40 - CANADA

78K 2.9K 13
                                        

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


-

- CANADA -

Elara menghirup dalam udara dingin yang menerpa kulitnya. Bahunya dirangkul Nathan, ia tersenyum lebar menatap pria berstatus tunangannya itu.

Nathan mengusap lembut pipi kemerahan Elara karna cuaca di Canada sekarang lumayan dingin. "Masuk. Kamu kedinginan."

Dan disinilah Elara, menatap kagum penthouse yang dibeli Nathan. Terlalu berlebihan menurutnya kalau hanya buat ditinggal 2 tahunan.

Tapi mau bagaimana lagi? Itu Nathan. Apapun yang mewah dan mahal terkesan kecil dimatanya. Kaya mah bebas.

"Nat disini ada maid nya?" tanya Elara sembari membuka coat nya.

"Ada. Bentar lagi juga dateng."

Elara melihat sekeliling penthouse yang isinya ada 2 kamar, ruang tamu yang terhubung dengan ruang makan dan juga dapur.

Tapi favorit Elara adalah view yang menampilkan keindahan Canada city. Apalagi waktu malem, Elara yakin viewnya bakal extra cantik.

"Kamu suka?" tanya Nathan, kepalanya ditenggelamkan diceruk leher Elara. Menghirup aroma vanilla yang tidak pernah membuatnya bosan sama sekali.

"Banget." balas Elara, tangannya mengusap tangan Nathan yang melingkar dipinggangnya.

"Kamu serius gak mau satu universitas sama aku?" tanya Nathan.

Topik yang terus-terusan ditanyakan oleh Nathan. Dan juga dijawab dengan jawaban yang sama oleh Elara.

"Nat, kamu gak bosen nanyain aku itu mulu? Jawaban aku tetap sama sayang. Aku gak mau."

Nathan menghembus nafasnya kasar, tidak suka. Kenapa gak mau coba? Gimana kalau di tempat Elara, gadisnya itu digoda para bule. Terus Elara kepincut dan berakhir dengan dirinya ditinggal?!

"Ayolah. Kamu mau kan sayang? Aku janji bakal beliin Koi baju-baju lucu. Gimana?" bujuk Nathan tidak mau putus asa. Masih inget Koi? Kucing kesayangan Elara.

"Nope. Tetep gak mau."

Elara melepas pelukan Nathan dan berbalik lalu menangkup wajah tampan itu, menatap dalam mata yang menatap dirinya penuh cinta.

"Aku janji disana gak bakal lirik cowo manapun dan bakal selalu ngabarin kamu. Setiap 10 menit kan yang kamu mau?"

Masih inget dengan peraturan konyol Nathan? Dimana Elara harus mengabarinya setiap 15 menit. Sekarang dikurangi lagi ke 10 menit. Kenapa enggak setiap detik aja sekalian.

"Kita video callan 12 jam aja gimana? Sampai aku sama kamu pulang ke penthouse kita?" saran Nathan. Matanya sedikit berbinar mendapat ide yang bagus menurutnya. Digarisi yaa menurutnya doang.

Bukan menurut Elara. "Yaampun Nat gak gitu juga kali."

"Loh kenapa?"

"Kalau hape aku disita gimana?"

"Gak bakalan sayang. Aku jamin."

Elara tampak berfikir. "Kala baterai hp aku habis gimana?"

"Kan ada powerbank."

"Kalau baterai powerbank nya juga habis?

"Aku beliin lagi satu, jadi kamu bawa dua."

"Tas aku keberatan kalau gitu."

"Aku beliin yang ringan."

Okay Elara menyerah. Tidak ada tanda-tanda Nathan mau mengalah. Tunangannya ini semakin posesif. Posesif yang tidak masuk akal.

Come on, Elara tidak secantik itu kali. Takut banget Elara kepincut bule.

-

2 hari kemudian, Nathan menghantar Elara tepat didepan gerbang salah satu universitas ternama di Canada.

Perlu kalian tau, Nathan lah yang membayar semua biaya dan perlengkapan Elara di sana. Nathan tidak mau gadisnya ini merasa kekurangan.

Bakal dipastiin segala kebutuhan Elara sentiasa cukup.

"Black card aku ada sama kamu kan?"

"Iya Nat. Gak bakal aku guna juga. Lagian kartu aku juga ada kok." jawab Elara.

"Jangan gitu sayang. Kamu itu udah jadi tunangan aku, berarti kamu juga udah jadi tanggungjawab aku ngerti?"

Elara mengangguk patuh. Menatap sekilas cermin, membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Sampai di dalem terus video call aku."

"Iya iya bawel."

CUP

CUP

CUP

Nathan memberi kecupan di dahi, pipi dan terakhir bibir. Sesiapun tolong tahan Elara. Rasanya Nathan tidak sanggup membiarkan Elara pergi dari hadapannya walaupun sedetik.

POSSESIVE NATHAN (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang