Bali, Indonesia
Beberapa bulan kemudian....
"Gue nggak salah pilih arsitek."
"Lo terlalu berlebihan, Fan."
"Rekomendasi builder lo keren sih, menurut gue. Kayak memang ditakdirkan untuk menerjamahkan konsep perancangan elo, Bro."
Ali tersenyum kecil. Setelah meneguk minuman kaleng di dalam genggamannya, tatapan pria itu beranjak ke ujung perairan di mana matahari mulai meninggalkan singgahsananya. Sebentar lagi malam akan tinggal untuk beberapa waktu dan menggantikan terang menjadi gelap yang gulita. Bali terlalu menganggumkan di saat pagi atau pun malam. Ali tidak pernah merasa bosan meski pemandangan di ujung hari di perairan sudah sering dia lihat.
"Jadi, lo bakal balik ke Jakarta kapan?"
"Lusa, mungkin. Nyokap semakin rajin banget nelepon gue," ujar pria itu dengan selipan senyum kecil di sudut bibirnya.
"Sebentar banget lo di Bali."
"Gue kan, ke Bali karena prosedur kerja, Fan. Memangnya lo mau pembangunan rumah lo selesai tanpa ada pengawasan berkala dari designer-nya?"
"Iya juga, sih. But thanks, lo sabar banget menghadapi kebawelan istri gue. Gue merasa nggak enak."
"Nggak papa. Santai aja. Gue ke penginapan dulu, ya? Mau solat."
"Oke. Nanti malam jangan lupa dateng ke restoran."
Ali meraih i-pad-nya di atas meja dan segera bangkit dari kursi. Senja sudah berlalu dan kini langit mulai menghitam. Alasan Ali masih bertahan sedaritadi karena memang dia hanya ingin menikmati momen magis yang sebenarnya jarang sekali bisa dia nikmati ketika sudah berada di Jakarta. Di Jakarta, yang Ali dapati ketika di pengujung hari adalah setitik cahaya oranye di balik gedung-gedung pencakar langit.
Sepasang kaki Ali yang sedang berjalan di pesisir pantai tiba-tiba berhenti di satu titik. Matanya terpaku pada seorang perempuan yang terduduk di atas hamparan pasir, membiarkan rambutnya yang digerai bertebaran diterpa oleh angin malam. Untuk sesaat Ali tidak bergerak dan hanya sibuk mengagumi kaum hawa yang masih tampak anggun di tengah gelapnya malam.
Pria dengan kemeja putih itu pun akhirnya beranjak, menghampiri perempuan yang tampak mengurut kakinya sembari sesekali meringis.
"Zora?"
Kepala perempuan itu terangkat dan langsung menatap di tepat mata Ali dengan begitu menakjubkan. Ali mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang beberapa kali mendobrak pertahanannya dengan berjongkok di depan perempuan tersebut.
"Kakinya kenapa?"
"Ah, ini ... keseleo tadi. Aish!"
Ali tersenyum kecil ketika mendengar geraman suara perempuan di depannya. "Masih bisa jalan?"
"Bisa, Mas, tapi nggak sekarang."
"Kamu menginap di mana?"
Tangan perempuan itu menunjuk sebuah hotel yang masih terlihat dari pesisir pantai. "Di hotel itu."
"Ayo! Saya antar."
"Loh? Gimana caranya?"
Ali bangkit dari posisinya dan setelahnya sedikit menekuk sepasang kakinya di depan perempuan itu. "Naik."
Itu konyol. Ali tahu.
"Ha? Serius, Mas? Saya berat loh."
"Udah, naik aja. Nanti kalau saya nggak kuat, saya turunkan kamu. Ganti saya papah. Naik, Zora!"
KAMU SEDANG MEMBACA
BUBU
FanfictionPrilly Zoravanya tak menyangka bahwa kehadiran Ali Sandya Naratama mampu membangkitkan semua luka di masa lalunya.
