20

11.3K 388 16
                                        

[Vote sebelum baca!]

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SELAMAT MENIKMATI!

^^

Deras air membasuh beberapa alat makan yang telah sabuni, disusul denting pelan mangkuk kaca saat diletakkan bersama alat makan lainnya. Sisa-sisa air yang masih mengenang di wastafel perlahan menyusut, menyisakan kotoran sisa makanan yang menumpuk di atas sink strainer.

Riana mengelap tangannya yang basah ke handuk kecil yang berada di dapur, sebelum menuangkan air putih di meja untuk diminum hingga tandas. Perut yang awalnya keroncongan kini telah terisi penuh oleh jajanan dari kantin yang baru saja ia habiskan semuanya di dapur ndalem sembari menonton drama luar negeri di ponselnya.

"Mbak, liat casan HP aku, gak?" Alifa menghampiri Riana.

Riana menggeleng. "Awalnya ditaro di mana sama lo?"

"Lupa." Alifa menggaruk kepalanya. "Ditaro di mana, ya?" monolognya.

"Pake casan gue aja dulu," saran Riana, "Ada di kamar, ambil aja."

"Oke, aku pinjem dulu ya!" Alifa melangkah cepat menuju kamar Faiz, mengambil pengisi daya milik Riana yang ditaruh di atas meja belajar, lalu memasuki kamarnya sendiri untuk mengisi daya di ponselnya.

Setelah memastikan ponselnya sedang mengisi daya, Alifa kembali menemui Riana yang masih memainkan ponsel di dapur seraya meminum es cekek yang ditumpangkan di atas gelas.

"Udah dicas HP-nya?" tanya Riana.

Alifa mendudukkan dirinya di dekat Riana. "Udah," balasnya. Ia mengambil anggur yang tersedia di atas meja makan.

"Hubungan kamu sama Abang gimana, Mbak?" Alifa membuka percakapan.

Riana menggulir halaman Instagram di ponselnya. "Nggak gimana-gimana."

Alifa memakan anggurnya. "Nggak sering ribut?"

"Kadang-kadang." Tangan Riana ikut mengambil anggur, memakannya.

"Kalau kadang-kadang berarti ada romantisnya," gumam Alifa tanpa bisa didengar perempuan itu. "Terus, perut kamu sekarang udah ada isinya atau belum?" tanyanya tiba-tiba.

Alis Riana terangkat. Tiba-tiba sekali perempuan itu menanyakan hal tersebut kepadanya. "Udah," balasnya santai.

Binar di mata Alifa langsung muncul. "Beneran?!"

Riana mengangguk.

"Wah, alhamdulilah! Akhirnya aku bakal punya keponakan!" seru Alifa kesenangan.

"Udah ada makanan maksudnya," jelas Riana, membuyarkan perasaan senang di hati perempuan itu.

Raut Alifa berubah cepat menjadi datar—jika diamati oleh Riana, mirip sekali raut datarnya dengan Faiz. "Aku serius lho, Mbak."

"Iya, gue serius. Di perut gue ada makanan, soalnya gue tadi abis makan bakso sama keripik. Lo, kan, nanya perut gue udah ada isinya atau belum. Ya udah gue jawab jujur."

"Tau, ah." Alifa berdiri, mengambil beberapa anggur, sebelum meninggalkan Riana.

"GUE SERIUS LHO, ALIFA. MAU GUE MUNTAHIN BIAR LO PERCAYA?" pekik Riana kepada Alifa yang sudah lumayan jauh.

Halo Gus!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang