Ada keperluan apa Anda datang ke rumah ini?
Tidak ada kesaksian yang bisa saya berikan. Dengan segala hormat, saya meminta Anda untuk segera pergi dari sini.
Pergilah. Saya mohon.
Apa Anda tidak mengerti dengan keadaan saya saat ini? Apa media benar-benar ingin menghancurkan keluarga kecil saya? Kasus itu sudah berakhir. Putri saya sudah dinyatakan bersalah. Keluarga kami sudah jatuh. Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang media ingin tahu?
Pergi. Saya tidak ingin berbuat kasar kepada Anda. Sekali lagi, saya minta dengan baik-baik, Anda harus pergi dari sini.
“Bagaimana keadaan Alice?” tanya Anda?
Sudah saya bilang, tidak ada sesuatu atau informasi atau apa pun itu yang bisa saya berikan kepada Anda. Tolong, pergi, tinggalkan saya sendiri. Saya benar-benar sudah lelah. Saya juga tidak mau ini terjadi.
Saya ingin memulai kehidupan baru untuk putri saya, Alice. Jadi tolong....
Apa Anda ini benar-benar tidak bisa mengerti? Memaksa sekali. Wartawan dari media mana, Anda? Saya juga punya hak untuk tetap diam, lho. Anda tahu itu, kan?
Tunggu sebentar, sepertinya saya pernah melihat Anda, tapi di mana, ya?
Kenapa Anda jadi terlihat gugup begitu?
....
“Di mana Alice?” tanya Anda?
Huuuhh. Kalau Anda benar-benar ingin tahu. Alice sekarang berada di kamarnya, belum makan sejak tadi pagi. Saya sudah meletakkan makanan kesukaannya, roti selai blueberry, di depan pintunya, tapi sampai sekarang, roti itu masih ada. Belum tersentuh sama sekali. Saya juga sudah memanggilnya, membujuknya, mengatakan satu dua kata untuk menenangkannya. Tapi, sejak pulang dari pusat rehabilitasi anak, Alice seolah hanya menjadi manekin yang hanya bisa diam dan meringkuk di pojok tempat tidur.
Seperti itulah keadaan Alice saat ini. Anda sudah mendapat jawabannya, kan? Nah sekarang saya minta pengertian dari Anda. Tolong, segera pergi.
....
Apa yang Anda tanyakan tadi?
Apa saya percaya kalau Alice adalah pelaku dari tindak kejahatan itu?
Pertanyaan konyol macam apa itu?
Sebagai seorang Ibu, jelas, saya tidak mau percaya. Saya tidak bisa percaya. Walaupun semua bukti mengarah kepada Putri saya. Walaupun keputusan pengadilan mengatakan kalau memang benar putri saya yang bersalah, saya tetap lebih percaya pada Alice. Alice saya besarkan dengan tangan saya sendiri. Saya sangat percaya padanya. Dia tidak melakukan kejahatan itu. Dan kalaupun memang benar putri saya itu yang melakukannya, saya tetap akan berada di sisinya.
Apa menurut Anda, memercayai anak sendiri itu adalah hal yang salah? Tidak, kan?
Saya selalu berpikir, Alice itu keajaiban yang diberikan Tuhan kepada saya.
Asal Anda tahu saja, sebenarnya saya dulu sempat mengalami masalah kandungan. Saya tidak bisa hamil dengan mudah. Bahkan setelah dua, tiga tahun pernikahan saya, saya masih belum dikaruniai anak. Apa Anda tahu betapa putus asanya saya waktu itu? Ketika hubungan saya dan suami saya mulai merenggang, ketika ibu mertua saya terus-terusan memandang saya dengan sinis. Setiap hari rasanya seperti tenggelam. Menyesakkan. Membosankan.
Hingga akhirnya Alice datang, berkembang di dalam perut saya. Seperti kembang api, saya meledak-ledak, dipenuhi kebahagiaan.
Alice adalah putri kesayangan saya. Saya memberikan yang terbaik untuknya. Bahkan sebelum dia lahir sekalipun, saya bersedia mengorbankan apa pun yang saya punya untuknya. Saya berhenti minum alkohol, dan mulai makan makanan sehat untuknya. Saya memasangkan headphone di perut saya, berharap agar dia suka dan tidak bosan berada di dalam perut saya. Saya juga berhenti dari pekerjaan saya, menuruti perkataan suami saya yang bilang kalau ibu hamil itu tidak boleh capek-capek. Semuanya untuk Alice. Semuanya untuk putri saya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONCE UPON AN ALICE (END)
Mystery / ThrillerDalam proses revisi Seorang anak SD bernama Erika Hatcraft ditemukan meninggal dengan luka memar di kepala. Alice Redheart ditetapkan sebagai pelakunya. Sidik jari gadis kecil itu tertinggal di permukaan tongkat baseball yang berdarah. Alice tidak...
