27

1.8K 257 35
                                        

Cindepok: Kemarin gue ikut casting film dan gue kepilih dong. Finally, gue bakalan main film lagi walau kedapetan peran antagonis.

"Hahaha, congrats ya Cindy Harahap, akhirnya lo ngga nganggur lagi." Shani membalas pesan dari sahabatnya itu.

Cindepok: Makasih Shani Indira, tapi kata-kata lo kayak lagi ngatain gue tau gak? Eeh bay the way besok gue mau ngerayain ini sama Sisca di rumah gue, lo bisa dateng kan?"

Shani terdiam sejenak untuk berpikir, menimang nimang apakah ia harus menyetujui ajakan Cindy atau menolaknya. Tapi setelah di pikir pikir ia tidak memiliki alasan untuk menolak, justru ini kesempatan yang bagus untuk mendinginkan hatinya yang tengah memanas karena Aran, dan lagipula ia perlu memberi ucapan selamat secara langsung kepada sahabatnya karena sebentar lagi akan bermain film.

"MAMA, PAPA, ANAKMU YANG PALING GANTENG SEJAGAT RAYA INI PULANGGGG."

Jemari lentik Shani yang sedang menari diatas keyboard untuk membalas pesan dari Cindy terpaksa harus terhenti saat telinganya berdengung mendengar teriakan maha dahsyat dari adiknya ini, "Woy, ngapain teriak teriak dalam rumah,  ngga lihat ini udah jam berapa?" Shani menatap sengit pada Zee yang justru malah menyengir tanpa rasa bersalah. Sudah telat pulang, masuk rumah bukanya mengucap salam malah teriak teriak, jika bukan adiknya ingin rasanya Shani menendangnya jauh jauh.

"Eeh ada Ci Shani, kok belum tidur ci? Ini rumah kok sepi, Papa, Mama, sama kakak kakakku pada kemana nih?" Azizi Albani Natio, pria hampir 19 tahun yang akrab di sapa Zee itu melangkah mendekati sang kakak perempuan yang sedari duduk di sofa ruang keluarga sembari menonton film.

"Pakai jam tangan kan? Coba itu di lihat jam berapa sekarang?"

Zee melihat jam di tanganya yang sekarang menunjukan pukul sebelas malam.

"Jam sebelas malam, menurut kamu di jam seperti ini Mama Papa sama kakak kakakmu itu mau gitu stan bay disini nungguin kamu pulang?"

Zee menunjukkan giggle singkatnya mendengar jawaban sang kakak, benar juga ini sudah larut malam dan tidak mungkin orang orang sibuk itu masih bersantai di ruang keluarga.

"Lagian ngapain sih nyari mereka, yang ada kamu malah di marahin karena pulang jam segini."

"Jadi gini Ci, aku punya pengumuman gembira yang semua orang wajib tau." Zee tersenyum sangat lebar setelah berhasil duduk di samping cicinya, wajahnya nampak berseri ketika siap untuk bercerita, "Aku sekarang udah punya pacar, setelah hampir 19 tahun bernapas akhirnya seorang Azizi putra Natio memiliki tambatan hati. Dan asal Cici tau, pacar Zee itu adalah seorang bidadari, dia cantik pake banget banget, lebih cantik dari Ci Shani dan Kak Chika. Dan Zee butuh waktu hampir dua tahun untuk bisa dapetin dia, bayangin aja ketika seorang Zee harus berjuang mati Matian demi cintanya terbalaskan oleh Fiony Alveria Tantri."

"Emang iya? Ada gitu ya yang mau sama kamu?"

"Ya ada dong, yang jelas dia bukan seperti Ci Shani."

"Maksudnya apa bukan seperti aku?" Shani memposisikan tubuhnya menghadap langsung pada Zee, telinganya mulai panas mendengar adiknya terkesan mengejeknya, memangnya secantik apa sih Fiony itu.

"Maksudnya itu dia lebih bisa menghargai perasaan pasangannya, dia baik hati, lemah lembut dan tentunya sangat penyayang. Beda jauh dari Ci Shani yang -"

"Yang apa?" Shani bersendekap dada menunggu kelanjutan cerita sang adik, namun beberapa detik menunggu, ucapan itu justru malah menggantung, "Kok diam, coba di lanjut lagi." Shani bisa melihat bahwa adiknya perlahan mulai beranjak dari sisinya.

Zee tersenyum khawatir, rasa bahagia yang sangat besar membuatnya lupa jika ia sedang bercerita dengan orang yang salah, lebih lagi ia malah membandingkan keduanya. "Maaf Ci aku khilaf, Ci Shani juga baik kok, lemah lembut, saking lembutnya ci Shani malah kayak mahluk halus hahaha KABURRRR."

WHY SHOULD LOVE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang