21

1.9K 239 21
                                    

Suara burung itu mulai mengusik lelapnya, memaksa matanya agar segera terbuka. Hal pertama yang Shani lihat ketika kedua kelopak mata itu terbuka adalah pemandangan yang begitu asing, dan yang lebih mengejutkannya lagi ia terlelap dalam dekapan seorang pria.

Shani ingin berteriak, bahkan berniat memukul pria yang tengah memeluknya saat ini jika saja ia tidak di sadarkan dengan ingatan semalam. Dimana saat Aran membawanya kesini kala mereka terjebak hujan hingga saat ia berteriak ketakutan karena gemuruh di atas langit.

"Semalam posisi kita seperti ini?" Shani menunduk, ia melihat sebuah tangan kekar yang sedang memeluknya dari belakang, "Bisa banget ya modusin aku." Shani berdecak pelan, dengan gerakan pelan ia mengangkat tangan itu dan berbalik menghadap Aran. Shani harus mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap Aran, menatap wajah damai seorang pria yang semalam sudah sangat lancang menjebaknya disini.

"Setelah hampir membuat aku mati ketakutan semalam, kamu pikir aku akan diam saja?" kedua mata Shani yang beralih, ia seakan tengah menatap Aran dangan tatapan intimidasi. "Aku akan membalasmu Aran, aku akan menghukum dirimu setibanya nanti kita Di Jakarta." Shani tersenyum penuh misteri, penuh dendam juga ancaman, sampai tak lama tatapannya itu berubah kala menyadari ada bekas Luka di kening bagian kiri. Luka yang sangat Shani inget apa penyebabnya.

"Kamu sengaja tidak menghilangkan bekas itu, tapi untuk apa? Untuk membuat aku teringat akan sikap kamu yang sok pahlawan itu." Shani tersenyum tipis, menggerakkan tangannya untuk menyentuh- mengusap lembut bekas luka itu.

Untuk beberapa saat Shani kembali terdiam, ia begitu tenang mengamati setiap inci bagian dari wajah Aran. Dan Shani baru tersadar jika pria yang telah menikahinya memiliki paras yang tidak begitu buruk.

Shani mengembuskan napas panjang, rasa rasanya ia kembali di buat iri ketika menyadari jika hidung Aran lebih mencung dari hidungnya. Dan yang lebih parahnya lagi Aran memiliki bulu mata yang lentik, alis yang tebal dan tidak seperti dirinya yang harus melukis alisnya lebih dulu jika ingin terlihat bentuknya.

"Sepertinya aku sudah beneran gila karena menganggap dia tampan." Shani bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aran, sampai detik berikutnya ia menggeleng, dengan segera ia menjauhkan tanganya dari dari Aran kemudian menepis tangan Aran yang masih memeluknya.

Shani diam, merutuki dirinya sendiri yang sempat beranggapan jika Aran itu memang tampan, berbanding terbalik dengan perkataannya hari hari yang lalu. Rasanya seperti sedang menjilati ludah sendiri, menjijikkan.

Shani kembali menghela napas, kali ini lebih berat dan panjang tentunya. Dalam diamnya, ia tengah menahan diri untuk tidak mikirkan perkataanya tadi. Sampai tak lama Shani menemukan sebuah tali tak jauh dari jangkauanya, dan ketika mencoba untuk menariknya ia menemukan bahwa gubuk ini miliki jendela lebar yang ketika di buka akan menampakkan pemandangan indah tiada tara. Gunung dan persawahan itu nampak dengan begitu elok di pagi hari, yang barang pasti akan memanjakan setiap pasang mata yang melihatnya.

Tak terkecuali Shani yang mulai berdecak kagum sedetik setelah tanganya berhasil membuka jendela itu, belum lagi dengan udara sejuk jauh dari polusi yang biasa ia temukan di perkotaan. Terdengar suara uara aliran air dari sunga, siulan burung-burung liar yang mulai berterbangan, sampai suara kodok kompak saling bersahutan bersenandung riang di pagi yang sedikit berkabut ini.

"Apa yang kamu lihat sekarang adalah bayaran atas kekesalan kamu semalam."

Senyuman Shani menggantung seketika mendengar suara itu, suara serak khas orang bangun tidur yang berasal dari seorang pria di sampingnya. Shani menatap cukup sinis pada Aran yang telah membuka kelopak matanya, terlihat pria itu sedang tersenyum sembari menyampingkan tubuh menatap kearahnya.

WHY SHOULD LOVE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang