya perempuan itu yang mampu melakukannya dengan baik."

Ali terenyak ketika suara Prilly menyelusup masuk ke alam bawah sadarnya. Kepala Ali menoleh pelan dan mendapati ekspresi getir yang lebih dalam lagi di wajah Prilly. Perempuan itu menatap ombak yang bergulung di depan sana dengan senyum kecil yang terlukis tipis di bibirnya. Rambut perempuan itu berantakan di terpa angin. Saat itu Ali merasakan sesuatu yang berdenyut nyeri di bagian jantung terdalamnya.

Ada yang berusaha untuk kembali hidup meski lemah. Ali tidak bisa menapik nyeri ini. Nyeri yang tidak lagi hidup setelah kepergian Kaluna. Pun sepasang matanya tidak pernah selancang ini, menatap perempuan yang bukan mahramnya tanpa berkedip sama sekali, lengkap dengan senyum yang terpatri setia di bibirnya. Ali tahu ini tidak benar. Arah pandangannya harus segera beralih ke mana pun, asal tidak ke arah perempuan dengan wajah sendu di sisinya ini.

BUBUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang