Barsha terperanjat dari tidur dengan napas yang memburu dan keringat bercucuran yang membasahi seluruh permukaan badannya. Ternyata itu hanyalah sebuah mimpi, di satu sisi Barsha sangatlah bersyukur bahwa kejadian yang dialaminya hanyalah mimpi belaka. Namun di sisi lain, mengapa mimpi itu terasa sangatlah nyata? Dan Axel, seseorang misterius di kelasnya baru saja menjadi bunga tidur yang mengerikan.
"Axel?" gumam Barsha. Dirinya tak pernah mempercayai mimpi, baginya mimpi hanyalah sekedar bunga tidur yang tak berarti apa-apa. Namun setelah Axel berada dalam mimpinya, Barsha menjadi takut. Takut akan hal-hal mengerikan akan menimpanya kembali. Rasanya Barsha tak pernah bernapas lega, bahkan ia sudah lupa bagaimana rasanya menghirup udara dengan tenang tanpa merasa takut akan sesuatu.
Diliriknya jam dinding yang menunjukan pukul 02.30, Barsha merasakan hawa yang tak mengenakan dan suasana yang terasa mencekam, lantas ia memutuskan untuk menghubungi Zico melalui ponselnya agar sang adik menemaninya saat ini.
"Malah ga aktif," Barsha berdecak ketika panggilan Zico disahut oleh operator.
Barsha berpikir keras, ia tidak mempunyai jalan lain, selain dengan menghubungi Galaxy yang rumahnya berhadapan dengan rumah dirinya. Alhasil ia mengikuti apa kata logikanya.
Di sebrang sana, Galaxy yang tengah tertidur pulas, tiba-tiba saja dibangunkan oleh dering ponselnya yang berbunyi. Tanpa Galaxy periksa siapa gerangan sang penelopon, ia sudah mengetahuinya lebih dulu. Sebab cowok itu sengaja memasang dering telpon yang berbeda untuk Barsha.
Galaxy mengernyit, sebelumnya Barsha tak pernah menghubunginya di tengah malam. Jadi, apa gerangan yang membuat cewek itu menghubunginya di malam buta seperti ini? Tak mau berlama-lama, Galaxy segera mengangkat panggilan tersebut dengan perasaan cemas.
"Halo? Kenapa, Sha?" Galaxy membuka suara, kantuknya seketika sirna berganti dengan perasaan harap-harap cemasnya.
"Gal," panggilan Barsha terdengar lemah.
"Kenapa? Ada apa lo nelpon gue pagi buta gini, lo gak kenapa-kenapa kan?" terdengar nada khawatir pada suara Galaxy.
"Gue-- " suara Barsha terbata-bata, bahkan untuk menceritakan mimpinya saja, rasanya sulit.
"Kenapa Barsha? Ada apa, ayo ngomong,"
"Emm, lo bisa nemenin gue gak? Temenin gue ke kamarnya Zico, gue takut buat keluar kamar, dia Hp-nya gak aktif," Barsha meminta.
"Gue ke sana sekarang,"
Panggilan diputus secara sepihak oleh Galaxy, sebab cowok itu segera bergegas menuju rumah Barsha.
"Malam Pak," sapa Galaxy terhadap satpam yang berjaga di rumah Barsha.
"Eh den Galaxy, aden mau masuk?" Satpam tersebut sudah terbilang akrab dengan Galaxy. Terlebih Zico juga mengatakan terhadapnya bahwa Galaxy adalah seseorang yang dapat dipercaya. Sehingga ia mempersilahkan Galaxy untuk masuk.
Setelah berada di ruang bersantai, Galaxy mengirimkan Barsha pesan untuk meyakinkan bahwa rumah ini dalam keadaan aman, kemudian ia meminta Barsha untuk keluar dari kamarnya yang berada di lantai 2.
Tak lama, muncul sosok Barsha lengkap mengenakan piama kedodoran yang melekat di tubuhnya. Hal tersebut ternyata mampu membuat Galaxy menahan senyumnya agar tidak terbit.
"Bagus," Galaxy mengacungkan jempol ketika Barsha berdiri di hadapannya.
"Hah?"
"Bagus lo gak pake baju seksi,"
Mendengar itu, Barsha seketika memperhatikan piama yang dipakainya. Matanya memang menatap piama, namun pikirannya melayang mereka ulang mimpi yang baru saja dimimpikannya. Galaxy yang menyadari bahwa Barsha tengah melamun itu, lantas memegang bahu Barsha agar beliau kembali menuju alam sadar.
"Lo kenapa?"
Barsha duduk, ia juga mengisyaratkan Galaxy untuk ikut duduk di sampingnya. "Makasih ya udah nyamperin gue, gue cuman minta ditemenin ke Zico. Kalo udah, lo boleh pulang lagi. Maaf juga kalo gue ganggu lo pagi buta kayak gini,"
"Gue nanya daritadi gak dijawab mulu. Lo kenapa, Sha? Jawab!"
"Gue mimpi buruk, tapi tenang itu cuman mimpi kok," Barsha berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Lo mimpi apa?"
"Gue mimpi Axel ngebunuh gue, Gal," jawab Barsha dengan tubuh bergetar.
"Gue takut, mimpinya kayak nyata," lanjut Barsha, spontan Galaxy mendekat, kemudian cowok itu merengkuh tubuh Barsha dan memeluknya.
Galaxy mengusap halus punggung Barsha untuk menyalurkan ketenangan. Sejujurnya Galaxy merasa terkejut mendengar pernyataan dari Barsha, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk tampil tenang agar cewek dipelukannya itu tidak merasa ketakutan.
"Lo tenang aja, itu cuman mimpi," bisik Galaxy.
Galaxy bertekad untuk sesegera mungkin menangkap Axel. Jika kemarin tujuan Galaxy menangkap Axel adalah untuk mencari tahu tentang orang tuanya, namun kini tujuan itu telah berubah, berganti dengan dirinya yang ingin menghabisi Axel agar beliau tidak mencelakai Barsha.
:::0:::
Galaxy tidak pernah main-main dengan ucapannya, jika dirinya telah menjanjikan sesuatu, maka ia akan menepati janjinya. Seperti saat ini, kini Barsha berada di dalam mobil Galaxy, bersama-sama mereka menempuh perjalanan menuju sekolah.
Cowok bertubuh tegap itu telah memerintahkan kepada Zico, Samudra, Gelvin juga Kevlar untuk menjaga Barsha di sekolah. Barsha tidak boleh lepas dari jangkauan mereka barang sedikitpun, ia benar-benar khawatir sesuatu buruk akan menimpa Barsha.
"Gal?" panggil Barsha. Sejak awal kenerangkatan, Galaxy terus saja bergeming dengan raut wajah yang tegang. Seolah mentransferkan ketegangan, Barsha pun ikut merasa tegang.
"Galaxy!" panggil Barsha entah yang keberapa kalinya.
"Apa?" Galaxy sedikit terhentak, bagaimana tidak, dirinya sejak tadi kehilangan fokus dengan memikirkan bagaimana strategi menangkap Axel dengan cepat.
"Lo kenapa, sih?" Barsha bertanya.
"Enggak," timpal Galaxy sambil menggeleng-gelengkan kepala, matanya menatap lurus jalan raya yang sedikit padat.
Keheningan yang tercipta dipecahkan oleh deru mesin motor Harley yang terdengar begitu nyaring di pendengaran Galaxy juga Barsha. Ternyata, sang pengendara ialah Samudra. Samudra yang melaju tepat di samping Barsha itu meginstruksikan kepada Barsha agar membuka kaca jendela mobilnya. Lalu, datang seseorang dengan motor yang nyaring pula melaju tepat di samping Galaxy. Seseorang itu merupakan Zico.
Jadi, Mobil yang ditumpangi oleh Barsha dan Galaxy itu diapit oleh dua motor yang dikendarai masing-masing oleh Samudra juga Zico.
"WOI LO PADA NGAPAIN?!!" Galaxy berteriak untuk mengimbangi suara mesin motor yang nyaring, cowok itu geleng-geleng dengan menampilkan deretan giginya, ia tak habis pikir dengan tingkah laku kedua temannya itu.
"NGAWAL PRINCESS, CUY," teriak Zico.
"Dih lo ngejek gue princess hah?" seru Barsha.
"Gal, mereka ngapain, si?" Barsha bertanya pada Galaxy yang direspon dengan kedikkan bahu.
"Gabut kali,"
Akhirnya, mereka pun tiba di sekolah. Seketika saja mereka menjadi pusat perhatian di lapangan parkir. Bagaimana tidak, di sana terdapat 3 buah kendaraan dengan deru mesin yang terdengar begitu memekakan telinga sedang dinaiki oleh 4 orang yang populer. Jadi wajar saja jika semua perhatian terpusat kepada mereka.
Barsha, Zico, Samudra dan Galaxy berjalan beriringan untuk menuju kelas masing-masing. Ketika Barsha dan Zico sibuk bercengkrama, Samudra melambatkan langkahnya sambil memegang bahu Galaxy.
"Besok bagian gue yang berangkat sama Barsha," Samudra berbisik agar ucapannya tidak terdengar oleh Barsha dan Zico.
"Gak," sahut Galaxy datar.
:::0:::
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Gun N' Loves [END]
Teen FictionTeen Fiction X Action Melewati masa-masa remaja dengan monoton adalah suatu hal yang Galaxy sesali di usianya yang telah menginjak 21 tahun. Ketika para remaja 17 tahun bersenang-senang, Galaxy di balik tembok besi sana berlatih tembak runduk. Ketik...
![Gun N' Loves [END]](https://img.wattpad.com/cover/191747045-64-k955410.jpg)