"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
"Nat ajarin gue ini dong." Anna dengan lancang mendekatkan tubuhnya ke Nathan.
Nathan yang kurang nyaman dan risih sedikit menjauhkan posisinya. "Kurang tau." Nathan memberi alasan.
Tapi Anna tidak menyerah, ia menarik bangku kosong lalu duduk disamping Nathan.
"Gue duduk sini boleh gak? Temen sebangku lo juga absen kan hari ini?"
Nathan menahan umpatan keluar daripada mulutnya. Ni cewe gila atau apa?
"Wahhh mesra banget. Keliatan cocok deh." salah satu daripada temen Anna menggoda mereka.
"Ih apaan sih." Anna tersipu malu.
Nathan langsung berdiri, ingin pergi saja dari situ.
"Eh Nat mau ke mana?" tanya Anna sedikit panik. Ia baru saja duduk, masa langsung mau pergi sih? Kan Anna mau mesra-meraan sama Nathan. Mumpung Elara gak ada disini.
"Kantin."
Nathan langsung pergi begitu saja, tapi Anna yang notabenenya gak mau menyerah. Ia mengikuti Nathan. "Nat gue ikut boleh? Soalnya gue juga laper."
Ya tuhan bantu Nathan. Kalau Elara sampai melihat mereka bisa jadi gadisnya bakal salah faham.
Nathan mengeluarkan handphonenya lalu mengchat Elara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anna menatap Nathan kurang suka. "Chatan sama siapa sih Nat?"
"Pacar."
Anna menggepalkan tangannya, menahan amarah. Apa sih yang ada sama Elara, bahkan ketika bersama Anna pun Nathan masih saja memikirkan tu cewe.
"Eh Nat malam nanti lo free gak? Ke club yuk? Gue traktir." Anna berusaha menarik perhatian Nathan.
"Gak tertarik."
"Come on. Lo tinggal bilang mau apa, bakal gue turutin." tangan Anna mengusap lembut lengan kekar Nathan, seakan memberi kode.
"AYANG!"
Nathan sedikit kaget ketika Elara muncul dan langsung duduk diantaranya dan Anna. Menggeser kedudukan Anna agar menjauh. Enak aja deket deket sama pacarnya.
Nathan mengusap lembut rambut Elara menggunakan tangannya yang lagi satu, bahkan mengecup lembut dahi Elara.
"Mau minum?" tanya Nathan.
Apa-apaan ini? Kenapa Anna dikacangin? Kenapa Nathan gak semanis itu ke dia tadi? Padahal Anna sudah ingin menyerahkan sesuatu yang para pria gilakan ke Nathan. Mustahil kan Nathan gak tertarik? Anna yakin Nathan masih pria normal yang punya nafsu.
Sesaat kemudian, Anna tersenyum miring. Ia punya ide.
"Nat nanti malam mau kan ke club?" tanya Anna.
Elara langsung menatap tajam Nathan setelah mendengar ucapan Anna.
"Elara boleh join sekali kok Nat." ujar Anna santai.
Nathan langsung menatap tajam Anna. "Gak." Sekali pun Nathan gak bakal nengizinkan Elara melangkah ke tempat seperti itu.
"Oh jadi kamu maunya berduaan doang sama dia?" Elara menjauhkan dirinya dari Nathan, membuat pria itu sedikit gelagapan.
Demi apapun bukan itu maksudnya, hanya saja Nathan gak mau gadis polos pencinta kpopnya itu menginjakkan kaki ke tempat kotor seperti itu. Nathan gak rela.
Apalagi di sana banyak orang gak bener, apapun bisa terjadi ke Elara. Memikirkannya saja membuat rahang Nathan mengeras.
"Bukan itu maksud aku Ra, aku gak setuju kamu ke tempat begituan." jelas Nathan.
"Kamu boleh tapi kenapa aku enggak?" tanya Elara tidak mau kalah.
"Emangnya yang bilang aku mau pergi siapa?" Nathan kembali bertanya dengan satu alisnya yang terangkat.
Anna memasang ekspresi kurang suka. "Santai aja kali Nat, paling cewe lo udah biasa ke tempat begituan."
BRAKK
Nathan menumbuk kuat meja tempat yang mereka duduki.
"Lo diem." Nathan menunjuk Anna emosi. Ia tidak terima Anna mengatai Elara begitu.
Okay sekarang giliran Elara yang panik. "Nat udah." ia menahan tangan Nathan yang digepalkan.
"Wihh ada apa nihhhh."
Devan muncul bersama geng Black Rumble yang lain.
"Eh Anna manis." Aditya menggoda Anna. Mayan cewe cakep.
Anna memutarkan bola matanya, "Gue cabut." ujarnya sebelum pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Lah?" bingung padahal Aditya baru mau ngegombal.
"Kenapa lu Nat?" tanya Aditya, soalnya kalau diperhatiin posisi Nathan yang seperti menahan eek, pasti leadernya itu lagi menahan emosi.
"Udah udah. Aku becanda doang tadi. Mana mau aku tempat gituan. Kamu juga gak bakal kesitu kan? Udah udah." Elara menarik kepala Nathan ke ceruk lehernya, tangannya mengusap lembut punggung Nathan, memberi pria itu ketenangan.
"Anjir pakbos diam-diam ternyata bisa manja juga Ra?" tanya Devan kagum.
Theo mengambil minuman yang kelihatannya belum tersentuh. "Gue minum ya." izinnya.
"Eh itu bekas Anna." ujar Elara yang sepertinya terlambat karna Theo yang langsung menyeruput nikmat air berwarna merah itu.
BYURRR
Theo langsung menyemburkan air yang hampir saja ia telan. Alhasil semburan itu mengenai Aditya, membasahi mukanya.
"Theo... Kenapa harus muka gue." tanya Aditya pasrah.