"Apa? Kamu mau menikahi Tiur?" Pekik Amanda sambil menatap Javas tak habis pikir.
Javas dengan tampang percaya dirinya hanya mengangguk santai. "Mama mau kan bantu aku?"
Tau bagaimana respon Amanda? Ibu dari dua anak itu justru tertawa terpingkal-pingkal sambil geleng-geleng kepala. "Kamu ini, maunya apa sih, Nak?"
"Bukannya ini juga kemauan Mama? Menikahi Tiur karena aku sudah menghamilinya."
"Itu dulu. Sekarang Mama justru lebih suka kamu menjauhi Tiur. Biarkan Tiur hidup tenang, Jav. Mama masih ingat dulu kamu bilang hanya akan menikahi satu wanita dan itu Kirana. Hubunganmu dengan Tiur hanya tentang anak, tidak perlu ada pernikahan. Dan sekarang Mama justru setuju dengan ucapanmu yang dulu itu."
Amanda tau betul bagaimana Javas. Anaknya itu masih belum sembuh dengan rasa sakit hatinya ditinggal nikah oleh Kirana. Dengar keinginan Javas yang tiba-tiba ingin menikahi Tiur —padahal dulu menolak keras ketika Amanda menyuruhnya untuk menikahi Tiur, justru membuat Amanda khawatir. Khawatir Javas kembali merencanakan aksi balas dendam kesumatnya.
Berpikir bahwa Ibunya akan sangat mendukung dengan keputusannya untuk menikahi Tiur, sekarang kepercayaan diri Javas justru mulai mengecil setelah mendengar penuturan Ibunya.
Jika Ibunya saja sudah bicara begitu, lalu Javas harus meminta dukungan dari siapa lagi? Jeremy? Tentu saja pria tua itu justru akan mengolok-oloknya. Oh, bahkan Javas berniat tidak mengundang sang Daddy bila suatu saat berhasil menikahi Tiur.
Lalu, Chandra? Itu ide yang buruk. Siapa lagi, Soraya? Ah, itu lebih buruk lagi.
Kemudian, karena dirasa buntu dan jalan satu-satunya adalah memohon pada sang Ibu, maka Javas berlutut di depan Amanda. Percayalah, hatinya benar-benar menginginkan Tiur.
Amanda tentu saja terkejut melihat tindakan sang sulung yang keras kepalanya melebihi kerasnya batu karang itu. Meneliti ekspresi Javas yang hanya diam berlutut di depannya. Amanda sedang menunggu sang anak melontarkan kalimat permohonan.
Hingga dua minggu kemudian, setelah memikirkan baik-baik keinginan sang anak untuk menikahi Tiur, Amanda memutuskan membantu Javas untuk meminta restu pada Kakak Tiur.
Amanda tidak datang seorang diri untuk bertamu ke rumah Ratama. Ibu dua anak itu juga mengikutsertakan Jeremy—meski Javas sudah memberinya peringatan untuk tidak melibatkan sang Daddy, Amanda tetap membawa suaminya itu.
Di seberang meja tamu, Ramata tampak bingung dengan kehadiran pasutri konglomerat di depannya. Setelah berbulan-bulan tidak ada komunikasi apapun, tiba-tiba saja mereka datang dengan alasan ingin melihat keadaan Tiur.
"Jadi begini, Tam. Eumm... sebenarnya ada hal lain yang ingin kita sampaikan kepada Tiur." Amanda memulai obrolan ditengah keheningan ruang tamu kediaman Ratama. Andai ada Kirana disini, pasti suasananya tidak akan semencekam ini. Sayang sekali wanita itu sedang tidak ada di rumah.
"Kalian bisa menyampaikannya kepada saya." Sahut Ratama sangat tidak ramah, sama seperti raut wajahnya saat ini.
Jeremy menghembuskan napas berat. "Biar aku yang bicara," Katanya pada sang istri, kemudian tatapannya beralih ke Ratama, "Ratama, mungkin ini agak sedikit gila untuk di sampaikan. Tapi, saya harus menyampaikannya. Kamu masih mengingat anak saya kan? Sekarang dia ingin bertanggung jawab lebih atas tindakannya kepada adikmu."
Ratama justru tertawa kecil untuk meremehkan. Maksud mereka, tanggung jawab apalagi? Apakah itu berhubungan dengan uang? Ratama tidak butuh hal materi dari mereka.
"Bentuk tanggung jawab apalagi yang kalian maksud? Sudahlah, semuanya kan sudah clear dan sudah tidak ada urusan apapun lagi dengan kalian. Masih baik lhoh, saya nggak memenjarakan anak sialan itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Fiction généraleJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
