25 | JENGUK

86.5K 3.5K 8
                                        

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-

Bingung.

Ya satu kata yang mendeskripsikan keadaan Nathan. Sedari tadi Elara terus-terusan menangis dan merengek pengen bertemu Aditya. Elara masih rasa bersalah karna membiarkan Aditya pergi dalam keadaan kritikal waktu itu.

"Ra udah dong sayang. Kamu gak capek nangis terus?" Nathan menghapus air mata Elara yang terus saja mengalir.

"K-Kamu gak n-ngerti Nat hikss... w-waktu itu di-dia berdarah hiks banyak b-banget hiks..." jelas Elara sesegukan.

Nathan membawa Elara ke pangkuannya. Tangannya membelai lembut pipi gadisnya itu dan sedikit menarik pipi Elara agar menatapnya.

Jujur Nathan sangat kagum dan salut terhadap Aditya. Dalam keadaan yang bisa dibilang lumayan menyakitkan dia masih mengutamakan keselamatan Elara. Sungguh Nathan terhutang budi.

"Dia udah membaik sayang. Gak ada yang perlu kamu tangisin. Tadi aja dia nelfon minta beliin pizza. Ngidam katanya." Nathan berusaha membujuk Elara. Dan benar saja mendengarkan itu, tangisan Elara mulai berenti.

"T-Terus kenapa kamu gak izinin aku jenguk dia?"

Nathan mengusap kaki Elara yang dibalut dengan perban. "Kaki kamu belum sembuh. Aku janji kalau kaki kamu udah sembuh, kita bakal jenguk Aditya okay?"

"Kelamaan Nathan." rengek Elara. Sudah masuk hari ke 5 semenjak kejadian dimana Elara diculik oleh Max. Dan sekarang keadaan telah kembali seperti biasa.

Aditya yang mulai sembuh, Max Zayden yang ditangkap polisi karna kasus narkoba dan senjata haram. Tidak lupa Nathan yang semakin overprotektif ke Elara.

"Yaudah makanya obat yang dibagi sama doktor dimakan."

Elara mengerucutkan bibirnya kesal. "Kamu kan tau aku gak suka makan obat."

"Makin lama kamu sembuh waktu buat kamu jengukin Aditya juga makin lama." jelas Nathan santai, tidak peduli dengan mata Elara yang kembali berkaca-kaca.

"Y-Yaudah obatnya mana."

Nathan tersenyum kemenangan. Dengan senang hati ia meraih obat diatas nakas tanpa melepaskan pelukannya dari Elara.

"Aaaa buka mulutnya." Nathan membantu Elara memakan satu persatu sampai semuanya habis.

"Pinternya sayangku." Nathan mengecup lembut pipi Elara yang lembap karna air mata.

Sepertinya pipi Elara adalah salah satu favoritnya. Nathan selalu gemes melihat pipi gembul dan putih itu. Terkadang juga Elara sampai menangis karna pipinya yang digigit atau dicubit oleh Nathan.

Gak tau apa itu sakit? Elara yakin kalau Nathan terus-terusan nyerang pipinya, pipinya bakal kendor satu hari nanti.

Elara menyenderkan kepalanya didada bidang Nathan, mencari kenyamanan. Perlahan tangan Nathan mengusap lembut punggung Elara sebelum membantu gadisnya itu untuk baring.

Nathan yakin efek obat itu sebentar lagi bakal membuat Elara mengantuk.

"Maafin aku karna udah nyusahin kamu dan buat Aditya celaka..." lirih Elara.

"Semuanya terjadi bukan atas kemahuan kamu, jadi gak ada istilah kamu yang salah disini ngerti?" jelas Nathan tidak terima Elara menyalahkan dirinya sendiri.

Elara mengangguk sedih, semakin mengeratkan pelukannya. Ia cukup beruntung dan berterima kasih dikelilingi pacar dan sahabat yang sayang kepadanya.

Elara masih inget bagaimana Zara dan Karina histeris melihat keadaan Elara dimarkas waktu itu. Nathan menghubungi dokter pribadinya untuk merawat Elara di markas. Tidak lupa juga untuk menghubungi Zara dan Karina untuk menemani gadisnya itu.

"Aku mohon setelah ini jangan kemana pun tanpa kabarin aku dan bawa handphone kamu selalu. Gimana kalau kejadian waktu itu keulang lagi? Aku gak bakalan bisa maafin diri aku kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi ke kamu Ra." Nathan menahan air matanya yang ingin tumpah.

Hanya tuhan yang tau betapa panik dan bagaimana ia hampir gila mencari Elara waktu itu. Apalagi setelah melihat kondisi Elara, gadis yang ia jaga mati-matian dibuat babak belur dan berantakan seperti itu. Hatinya remuk dan hancur.

"Maaf. Aku janji gak bakal kayak gitu lagi."

-

"Dev urat malu lo putus atau gimana?" Aditya menatap malas Devan yang sibuk menghabiskan buah-buahan yang seharusnya untuk dirinya.

"Lo sakit Dit, gue sebagai sahabat yang baik rela bantuin lo makan semua ini. Daripada mubazir." jelas Devan tidak bersalah.

"Yang sakit pinggang gue bukan mulut gue monyet. Gue masih bisa ngunyah." Aditya mendengus frustasi. Terserah Devan saja lah. Ia menyerah.

"Dev mau dong." Zara dan Karina juga tanpa segan dan tanpa malu ikut makan. Ahh Aditya makin pusing.

"Dit besok lo udah bisa discharge." ujar Adlan sembari membantu Aditya mengemas barangannya.

"Yahhh padahal gue masih pengen disini. Suster nya pehhh pada gede gede." Aditya mengeluh menunjukkan kekecewaannya.

"Apanya gede?" tanya Devan ambigu.

"Kebaikannya." balas Aditya.

"Ohh kirain."

"Enak aja. Lo mau ngehabisin duit Nathan? Lo sehari aja disini biaya nya jutaan." ucap Adlan tidak terima.

Memang benar, Nathan yang menawarkan untuk membayar kos operasi dan semuanya untuk Aditya sebagai tanda terima kasih. Tidak lupa ruangannya yang first class.

"Tenang gue tau pakbos kita itu gak bakal jatuh miskin. Bagi dia puluhan juta cuman hujung kuku." jelas Aditya yang sememangnya benar.

TOK TOK TOK

Ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka. Disana Nathan dan Elara masuk.

Mata Elara berbinar dan langsung menghampiri Aditya. Ia bahkan memeluk leher Aditya, terlalu seneng akhirnya bisa jengukin pria itu.

"Aaaaa gue seneng banget akhirnya bisa jenguk monyet jadian kayak lo. Makasih udah selametin gue waktu itu."

"Gak bisa nafas woi!" Aditya berusaha melepaskan pelukan Elara. Bukan itu alasan sebenarnya. Ia takut dengan tatapan Nathan yang tajam.

Elara akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali ke Nathan. Nathan melingkarkan tangannya dibahu Elara, lalu mengecup lembut dahi gadisnya itu. "Gimana udah puas kan?"

Elara mengangguk dan tersenyum.

"Kondisi lo gimana?" tanya Nathan ke Aditya.

"Udah mendingan. Makasih Nat." ucap Aditya yang dibalas anggukan oleh Nathan.

"Kaki lo gimana Ra?" tanya Karina, tangannya menunjuk kaki Elara yang dibaluti perban.

"Masih nyeri dikit tapi udah bisa jalan." jawab Elara tersenyum sembari menunjukkan kakinya yang masih dibaluti perban.

Sebenarnya kaki Elara sudah mendingan dan perbannya diperbolehkam untuk dibuka. Tapi Nathan bersikeras ingin perbannya dibuka sehingga kaki Elara benar-benar sembuh. Lebay memang.

"Sini duduk." Nathan menepuk pahanya, memberi isyarat pada Elara untuk duduk disitu. Bisa dibilang pangkuan Nathan menjadi tempat favorit Elara sekarang.

Apa itu kursi? Paha Nathan sudah cukup.

Elara menuruti kemahuan Nathan, tidak ingin membantah karna sebelum ke sini Elara berjanji bakal dengerin omongan Nathan. Kalau nggak, ia bakal disuruh pulang.

TOK TOK TOK

Mereka sontak mengarahkan pandangan mereka ke pintu.

POSSESIVE NATHAN (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang