Tetangga Sempurna 5

53 27 0
                                        

Tetangga Hatcraft 1

Erika itu sejak kecil memang sangat pendiam. Putri saya dulu pernah bermain dengannya. Bu Hatcraft sendiri yang mengundang putri saya dan anak-anak lain yang biasanya bermain di taman untuk berkunjung ke rumahnya.

Sarah, putri saya itu, bercerita kalau Bu Hatcraft itu orang yang sangat baik. Dia dan teman-temannya disajikan banyak camilan, minumannya juga jus yang enak, bukan sekadar air putih. Saya tahu Bu Hatcraft memang bukan orang yang pelit, saya pernah membeli beberapa roti di tokonya dan mendapatkan beberapa sampel roti gratis.

Menurut saya, mereka termasuk keluarga kecil yang bahagia. Sayang, Erika harus pergi secepat itu.

Sarah bilang, Erika itu anak yang pintar. Dia bisa menyelesaikan puzzle dengan cepat, bisa merangkai lego menjadi bentuk-bentuk yang rumit, mengisi teka-teki silang. Saya sebenarnya ingin Sarah berteman lebih dekat dengan anak itu, mungkin saja Sarah bisa sedikit mengasah kemampuan otaknya. Namun, putri saya itu anak mudah bosan. Saya mengerti. Daripada duduk berlama-lama di dalam ruangan, Sarah lebih memilih berlari-larian bersama teman-temannya yang lain di taman.

Saya memang ingin putri saya itu bergaul dengan Erika, tapi saya juga tidak mau memaksa. Sarah suka petualangan, dan saya tidak akan menghalangi kegiatan bermainnya tersebut. Lagi pula, ilmu bisa didapat dari mana saja, bukan cuma dari teka-teki silang, atau kuis anak-anak di televisi.

Erika? Walau saya kasihan kalau melihat anak itu tidak punya teman, tapi sayangnya tidak ada yang bisa saya lakukan untuknya.

“Ada anak lain yang pernah bertamu ke rumah keluarga Hatcraft itu?” tanyamu?

Ada sih, tapi ketika Erika sudah SD. Anak perempuan yang main ke rumahnya itu kelihatan seperti teman sekelas. Mereka memakai seragam yang sama, dan terlihat sangat akrab. Saya senang melihat Erika akhirnya punya teman.

Dia anak yang punya senyum ceria, cantik, dengan bando yang membelah rambutnya. Sepertinya anak orang kaya, karena yang saya lihat, gadis itu selalu datang dan dijemput dengan mobil. Kulitnya juga putih bersih, tidak terbakar matahari, tidak ada luka. Saya pikir dia anak rumahan yang sedikit pendiam, hampir sama seperti Erika.

“Anak itu bernama Alice,” katamu?

Tunggu, tunggu. Alice? Alice yang sudah menyelakai Erika itu? Yang sudah membuat Erika... astaga, saya benar-benar tidak menyangka.

Iya, saya tahu Erika meninggal karena dicelakai oleh teman sekelasnya, tapi saya tidak mengira anak perempuan yang sering bermain bersama Erika itu yang melakukannya. Saya hanya dengar dari acara berita di TV, pelakunya itu putri sulung dari keluarga Redheart. Jadi gadis itu ya, padahal kelihatannya seperti anak baik-baik.

Sewaktu saya pertama kali mendengar berita dan melihat nama Redheart, saya mengira kalau anak yang sudah mencelakai Erika itu anak perempuan yang arogan, sombong, seperti sosok anak orang kaya atau anak bangsawan yang ada di film-film. Saya tidak pernah mengira kalau gadis manis itu yang melakukannya.

Saya ingat ketika saya pertama kali melihat senyum lebarnya, siapa namanya tadi? Alice, ya? Saya ingat waktu itu saya melihat dia turun dari mobil. Ada kucing liar berwarna hitam yang kebetulan sedang berjalan di depannya. Kucing itu kurus dan kotor, saya pikir anak itu tidak akan memedulikannya, dia mungkin akan mengusirnya atau mengabaikannya begitu saja. Tapi, ternyata tidak. Alice berjongkok di hadapan kucing itu, mengelusnya dengan lembut seolah sedang mengelus rambut bayi kecil.

Beberapa saat setelah meneriakkan nama Erika, Erika akhirnya keluar. Alice menggendong dan menunjukkan kucing itu padanya. Dia berkata sesuatu seperti, “Kucingnya lucu kan, Erika?” juga, “Kelihatannya dia lapar.”

Erika yang saya tahu, punya alergi terhadap bulu kucing. Mungkin saat itu dia refleks atau terkejut, Erika mendorong kucing yang digendong itu, tidak sengaja mengakibatkan Alice sedikit terjerembap ke belakang. Ketika kucing itu lari dari pelukan Alice, barulah Erika menolong gadis itu untuk berdiri lagi.

Mereka sedikit bertengkar di depan rumah. Tidak lama. Alice protes, menanyakan kenapa Erika mendorong kucing itu, kan kasihan, kucingnya kesakitan, ini-itu, ini-itu. Tidak seharusnya Erika berbuat kasar seperti itu.

Erika yang matanya mulai berkaca-kaca mulai menjelaskan kalau dia alergi, ini-itu, ini-itu.

Walaupun saya hanya melihat dari balik pagar rumah saya, saya pikir, Alice itu anak yang baik dan pengertian. Alice mengerti dengan keadaan Erika. Dia paham Erika tidak bermaksud kasar kepada kucing tersebut. Mereka berbaikan, berteman lagi. Erika bilang dia akan memberikan donat, entah stroberi atau blueberry, sebagai permintaan maaf. Alice mengangguk, tersenyum lebar mendengarnya.

Saya tidak pernah menyangka, gadis sebaik Alice itu bisa melakukan sesuatu yang mengerikan seperti... membunuh. Apa lagi, membunuh temannya sendiri. Saya benar-benar tidak mengerti. Penyayang binatang seperti Alice seharusnya tidak melakukan hal sejahat itu.

***

ONCE UPON AN ALICE (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang