"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
"MAKSUD LO APA BANGSAT?!"
Nathan menarik kasar kerah baju salah satu satpam di rumah Elara.
Nathan berniat untuk menjemput gadisnya itu hari ini. Tapi malah dibuat emosi setelah mengetahui Elara ternyata gak pulang rumah dari semalam.
"S-Saya gaktau. Non Elara tadi malem keluar ke minimarket tapi belum pulang sampai sekarang." jelas satpam itu. Sedikit takut karna muka Nathan seperti ingin memakannya.
"TERUS LO DIEM AJA GITU PAS DIA GAK PULANG?! Gila!" Nathan melepas kerah baju itu dan menolaknya hingga satpam itu jatuh tersungkur ke tanah.
Nathan mengacak rambutnya frustasi. Kemudian mengambil handphonenya untuk memberitahu anggota Black Rumble yang lainnya agar membantunya mencari Elara.
"Kamu dimana sayang..." batinnya khawatir.
-
Silau. Elara berusaha menyesuaikan matanya daripada cahaya yang silau dan menyakitkan matanya.
"Nghhh..."
Elara merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak dan sakit. Ada apa ini? Tangan dan kakinya juga tidak bisa digerakkan.
"Max ni cewe udah sadar."
Elara menatap sekelilingnya, dimana beberapa pria menatapnya dengan pelbagai tatapan. Ada yang menatapnya jijik, marah, datar, bahkan ada yang menatapnya secara nafsu.
Kenapa dirinya bisa sampai disini? Tempat kotor dipenuhi asap rokok dan minuman keras dimana-mana. Belum lagi mau yang kurang enak buat dihidu.
"Apa susahnya nurut dari awal? Lo gak bakalan begini." ucap Max, tangannya mengusap rambut Elara sebelum dijambak dengan kasar membuat kepala Elara menengadah ke atas.
"Asal lo tau, pacar lo yang sampah itu selalu merasa dirinya terpaling jago, terpaling keren. Selama ini gue susah payah cari kelemahannya. Dan sekarang gue gak sabar pengen liat reaksinya saat tau pacar kesayangannya ini ada ditangan gue."
"LEPASIN GUE!" teriak Elara, kepalanya terasa sakit karna jambakan Max lumayan kenceng. Elara cuba menggerakkan badannya tapi nihil, yang ada ikatan di tubuhnya semakin kenceng.
"Gue yakin pacar lo itu gak bodoh. Dia bakal ke sini. Dan saat dia kesini..." Max menggantung ucapannya dan mengusap wajah Elara. "Dorr... dia bakal mati." sambungnya sebelum melepas jambakannya.
Air mata Elara mengalir saat salah satu pria disitu menutup mulutnya dengan tape. Elara hanya bisa berdoa agar Nathan gak kepikiran buat kesini.
Demi apapun Elara bakal rasa bersalah kalau sampai terjadi apa-apa ke Nathan yang ingin menyelamatkan dirinya. Jangan sampai!
-
"Nat ada anak Black Rumble yang liat geng Aodra di area kita semalam." jelas Adlan serius. Ia menunjukkan foto dari handphonennya.