Wonderland (END)

170 35 10
                                        


Maaf.

Apa kamu masih marah sama aku, Erika?

Maaf, maaf, maaf, maaf. Aku nggak tahu harus minta maaf gimana lagi ke kamu. Maaf. Ini semua salahku. Aku tahu. Tapi aku beneran nggak sengaja. Aku nggak tahu. Aku nggak nyangka orang itu bakal ngehindar. Aku nggak nyangka tongkatnya yang kuayunin bakal kena ke kepala kamu. Maaf. Maaf banget.

Kamu mau maafin aku kan, Erika?

Kamu maafin aku, ya? Ya, ya, ya?

Kita ini kan sahabatan. Nggak boleh marah terus-terusan. Aku juga sudah minta maaf. Sahabat itu harus saling memaafkan, oke?

Maaf.

Kamu ingat nggak, Erika? Waktu kita pertama kali ketemu, waktu kelas satu? Aku habis maju, ngenalin diri di depan kelas. Aku banyak omong, ya. Malu-maluin. Aku ngomongin piano, ngomongin simfoninya Beethoven, terus waktu si kembar itu bercanda, semua yang ada di kelas itu ketawa. Kecuali kamu.

Erika, kamu duduk diam, sibuk sendiri sama buku, sama pensil yang ada di meja. Satu-satunya orang yang nggak merhatiin aku, itu cuma kamu. Anak yang aneh, pikirku.

Kamu yang berjalan dengan grogi, maju ke depan papan tulis. Dengan tangan dan kaki gemetaran, wajah memucat, kamu memperkenalkan diri, menyebut namamu sendiri dengan volume suara paling kecil yang pernah kudengar. Kamu aneh, Erika. Tapi juga menarik. Aku nggak pernah ketemu anak sekikuk kamu sebelumnya.

Kamu yang berjalan menunduk, menyembunyikan wajahmu yang memerah setelah sesi perkenalan. Hampir tersandung kaki sendiri. Ceroboh.

Dunia seperti apa yang kamu lihat dengan mata yang selalu menghadap ke bawah seperti itu?

Aku ingin mengenalmu.

Aku ingin berteman denganmu.

Karena itu, ketika kamu duduk kembali di mejamu, aku menyapa. “Hei.” Kamu masih ingat, Erika, awal hubungan pertemanan kita itu? Aku yang waktu itu mengulurkan tangan, memasang senyum lebar terbaik. “Namaku Alice,” kubilang padamu, berharap kamu mau menjabat tanganku seperti dua anak yang berkenalan pada umumnya. Tapi, nggak.

Kamu malah membeku di tempat, mandangin aku dengan mata bulatmu yang sarat akan ketakutan. Canggung. Hingga akhirnya kamu mau nerima tanganku. Kita jabat tangan. Kamu bilang namamu Erika, dengan nada dan volume suara yang sama seperti saat kamu berada di depan kelas tadi. Bedanya, kamu tersenyum. Senyum kecil yang hampir nggak bisa kusadari.

Rasanya kayak matahari terbit. Cahaya yang nandain awal hari yang baru. Dunia yang baru. Satu senyuman yang jadi awal pertemanan kita yang manis.

***

Kamu ingat, waktu pertama kali kamu ngajak aku main ke rumahmu?

Aku senang banget. Kita ngerjain tugas bareng, buat kincir angin dari origami. Ngerjain PR buat besok juga. Habis itu kita main seharian. Kamu punya mainan lego sama puzzle banyak. Kamu ingat, kita pernah buat istana yang besar dari lego. Istana kayak yang ada di kartun Cinderella favoritmu itu. Kamu bilang, kalau kamu besar kamu juga ingin jadi putri cantik, terus hidup di istana kayak gitu juga.

Aku suka main ke rumah kamu. Walaupun rumah kamu nggak sebesar rumah aku, tapi nggak tahu kenapa rasanya lebih nyaman. Aku suka bau roti hangat yang datang dari dapur, lebih wangi dari pengharum ruangan mahal yang ditaruh mamaku di kamar.

Aku juga suka dengan mamamu. Maksudku, mama kamu itu baik. Dia juga nggak keberatan kalau kita lari-larian di dalam rumah, kalau kita tertawa kencang-kencang. Bahkan mamamu itu nggak marah waktu lihat potongan lego atau puzzle yang berserakan di lantai. Baik banget, deh. Tapi yang paling bikin aku senang, mama kamu itu ngasih aku camilan, minuman, juga donat blueberry paling enak yang pernah aku makan..

ONCE UPON AN ALICE (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang