"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bultaoreune FIREEEEEEE (Ayy, ayy-oh, ayy-oh) Ssak da bultaewora Bow-wow-wow (Ayy, ayy-oh, ayy-oh) Ssak da bultaewora Bow-wow-wow
"Huftt" Elara bernafas lega setelah menghabiskan mini concertnya di hadapan penonton - eh ralat depan cermin maksudnya.
Ayoo ngaku siapa yang sering concert sendirian pas gaada orang dirumah? Sambil ngebayangin diri sendiri jdi kpop idol. Atau gak banyangin lagi ada di award show terus buat reaction ke perfomance kpop idol lain. Ngaku kalian.
"Oh iya jam berapa ya sekarang?" tanya Elara sembari membuka handphonenya
12:30AM
"WHAT THE PAK!?!?" pekik Elara kaget. Mampus. Elara gak seharusnya tidur lewat dari jam 12.
Elara punya satu penyakit langka dimana ketika dirinya tidur lewat, esoknya pasti dia bakal pusing kepala seharian. Ini gak bisa dibiarin, dia harus tidur sekarang juga.
Dengan pantas Elara naik ke kasur nya dan berusaha memejamkan mata.
-
Keesokannya, seperti yang diduga. Elara pusing bukan main. Mukanya pucat, penampilannya juga gak teratur. Ia gak punya semangat sama sekali buat dandan cantik hari ini.
"Zar please rasanya gue mau mati." lirih Elara tidak semangat. Tuhan bunuh saja dirinya, dunia Elara seperti beputar.
"Mau gue anterin ke uks?" cemas Karina. Tangannya memegang dahi Elara, tubuh sahabatnya itu sangat panas.
"Gak usah. Gue bisa sendiri." Elara menolak lalu berdiri perlahan.
"Tar gue bilangin ke Bu Jicu kalau lo izin ke uks." ucap Zara.
"Thanks. Gue ke uks dulu." pamit Elara.
Elara memegang kepalanya, berjalan terhuyung ke kiri kanan. Benar benar pusing.
Bisakah didetik ini Elara berharap agar pangeran tiba tiba muncul membawanya ke uks.
Pandangan mata Elara semakin buram, badannya mulai tidak seimbang.
GEDEBUK
Tubuh Elara jatuh kelantai, matanya tertutup rapat dan hilang kesadaran.
"Nat lo liat deh, tu cewe ngapain baring di tengah jalan kayak gitu?" tanya Devan penasaran.
Kebetulan Nathan dan Devan yang mau ke rooftop melihat Elara yang tergeletak di lantai.
"Pingsan kali." jawab Nathan santai.
Sama sekali tidak tertarik. Eh tapi sebentar, kok Nathan kayak tidak asing dengan muka tu cewe? Kayak pernah liat, tapi dimana?
"ANJIR GUE MAU BANTUIN TU CEWEK. NAT LO KE KANTIN BELIIN TEH SANA." panik Devan sebelum buru buru berlari membantu Elara.
"Nyusahin." ketus Nathan tapi tetap bergerak kekantin.
-
"Nghh..." Elara perlahan membuka matanya, melihat sekitarnya sebelum matanya jatuh ke sosok pria yang duduk disamping dirinya.
"Teh. Gue cabut." ucap Nathan singkat lalu menghulurkan teh yang sudah keburu dingin karna terlalu lama nunggu Elara sadar.
Si Devan laknat itu malah ninggalinnya setelah membawa Elara ke uks. Mau gak mau, Nathan yang terpaksa menunggu Elara sadar.
"Omo, jangan bilang lo yang bawa gue kesini." mata Elara berbinar memandang Nathan. Seketika sakit di kepalanya langsung hilang. Apakah ini jawaban dari tuhan kepadanya tadi?
"Mimpi lo ketinggian, bukan gue." ketus Nathan lalu berdiri meninggalkan ruangan itu.
"Lah? Katanya bukan dia tapi kok bisa disini?" bingung Elara. Apapun, Elara cukup senang, ia meminum teh yang diberikan Nathan sebentar tadi.