"Kamu apa-apaan sih Fen, ngapain kamu bawa aku kesini?" Shani menghempas kasar tangan Fenie lalu mengusap mulutnya yang sempat Fenie bekap. "Kamu sengaja mau buat aku jantungan dengan cara seperti menculik?" Shani menatap tajam pria di depannya ini, ia sama sekali tidak mengerti kenapa Fenie bisa bersikap seperti itu padanya.
Fenie tidak menjawab, pria itu justru malah membuang muka. Shani mengerutkan dahi, tidak biasanya sikap Fenie sedingin ini. Shani mengalihkan pandangannya ke sekeliling, ternyata ia sudah cukup jauh dari Vila keluarganya.
"Fen, kamu baik-baik saja?" tangan Shani yang hendak menyentuh lengan Fenie di tepis begitu saja, "Kamu kenapa sih, aku ada salah apa sama kamu?"
"Kamu udah buat aku malu di depan teman-teman aku Shan." Fenie membuang kasar napasnya lalu menatap Shani sangat dingin, "Kenapa semalam kamu nggak dateng? Kamu tau aku sudah sombong kalau aku akan bawa kamu ke pesta temanku tapi apa, kamu gak ada kabar dan gak datang sama sekali. Aku di anggap pembohong sama mereka Shani."
Angin berembus menghempas rambut panjang Shani yang tiba-tiba saja diam. Shani menatap lekat wajah pria itu yang jelas sekali menampilkan gurat kekecewaan. Shani mengehela napas perlahan, hatinya merasa sangat bersalah karena tidak menepati janjinya.
"Kalau kamu gak bisa harusnya kamu jangan bilang bisa, aku udah berharap banget sama kamu semalam." tatapan Fenie melembut, tanganya perlahan bergerak menggenggam tangan Shani. "Jangan gitu lagi Shan."
"Fenie maaf, kemarin aku ada insiden yang membuat aku tidak bisa datang." Shanie membalas genggaman tangan Fenie, "Tapi kamu jangan khawatir, aku akan jelasin ke teman kamu kalau kamu bukan pembohong." Shani tersenyum.
"Gimana caranya?"
"Kita bikin pesta lagi, pesta kita, aku yang akan bayar semuanya. Kita booking tempatnya ya." Shani tersenyum menatap Fenie. Jika saja Gracio tidak tiba-tiba muncul dan menghancurkan hatinya mungkin ia tidak akan membuat kecewa pria di depannya ini. Mungkin dangan Fenie ia akan melapakan Gracio sepenuhnya.
Senyuman Fenie merekeh dalam seketika, matanya bahkan sampai menerjab seakan tidak percaya dengan apa yang berusan ia denger. Semudah itukah Shani menyelesaikan masalah?
"Kamu serius Shan?"
"Iya Fen, yuk kita cari tempat, kamu hubungi semua teman-teman kamu untuk datang."
Fenie tersenyum senang lalu mengangguk, tanpa butuh waktu lama ia langsung membawa Shani pergi bersamanya. Hari ini akan jadi hari yang sangat menyenangkan karena kembali menghabiskan waktu bersama Shani, perempuan cantik yang ternyata cukup royal.
***
Mata yang sebelumnya terpejam kini kembali terbuka, Aran mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata ia ketiduran di sofa teras samping Vila. Aran melirik arlojinya, ternyata sudah sangat siang dan perutnya mulai perotes meminta asupan.
"Masak apa Bi?" tanya Aran berdiri di samping Bi Sinah yang terlihat sibuk menggoreng ayam.
"Lagi goreng ayam Mas Aran, Mas Aran mau makan ya? Tunggu bentar ya."
"Mau aku bantu Bi?"
"Jangan Mas Aran, Mas Aran mending duduk aja ya, ini bentar lagi jadi kok."
Aran mengangguk, jika jam siang seperti ini biasanya Om Keynal mengajak semua orang untuk makan di luar. Aran membuka kulkas untuk mengambil minum, setelah menyegarkan tenggorokannya dengan air dingin ia berniat untuk menunggu masakan Bi Sinah di mini bar. Sebelum tubunya mendarat di kursi ia mendengar obrolan samar dari arah ruang keluarga, Aran mengurungkan niatnya untuk duduk dan berjalan kesana untuk memastikan tidak ada masalah yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
WHY SHOULD LOVE [END]
Fanfiction"Bersamamu adalah kesalahan yang tidak pernah aku inginkan." "Apapun itu, kamu tanggung jawab aku mulai sekarang."
![WHY SHOULD LOVE [END]](https://img.wattpad.com/cover/314208176-64-k835926.jpg)