Tetangga Hatcraft 2
“Bagaimana kondisi keluarga Hatcraft sejak kejadian itu?” tanyamu?
Bukannya kau sudah pernah melihatnya sendiri? Rasanya aku pernah melihatmu masuk ke rumah itu beberapa minggu lalu.
Jadi memang pernah, ya? Untuk mewawancarai? Berarti kau sudah melihat bagaimana keadaan keluarga itu, kan? Kenapa masih harus mewawancaraiku?
Butuh kesaksian dan pendapat tetangga sekitar, ya? Apa semua wartawan memang punya rasa penasaran yang tinggi seperti dirimu? Ya, kasus ini memang lumayan besar sih, walaupun sudah sedikit basi dan mulai tergantikan dengan berita-berita yang lain. Saya kira sudah tidak ada lagi wartawan yang tertarik dengan kasus ini lagi.
Baiklah, apa yang kau tanyakan tadi? Oh iya, itu.
Sebelumnya saya minta maaf, tapi kelihatannya, kau mewawancara orang yang salah. Saya bukan tetangga yang dekat dengan keluarga Hatcraft. Kami tidak terlalu akrab. Maksud saya, bukan berarti saya benci atau tidak suka pada mereka. Kami hanya jarang mengobrol dan berinteraksi satu sama lain. Dan lagi, saya baru pindah ke kompleks ini sekitar dua tahun yang lalu, saya pikir masih banyak yang tidak saya ketahui tentang mereka.
Apa kau yakin masih mau menanyakan hal itu pada saya? Baiklah, kalau itu maumu. Tapi tolong cepat, saya tidak punya banyak waktu.
Keadaan keluarga Hatcraft setelah kematian putrinya? Saya pikir mereka keluarga yang kuat. Seminggu setelah hari pemakaman Erika, Bu Hatcraft itu mulai membuka toko rotinya lagi. Ada papan bertuliskan open di pintu kaca depannya, dan saya juga bisa mencium aroma roti yang baru matang ketika saya kebetulan lewat depan tokonya hari itu.
Saya sebenarnya tidak terlalu suka roti. Saya tidak suka rasa tepung yang garing, tekstur yang mendal dan susah dikunyah. Namun, sepulang saya kerja hari itu, saya memutuskan untuk mampir,
Bu Hatcraft menyapa saya ketika lonceng kecil di atas pintu berbunyi. “Sore, Bu Anderson.” Dia berada di belakang meja konter, sepertinya sedang menghitung uang atau menulis sesuatu di semacam buku catatan, entahlah. Yang pasti, wanita itu tersenyum ramah ketika saya melangkah masuk.
Mendadak hidung saya dipenuhi oleh aroma manis gula dan mentega. Saya berjalan di antara rak-rak roti. Croissant, cheese cake, scone, baguette, rasanya semua roti dan kue yang ada di tempat itu datang mendekat, menghimpit, dan mengelilingi saya. Tentu, itu bukan kali pertama saya masuk ke toko kue keluarga Hatcraft. Saya pernah berkunjung dua atau tiga kali tapi yang terakhir itu, saya benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda.
“Rotinya kelihatan masih segar semua, ya,” saya bermaksud untuk memuji. Saya hirup aroma itu kuat-kuat, lalu mengeluarkannya lewat mulut.
“Hari ini saya membuat banyak,” kata Bu Hatcraft. “Semuanya masih baru. Bahkan ada yang baru matang dari oven.”
Saya mengangguk paham. Tidak heran, memang. Saya kira itu cukup biasa. “Kalau begitu, apa ada rekomendasi yang cocok untuk saya?” saya bertanya. “Ah, tapi jangan yang cokelat. Saya tidak terlalu suka rasa cokelat yang sedikit pahit di lidah.”
Bu Hatcraft tersenyum, lalu meletakkan ujung telunjuknya di bawah bibir, seolah sedang berpikir keras. “Rekomendasi, ya. Bagaimana kalau kue chiffon seperti yang ada di sana.” Wanita itu menunjuk ke salah satu rak yang berada di samping meja kasir. “Baru matang siang ini.”
Saya sedikit membungkuk, mencondongkan badan untuk melihatnya, menimang-nimang. Kue itu berbentuk bundar sempurna, ada krim kocok dan sedikit hiasan stroberi di atasnya. Terlihat enak, memang, tapi saya ragu. Kue itu terlalu besar untuk seseorang yang tidak terlalu suka roti seperti saya.
Bu Hatcraft sepertinya mengerti dengan kebimbangan saya. Dia kemudian merekomendasikan roti yang lain.
“Atau, fruit cake yang ada di sana, mungkin?” Wanita itu menunjuk ke arah rak yang sedikit jauh, dekat dengan pintu masuk. Saya melangkah perlahan ke sana.
“Dulu sewaktu kecil, Erika suka dengan kue itu.”
Mendengarnya menyebut nama putrinya yang sudah tidak ada itu, saya merasa sedikit tidak enak hati. Keheningan yang sedikit canggung mulai menyerang. Saya menoleh, memandang Bu Hatcraft dengan senyum dan tatapan penuh simpati. Saya ingin meminta maaf karena mungkin secara tidak sengaja sudah mengingatkannya kembali dengan Erika, tapi, ketika saya hendak membuka mulut, Bu Hatcraft menyela terlebih dahulu.
“Tenang saja,” katanya. “Fruit cake yang saya jual itu tidak ada alkoholnya, kok. Saya sudah memodifikasinya dengan resep saya sendiri.” Dia memasang senyum lebar.
Mau tidak mau, saya memaksakan tertawa kecil untuk mengusir kecanggungan. Aneh rasanya, setelah menyebut nama Erika, saya pikir dia akan sedikit sedih karena sudah kehilangan putrinya itu. Tapi tidak. Bu Hatcraft bersikap biasa, senyumnya masih tetap seperti saat pertama kali saya masuk.
Bu Hatcraft pasti orang yang sangat kuat, begitu pikir saya saat itu.
Tapi kalau diingat-ingat lagi, saya bahkan tidak pernah melihat Bu Hatcraft menangis. Di hari pemakaman putrinya, waktu upacara penutupan peti, waktu peti dikuburkan dan perlahan tertimbun oleh tanah, saya melihat banyak orang meneteskan air mata. Suaminya, ibu-ibu tetangga, anak-anak yang bahkan saya pikir jarang bermain dengan Erika pun juga tidak sedikit yang menangis. Hanya Bu Hatcraft yang tidak.
Ketika penaburan bunga, wanita itu hanya menatap kosong ke arah gundukan tanah itu. Tangannya bergerak, menaburkan bunga secara merata, mengelus-elus nisan, tapi tetap saja, tidak ada air mata yang keluar dari mata wanita itu, berkaca-kaca pun tidak. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, seberapa sedih wanita ini? Apa yang dia rasakan di dalam hatinya? Apa hatinya sudah mati, bersamaan dengan kematian putrinya?
Apa dia tidak merasa sedih?
Kalau kau bertanya bagaimana keadaan keluarga Hatcraft setelah kematian putri mereka, Erika, saya takut saya tidak menjawabnya.
Mungkin kalau kau bertanya ke orang lain, orang itu akan menjawab, keluarga Hatcraft sedang sedih, sedang terpuruk, sedang jatuh, sedang hancur. Jawaban seperti itu mungkin saja benar. Keluarga macam apa yang tidak bersedih ketika putri satu-satunya yang mereka miliki meninggal secara tiba-tiba, meninggal karena dibunuh. Normalnya, setiap keluarga pasti akan sedih. Keluarga Hatcraft juga pasti merasakan hal itu.
Namun di lain sisi, mereka tampak baik-baik saja. Walaupun sang suami, Pak Hatcraft, sudah mengundurkan diri dari perusahaan lamanya, tapi minggu-minggu lalu saya melihatnya berangkat pagi-pagi dengan menggunakan seragam kantoran rapi. Kemeja putih, celana, dasi, seperti itu. Saya pikir dia sudah mendapat pekerjaan baru, entah di mana, tapi kelihatannya Pak Hatcraft sudah sedikit bersemangat.
Bu Hatcraft juga. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, dia membuka tokonya kembali, memasak, membuat adonan kue, memanggang, melayani pelanggan dengan senyum seperti biasa. Saya tidak tahu, mereka ini memang benar-benar keluarga yang kuat, atau bagaimana, tapi kelihatannya mereka sudah terlihat bahagia lagi.
Bagaimana menurutmu?
Apa kau sudah puas dengan jawaban yang kuberikan? Kalau masih belum puas, tanyakan saja kepada Bu Faraday. Saya pernah dengar, dia sudah bersahabat dengan Bu Hatcraft sejak kecil. Rumahnya ada di depan situ. Kalau mau ke sana, saya sarankan datang siang hari ketika suaminya sedang bekerja.
Baiklah, saya pikir sudah tidak ada yang bisa saya ceritakan. Maaf, saya harus segera pergi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ONCE UPON AN ALICE (END)
Mystery / ThrillerDalam proses revisi Seorang anak SD bernama Erika Hatcraft ditemukan meninggal dengan luka memar di kepala. Alice Redheart ditetapkan sebagai pelakunya. Sidik jari gadis kecil itu tertinggal di permukaan tongkat baseball yang berdarah. Alice tidak...
