Galaxy memeluk Barsha secara erat, seolah dirinya akan kehilangan cewek didekapannya itu jika ia melonggarkan pelukannya sedikitpun.
"Gal?" Barsha nampak terkejut dengan kehadiran Galaxy yang tiba-tiba, ia pun berusaha secara perlahan untuk melepaskan pelukan Galaxy. Namun cowok itu menolak untuk menjauh, ia kembali merapatkan pelukannya.
Dapat Barsha rasakan jika hembusan napas Galaxy yang berada di tengkuknya, membuat ia merasa geli. "Gal, gelii," rengek Barsha sambil berupaya menjauhkan lehernya dari hidung Galaxy.
Tanpa Barsha ketahui, cowok yang sedang menenggelamkan kepalanya pada leher cewek itu sedang tersenyum. Rasa nyaman dan tenang menyelimuti hati Galaxy, ia sangatlah bersyukur Barsha dalam keadaan baik-baik saja.
Galaxy menegakan lehernya untuk menatap lekat bola mata Barsha. Tangan kirinya berkelana membelai halu pipi Barsha selama beberapa saat, kemudian beralih dengan membelai rambut cewek itu. Sedangkan tangan kanannya masih memeluk tubuh Barsha.
"I'm glade you're here, gue pikir lo kenapa-kenapa."
"Emangnya gue kenapa?"
"Never mind, as long as you are with me, you will be allright. I promise."
"Gal?" Barsha nampak dilanda kegelisahan, cewek itu melepaskan pelukan Galaxy. "Gue kenapa lagi?"
Galaxy menggelengkan kepalanya, ia kembali membelai halus rambut Barsha, berupaya untuk memberikannya ketenangan.
"Mulai besok, lo pulang pergi sekolah sama gue."
Persetan dengan janjinya terhadap Samudra yang mengatakan bahwa dirinya akan menjauhi Barsha, baginya keselamatan Barsha sangatlah penting.
"Gue gak akan pernah bisa tenang hidup, ya?" Barsha menatap Galaxy dengan tatapan nanar. Selama ini Barsha tak pernah hidup dengan tenang, suatu hal buruk selalu menimpanya. Kejadian demi kejadian yang Barsha alami pun sebenernya membuat dirinya merasa trauma, namun cewek itu berusaha kuat untuk nampak baik-baik saja di hadapan orang-orang.
"Gak. Lo gak kenapa-kenapa, gue yang terlalu khawatir takut lo kenapa-kenapa. Gue janji, hidup lo bakal lebih baik, asalkan lo sama gue," Galaxy sedikit menyesal karena sudah membuat Barsha merasa ketakutan.
"Sama lo? As your sister?" Barsha berucap dengan hari teriris, lagipula ia sudah tahu jawabannya.
Galaxy mengangguk.
:::0:::
Barsha memang tak pernah menggapai Galaxy. Menembus hati Galaxy walau ia sudah berusaha dengan kuat pun, Barsha tak mampu. Barsha sadar, seberapa kuat dirinya untuk menggapai Galaxy, ternyata itu tak lebih kuat dari perasaan Galaxy terhadap Cleopatra. Menyedihkan memang, namun itulah sebuah fakta yang harus diterimanya.
Barsha akui, dirinya telah dibuat jatuh cinta oleh Galaxy. Bodohnya Barsha, ia terlarut sangat dalam hingga melupakan bahwa ekspetasi yang terlalu tinggi dapat membuat dirinya hancur sendiri.
Dan ia juga tidak mengerti mengapa perasaannya bisa sebegitu dalam ini, hingga ia menghempas siapapun yang berusaha menggapai hatinya hanya untuk seseorang yang tidak menaruh hati padanya.
Getaran ini semakin membara ketika pandangan kita saling beradu.
Rasa ini semakin besar seiring berjalannya waktu.
Pikiran ini semakin kacau tatkala membayangkanmu bersama dengan orang lain.
Sialnya aku, aku terjebak dengan perasaan ini.
Aku terjebak semakin dalam dan dalam.
Hingga aku tidak tahu caranya untuk terbebas dari lubang mengerikan ini.
Yang aku inginkan hanyalah melupakan kamu.
Iya kamu, seseorang yang bahkan tak menatapku sama sekali.
Seusai menuangkan perasaannya pada sebuah buku tulis, ia kemudian melemparkan buku tersebut sembarangan. Kadang kala, Barsha senang menulis hanya untuk sekedar mencurahkan isi hatinya. Walau ia tak mempunyai buku khusus, karena ia pikir menulis bukanlah kegemarannya, ia menulis hanya karena tidak mempunyai sandaran untuk dijadikan sebagai tempat berkeluh kesah.
Tak lama, pintu kamar yang tertutup itu diketuk. Barsha langsung mempersilahkan, karena ia tahu jika bukan Zico, maka Bi Inahlah yang masuk ke kamarnya.
"Barsha," ketika pintu dibuka, bukanlah Zico ataupun Bi Inah yang muncul, melainkan Axel.
Axel tersenyum smirk menatap Barsha. Di tangannya terdapat sebuah kotak.
Barsha terperanjat, jantungnya serasa mau lepas dari tempat. Napasnya memburu, detak jantungnya berdegub kencang dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Detik-detik kemudian Axel berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Barsha yang tak siap dengan situasi seperti ini, lantas hanya bisa membeku menatap Axel dengan sorot mata ketakutan.
Axel membelai halus rambut Barsha, kemudian beralih dengan membelai permukaan wajah hingga tangan cewek itu.
"Lo orang yang paling gue pengen," bisik Axel tepat di telinga Barsha. "Gue udah nunggu momment ini dari lama,"
"Barsha, akhirnya gue bisa dapetin lo," Axel berbisik kembali, membuat tangis Barsha pecah. Selama ini ia selalu menahan tangisnya agar tidak keluar di hadapan sang musuh, namun kali ini ia tak dapat menahannya lagi, Axel berhasil membuat Barsha sangat ketakutan.
"Pergi!" Barsha meronta, berusaha terbebas dari cengkraman Axel yang sangat kuat.
"Sst," Axel mendekatkan wajahnya terhadap wajah Barsha. Cowok itu menatap bibir Barsha penuh gairah. Namun ada yang lebih menggairahkan dari sekadar bibir.
Axel mencengkram leher Barsha dengan kuat, hingga membuat cewek itu hampir kehabisan napas. Setelah puas mencekik lehernya, kini tangan Axel beralih mengikatkan tangan Barsha pada kursi.
Barsha meronta-tonta, mulutnya berteriak memohon ampun terhadap Axel. Namun Axel seolah menulikan telinganya, cowok itu malah mengambil kotak yang berada di lantai.
"Gue gak akan lama, kok," Axel berucap seraya mengeluarkan benda-benda yang terdapat di dalam kotak.
Barsha menjerit ketika melihat pisau, obeng, tang dan berbagai benda tajam lainnya yang berada tepat di depan kakinya.
Axel tak mau lama-lama bermain, ia lantas membawa pisau tajamnya. Sebagai pemanasan, Axel menggoreskan pisau pada permukaan badan Barsha.
Barsha merintih kesakitan, tangannya berdenyut hebat. Rasa nyeri di sekujur tubuh Barsha membuat dirinya pasrah dengan dunia. Jika mati dengan dibunuh adalah jalan hidupnya, maka Barsha akan menerima dengan lapang dada.
:::0:::
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Gun N' Loves [END]
Roman pour AdolescentsTeen Fiction X Action Melewati masa-masa remaja dengan monoton adalah suatu hal yang Galaxy sesali di usianya yang telah menginjak 21 tahun. Ketika para remaja 17 tahun bersenang-senang, Galaxy di balik tembok besi sana berlatih tembak runduk. Ketik...
![Gun N' Loves [END]](https://img.wattpad.com/cover/191747045-64-k955410.jpg)