Selang beberapa hari lamanya, tak ada yang berubah. Malahan semakin buruk. Masalah semakin bertambah, karena sahabatnya tak kunjung berkabar dan beberapa kejadian buruk menimpanya akhir-akhir ini.
Sudah ia duga, Kim hyunjin telah hilang. Beberapa waktu lalu, ia bercerita soal hyunjin kepada orang tuanya bersama siyeon juga. Ayah angkat hyunjin, Lee Taemin, yang berprofesi sebagai detektif kepolisian langsung mengerahkan usahanya untuk mencari Kim hyunjin dengan cepat. Tante Naeun langsung menangis saat kabar anak perempuannya telah menghilang.
Semuanya jadi tambah kacau.
"Hee, ayo makan dong. Lo belom makan dari kemaren malam loh."
Entah mengapa sekarang siyeon yang lebih sering memperhatikannya semenjak Kim hyunjin tak ada. Gadis itu seakan membantunya untuk mencari keberadaan Kim hyunjin. Tak jarang siyeon juga berperan sebagai pengganti ibu, yang sering menyuruh ini dan itu. Ya...meskipun tak sebawel Kim hyunjin, tapi keberadaan siyeon cukup menghiburnya.
"Gue gak laper." Gumamnya pelan.
"Gak laper apa sih? Lo tuh udah pucet banget, hee. Sumpah deh, setidaknya dikit aja makannya. Ayo, ya?"
"Gue emang gak lapar, siyeon." Ucap heejin dengan datar.
Siyeon bingung. Semenjak siyeon menemani heejin untuk menemui jaemin waktu itu, dan berakhir siyeon pulang duluan karena siyeon saat itu harus menjaga ibunya, siyeon merasakan keanehan pada heejin. Heejin jadi tak banyak berbicara dan ekspresinya pun juga aneh. Datar dan dingin.
Sebenarnya, kemarin tuh ada apa? Pasti ada yang siyeon gak tau.
Ditambah lagi sekarang, berita tentang Kim Hyunjin yang menghilang. Meskipun hanya siyeon, heejin dan Jeno yang tau, tetap saja ada orang yang merasakan itu dan mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Iya, lo gak lapar. Gue percaya lo bisa urus diri lo sendiri. Gue percaya kok. Percaya banget. Tapi, bukan berarti lo harus sendiri terus hee, setidaknya ada orang yang ingetin lo makan. Ayo, lo harus makan. Sedih sama galau tuh butuh tenaga juga."
Heejin terkekeh pelan sebentar. Siyeon mengucapkan hal yang benar. Sedih ataupun bahagia tetap saja butuh makan untuk hidup.
"Hee, are you okay?"
"..."
Dengan diamnya heejin dapat disimpulkan bahwa heejin sedang ada apa-apa. Siyeon pun hanya bisa tersenyum sedikit saat heejin mulai menyuap sedikit makanan untuk masuk ke dalam mulutnya. Ya, setidaknya ucapan itu menggerakkan kemauan heejin untuk makan.
"Gue gak maksa lo buat cerita masalah lo, tapi kalo lo mau, gue siap buat dengerin cerita lo. Gue bakal nunggu sampai lo cerita sama gue." Ucap siyeon perlahan.
Gerakan heejin mengambang di udara dan dia perlahan menaruh sendok itu diatas piring di depannya.
Waktu bergulir seakan menghantamnya terlalu kuat sehingga heejin pun tak bisa menahan segala masalahnya bertubi-tubi. Kejadian kemarin cukup menguras emosi dan rasa aneh serta kesedihan itu menghampirinya saat ia meninggalkan tempat itu.
Layaknya ucapan selamat tinggal untuk kedua kalinya.
"Thanks..."
Heejin tak tau mengapa beberapa hari yang lalu ia menangis semalaman seolah menyesali keputusannya kala ituㅡtidak, ia merasa dirinya seperti 'dibuang'. Orang itu sangat egois, menurutnya.
Perasaan itu bukan pura-pura. Heejin tak suka berpura-pura. Bila ia nyaman dengan seseorang, maka ia pun enggan melepaskan orang itu sampai selamanya.
"Heejin...lo nangis...?" Siyeon terkejut saat air mata heejin mengalir tanpa permisi. Gadis itu buru-buru menghampiri heejin untuk menepuk pundaknya sejenak, menenangkannya dan bahkan memeluk heejin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Client
Fiksi PenggemarFeat. Heejin Jaemin Ini tentang Jeon Heejin yang harus berkaitan dengan seorang Na Jaemin. Dan, cerita orang-orang di sekitar mereka. Awalnya Jeon Heejin berniat mencari seorang klien yang dapat membantu tugas akhir kuliah semesternya dengan bantuan...
