20. Someone Who's mine, but ...

1.8K 252 28
                                        

Sebelum menikah, jika ditanya apakah dia baik-baik saja dengan hubungan jarak jauh, mungkin Ali akan mengatakan iya dengan yakin tanpa berpikir panjang. Jarak bukan persoalan yang harus dipermasalahkan atau diperdebatkan. Dia oke, karena berpikir jika hanya masalah kepercayaan, Ali bisa memberikan kepercayaan dia yang miliki untuk pasangannya dan tidak mau repot-repot memikirkan apakah pasangannya setia atau tidak. Namun sepertinya, kepercayaan bukanlah satu-satunya yang harus dipertahankan, melainkan ada komunikasi yang sering dipandang sebelah mata. Menikah dengan Prilly Zoravanya membuat Ali paham bahwa LDR tidak bisa berlaku di hubungan mereka. Dulu sebelum menikah, Ali mungkin bisa bilang dia tidak keberatan dengan LDR. Akan tetapi, dia sadar bahwa yang ia nikahi adalah Prilly Zoravanya, perempuan yang benar-benar bodo amat dengan orang lain, tidak suka ditelpon, sulit untuk dihubungi, dan terlalu cinta dengan dirinya sendiri. Hanya Lima hari, kepala Ali sudah dibuat nyaris meledak jika bisa. Emosinya dibuat naik-turun dengan sifat Prilly yang suka menghilang dan tidak paham bahwa Ali ingin tahu kabar perempuan itu di Jakarta setidaknya sekali dalam sehari.

Di hari Keenam, Ali menyerah. Jujur, dia tidak bisa lagi terlebih ketika tahu bahwa saat ini Prilly sedang hamil dan masih dalam perawatan di rumah. Minggu subuh, dia checkout dari hotel menuju Bandar Udara Tjilik Riwut untuk mengambil penerbangan paling awal. Prilly terlalu banyak mengusik sisi tenang di dalam dirinya. Padahal biasanya Ali paling tidak bisa pulang ke Jakarta sebelum pekerjaannya di luar kota benar-benar rampung. Namun, kali ini dia pulang satu hari lebih cepat. Untungnya kali ini Dipta tidak terlalu banyak mengomel seperti biasa. Pukul enam lewat lima belas menit, pesawat mengudara menuju Jakarta dalam waktu tempuh selama dua jam kurang lebih. Waktu selama penerbangan, Ali habiskan untuk tidur karena tadi malam dia tidak bisa tidur setelah mendapat kabar dari Adza bahwa Prilly kembali demam tinggi.

Pukul delapan lewat, pesawat mendarat di Soekarno-Hatta tanpa hambatan. Masih dengan muka bantal dan mata mengantuk, Ali mengikuti penumpang yang mulai meninggalkan pesawat satu per satu. Matanya menyipit ketika melihat cerahnya matahari di langit Jakarta. Selesai mengurus bagasi miliknya, Ali bergegas memesan taksi online dan berharap bisa segera beristirahat di rumah. Dia masih mengantuk dan kini kepalanya terasa sakit karena jam tidurnya yang berantakan. Setibanya di rumah, Ali disambut dengan pekarangan rumah yang cukup untuk dikatakan berantakan dengan sampah daun pohon yang berserakan. Baik, itu bisa diurus nanti, pikirnya. Masuk ke dalam, Ali dibuat meradang ketika melihat Prilly sudah sibuk di dapur dengan punggung tangan yang masih tertancap jarum infus. Handle koper yang sejak tadi ia genggam, nyaris ia tekan kasar ke dalam. Lihatlah perempuan itu, alih-alih istirahat dia justru sibuk menggoreng sesuatu.

Memejamkan matanya sejenak, Ali berusaha untuk menekan kemarahannya dengan benar agar tidak membuat keributan di pagi hari. "Jo, what are u doing there?"

Spatula yang dipegang Prilly jatuh, menimbulkan bunyi yang cukup kuat ketika menghantam lantai marmer. "Loh kok?"

"Ngapain di sana?"

"Ya ... masak. Aku mau makan."

Mengusap rambut dengan kasar, Ali melepaskan handle koper yang sejak tadi dia pegang, kemudian menghampiri sang istri dengan cepat. Pria itu menuntun Prilly meninggalkan area dapur tanpa mengatakan apa-apa setelah mematikan kompor. "Loh, Mas, itu masakanku gimana? Nanti gosong. Loh, hei!" Dia sama sekali tidak mengindahkan seruan protes dari istrinya bahkan hingga Prilly berhasil ia dudukkan di sofa.

Kedua tangan pria itu berada di pinggang, menatap Prilly dengan tatapan tidak habis pikir. "Jo, kamu sadar nggak kalau kamu lagi nggak sehat?"

"Aku cuma demam ringan, Mas. Lagian panasnya udah turun dan sekarang—

"KAMU.SAKIT!" Ekspresi wajah Prilly yang tadinya masih terlihat bersahabat dan melunak langsung berubah datar dan keras ketika mendapatkan seruan bernada tinggi tersebut. "Paham, nggak? Apa perlu dirawat di rumah sakit dulu baru kamu sadar kalau kamu sakit?"

BUBUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang