22

1.7K 233 44
                                    

"Aku gak mau makan."

Ucapan itu sontak membuat beberapa orang yang ada di meja makan menghentikan gerakan tangan mereka yang hendak menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya. Mereka sontak mendongak menatap heran pada Shani sang pemilik suara.

"Kenapa?" Aran menatap Shani.

Shani menggelengkan kepalanya dan mendorong piring yang sebelumnya sudah Aran isi dengan nasi lengkap dengan lauknya. "Ya aku gak mau makan, aku gak suka makanan
nya dan aku takut sakit perut." Shani menyilangkan tanganya, menatap tanpa minat beberapa menu yang tersaji di depannya walau sebenarnya perutnya sudah sangat lapar.

"Shani ayo makan, kakak tau kamu menyukainya," Gito menatap beberapa menu yang tersaji, disini ada ayam kecap, ayam goreng, Tahu tempe goreng, sup ayam, dan tumis tumisan. Hampir semua makanan disini pernah Veranda masak dan Shani menyukainya, "Ayo makan Shan, apa sih yang kamu takuti? Makanan disini sehat semua."

"Sejak kapan makanan di panti asuhan sehat?"

"Ngga semua panti itu kotor Ci, lingkungan di panti ini bersih dan anak anak disini pandai menjaga kebersihan, Cici tenang aja makanan ini di masak dengan higenis kok."

"Bagaimana mungkin aku mempercayai omongan kalian?"
Shani berdecak kesal, sekuat apapun mereka menyakinkan bahwa makanan ini bersih tetap saja hatinya itu enggan. Dirinya sudah tersugesti sejak lama jika panti adalah tempat yang kotor.

Aran menghela napas pelan, benar-benar menunda acara makanya hanya untuk menghadap Shani sepenuhnya, "Terus sekarang kamu mau makan apa? Dari semalam kamu belum makan."

"Ya pokoknya aku gak mau makan apapun yang ada disini. Lagian ini salahnya kamu yang lupa bawa makanan instan dari kota, dan aku yakin ini semua rencana kamu untuk balas dendam ke aku."

"Jangan keras keras ngomongnya Shani, ngga enak di denger Uma sama yang lain." nampaknya Gito mulai kesal dengan segala perangai adiknya, pun hatinya turut merasa tidak enak kepada Aran yang selalu menjadi sasaran kekesalan Shani.

"Cici mau aku yang masakin? Aku akan memastikan bahwa masakan aku bersih." Chika menatap Shani, lalu berganti pada Aran yang kelihatannya sudah sangat pasrah. Chika menghela napas panjang, ia merasa sangat iba pada pria yang masih berada di hatinya itu.

"Masakan kamu bersih, tapi apa kamu bisa menjamin bahan baku disini tidak kotor?"

"Jadi kamu mau makan apa? Aku Carikan di luar." sahut Aran yang ingin segera mengakhiri perdebatan ini, "Atau kamu mau makan di luar, ayo aku antar."

"Gak mau, capek, lagian jarak untuk ke kota jauh." Shani membuang muka, sampai tak lama ia merasa sebuah genggaman di tanganya. Shani kembali menoleh, menatap Aran yang ia rasa mulai semakin bertani berkontak fisik denganya.

"Tapi kamu harus makan Shani, bilang pengen makan apa biar aku carikan."

Chika mengehela napas pelan saat matanya menangkap kekhawatiran yang cukup jelas di wajah Aran, lalu menunduk menatap sendu tangan Aran yang mengelus punggung tangan Shani. Chika sadar posisinya adalah suami Gito, begitupun dengan Aran yang telah menjadi suami dari Shani, namun apakah salah jika ia masih merasakan cemburu? Melihat Aran seperhatian itu pada perempuan lain membuat sebagian hatinya bergetar menahan sakit, Chika tidak rela namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.

"Udahlah Ran, biarin aja dia kelaparan, nanti juga makan sendiri kalau udah ga kuat."

Ucapan Gito mengundang tatapan sinis dari Shani, tak lama setelah itu Shani menepis tangan Aran untuk beranjak dan meninggalkan meja makan beralaskan karpet di sudut ruangan itu. Baik Aran maupun Gito sama-sama tak habis pikir dengan Shani, selain susah di atur Shani juga suka membangkang.
Dan seharusnya mereka tidak perlu terkejut dengan semua tingkah laku Shani.

WHY SHOULD LOVE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang