Bagaimana saya memulai diary saya?
Perkenalan.
Nama saya Jeane Whiterabbit. Saya pernah bekerja sebagai sales di perusahaan Redheart. Namun, itu dulu. Sewaktu saya menulis diary ini, saya sudah mengundurkan diri. Jauh sebelum insiden pembunuhan itu terjadi, sebelum saham perusahaan turun drastis dan berakhir mengalami kebangkrutan, saya sudah pergi.
Apa saya senang bekerja di tempat itu?
Mungkin, dulu saya pernah suka. Bisa bekerja di perusahaan besar Redheart itu sudah seperti pencapaian terhebat dalam hidup saya. Ketika saya pulang kampung, saya bisa membanggakan diri dengan membawa uang dari gaji bulanan saya yang cukup banyak, membelikan orang tua saya perabotan rumah yang baru, memakai baju bagus ke mana-mana. Saya senang jika melihat orang tua saya tersenyum, melihat anaknya ini sudah sukses bekerja di kota.
Saya bisa bekerja di perusahaan Redheart itu dengan bantuan teman SMA saya yang sudah lebih dulu merantau. Saya biasa memanggilnya Emma. Waktu itu saya sedang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan.
Awalnya saya tidak mengenali Emma. Gadis desa itu sudah berubah. Karena sering bermain di bawah matahari, Emma yang saya kenal itu seharusnya berkulit agak kecokelatan. Rambutnya juga seharusnya sedikit keriting. Namun, Emma yang saya lihat waktu itu kulitnya putih bersih, seperti foto wanita yang sering tercetak di iklan sabun. Rambutnya panjang lurus, sama sekali tidak terlihat seperti Emma, apalagi dengan make up dan perhiasan yang dipakainya.
Untungnya, Emma masih bisa mengenali saya.
"Hai," sapa Emma, ketika saya membawakan buku menu untuknya. Dengan ragu, dia bertanya, "Kau ini... Jeane, kan?"
Saya masih ingat senyumnya waktu itu. Walaupun penampilan Emma sudah jauh berbeda, tapi senyum manis gadis itu tetap sama seperti dulu. Bibir mungil, gigi gingsul, senyum lebar, dan suara bernada ceria yang sama seperti saat melontarkan selamat pagi semasa kami SMA dulu, saya tidak akan bisa melupakannya.
Beruntung, saat itu kafe tidak terlalu ramai. Emma menyuruh saya untuk duduk bersama dengannya. Saya meminta izin terlebih dulu kepada rekan kerja saya yang berada di belakang konter sebelum akhirnya saya bisa duduk dan berbincang.
Emma berkata kepada saya, basa-basi seperti, "Aku tidak tahu kau juga merantau ke kota ini." Atau, "Bagaimana keadaan teman-teman yang lain, ya? Jadi kangen." Atau, "Kau kuliah di universitas mana?" Dan sesuatu yang tidak terlalu saya sukai seperti, "Kau jadi semakin cantik saja. Apa kau sudah punya pasangan?"
Saya berterima kasih karena dia memuji saya cantik. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan Emma yang sekarang, tentu saja saya tidak ada apa-apanya. Saya hanya seorang gadis desa lusuh bercelemek pelayan, tanpa make up, tanpa perhiasan.
"Seharusnya kita dulu pergi bersama." Saya pura-pura mengeluh, tersenyum melihat blazer kantor yang dia pakai.
Emma tertawa geli, lalu mulai menceritakan kembali alasan pahitnya untuk pergi dari kampung halamannya: Karena orang tuanya yang serakah ingin menjodohkan Emma dengan orang yang tidak dia cintai. Lalu, Emma juga menceritakan bagaimana perjalanan awalnya di kota. Tentang dia yang hampir kecopetan setelah turun dari bis, tentang dia yang tinggal di kontrakan sempit, tentang dia yang membiayai kuliahnya sendiri dengan uang hasil kerja sambilannya. Banyak yang Emma ceritakan, tapi saya hanya mendengar sebagian. Sampai kemudian Emma mengeluh.
"Akhir-akhir ini banyak yang dikeluarkan dari perusahaan," ujar Emma, menghela napas panjang. "Pekerjaanku jadi tambah banyak. Capek banget!"
Saya bertanya apa alasannya. Apa Perusahaan Redheart itu memang sengaja melakukan pengurangan pegawai, atau ada alasan lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
ONCE UPON AN ALICE (END)
Mystery / ThrillerDalam proses revisi Seorang anak SD bernama Erika Hatcraft ditemukan meninggal dengan luka memar di kepala. Alice Redheart ditetapkan sebagai pelakunya. Sidik jari gadis kecil itu tertinggal di permukaan tongkat baseball yang berdarah. Alice tidak...
