Selepas kepergian Barsha bersama Galaxy, Samudra kembali ke rooftop gedung milik kakeknya. Di sana, ia termenung ditemani oleh sebotol wine dan rokok yang berada di sela-sela jarinya.
Ucapan demi ucapan yang Barsha lontarkan terus saja terngiang dalam benaknya. Semakin lama Samudra memikirkan Barsha, semakin pula hatinya terasa remuk.
"Maafin gue, Sam. Tapi gue gak bisa. Hati gue udah kekunci buat siapapun selain Galaxy,"
Kalimat itu terus saja menari di dalam benaknya. Mata Samudra tertuju pada gelas yang digenggamnya, sedangkan pikirannya melayang mereka ulang adegan-adegan yang telah terjadi.
"Bro!" Samudra terhentak ketika seseorang mengintrupsi dirinya.
Ternyata itu Gelvin. Memang, tadi Samudra menghubungi sepupunya itu untuk menemani dirinya yang sedang kacau balau.
Gelvin mengernyitkan keningnya ketika melihat Samudra terlihat acak-acakan.
"Barsha?" ujar Gelvin tepat sasaran.
Walaupun Samudra tak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Gelvin, mamun cowok itu dapat menangkap bagaimana tatapan mata Samudra ketika tengah melihat Barsha.
"Jiakhh first try udah NT aja," Gelvin cekikikan tanpa maksud menyinggung perasaan Samudra. Dirinya hanya ingin tertawa, sebab pemandangan Samudra dibuat berantakan oleh seorang perempuan adalah hal baru baginya.
"Santai aja kali, Barsha mah aman. Orang si Galaxy nya gak demen sama dia. Galaxy kan demennya sama si Cle," kata Gelvin bermaksud menenangkan Samudra.
"Lo pepet terus lah, jangan sampe kendor," lanjut Gelvin.
"Masa tukang gelut galau cuman gara2 cewek, malu sama kon lo, njing," Gelvin terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Lagian lo kok bisa suka sama orang? Gue kira lo gak punya perasaan,"
"Gue juga manusia," Samudra menimpali seraya menoyor kepala Gelvin.
Kehadiran Gelvin mampu membuat kondisi Samudra membaik, walaupun cowok itu sering menjayus, namun itu cukup membuat Samudra terhibur.
Gelvin adalah seorang cowok dengan kemampuan berpikir diluar nalar. Komedi dilur nalar dan tingkah laku diluar nalarnya kerap kali membuat orang geleng-geleng kepala, namun hal itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi Samudra.
Sekejap, Samudra dapat melupakan rasa pilunya. Pikiran tentang Barsha pun perlahan sirna dihempas oleh canda gurau Gelvin.
"Muka lo kenapa?" Samudra bertanya ketika ia baru menyadari terdapat luka lebam di wajah Gelvin.
"Telat anjing. Otak lo tuh isinya Barsha mulu," semprot Gelvin dengan nada tinggi
"Gue kemarin ribut sama supir angkot, tu si anjing malah maling jalan gue, hampir aja gue ketabrak. Gue kejar lah tu angkot. Udah itu gue ajak ribut, eh malah gue yang digebugin sampe jerawat mateng di pipi gue masuk ke dalam." Gelvin bercerita dengan berapi-api diiringi ekspresi wajahnya yang konyol, hal tersebut kerap kali membuat lawan bicara Gelvin tertawa. "Ilang ni jerawat gue, tapi masuk ke dalem,"
"Bisa gak kalo ngomong pelan-pelan, jangan belepotan kayak gitu," Samudra menoyor Gelvin, dirinya dibuat bingung oleh pemilihan kata Gelvin yang sulit untuk dicerna.
"Gue lagi emosi nih! Lo gak usah ngatur," Gelvin berteriak diringi raut wajahnya yang terlihat sedang kesal.
Ketika Samudra telah dalam kondisi tenang, Barsha mengiriminya sebuah pesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gun N' Loves [END]
Ficção AdolescenteTeen Fiction X Action Melewati masa-masa remaja dengan monoton adalah suatu hal yang Galaxy sesali di usianya yang telah menginjak 21 tahun. Ketika para remaja 17 tahun bersenang-senang, Galaxy di balik tembok besi sana berlatih tembak runduk. Ketik...
![Gun N' Loves [END]](https://img.wattpad.com/cover/191747045-64-k955410.jpg)