"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
"Tante ada yang bisa kita bantuin gak?" tanya Elara tidak enak melihat mama Nathan yang sibuk nyiapim makanan buat mereka.
Zarina dan Karina juga ikut masuk ke dapur, ingin membantu.
"Oh yaampun makasih sayang. Itu sayurnya kalian cuci, yang separuh dipotong dan buah nya di blend." ucap mama Nathan, Tiffany Dilhar memberi arahan.
Tiffany menatap kagum Elara yang sepertinya pinter dalam urusan dapur. Nathan gak salah pilih. Lihat saja bagaimana mahirnya gadis itu menggunakan pisau.
"Kamu pinter masak nak?" tanya Tiffany.
"Eh gak pinter amat tante. Masih banyak yang harus saya pelajari." jawab Elara malu.
Dari dulu Tiffany menginginkan anak perempuan. Tapi setelah Nathan lahir, suaminya iaitu Dominic Dilhar tidak mengizinkannya untuk melahirkan lagi.
Alasannya karna Dominic tidak sanggup melihat Tiffany kesakitan lagi. Berlebihan memang. Padahal ingin punya anak cewe yang bisa diajak shopping bareng, salon, masak.
"O-Okay mom." ingin rasanya Elara teriak sekarang. Secara tidak langsung, mama Nathan sudah menerimanya kan?
"Sayang"
Elara merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang dan ia yakin itu adalah Nathan. Siapa lagi kalau bukan Nathan. Gak mungkin Devan yang memeluknya.
"Ke kamar yuk." bisik Nathan.
"Gak bisa Nat. Aku harus bantu mama kamu. Eh btw kamu punya kamar disini?" tanya Elara.
"Iya. Dulu aku sering ikut mom and dad bolak balik dari Indonesia ke Thailand." jelas Nathan, tangannya mengusap lembut perut Elara. Sesekali bibirnya mengecup lembut leher Elara.
"Ternyata anak mom ini bisa romantis juga. Kirain anak mama ini mirip kulkas bergerak." ucap Tiffany yang sedikit kaget melihat anak semata wayangnya itu ternyata bisa melakukan hal seperti itu.
Tiffany selalu takut kalau suatu hari Nathan gak bakal punya pacar karna sifatnya yang terlalu jutek dan dingin.
Tiffany juga bingung dari siapa Nathan mendapatkan sifatnya itu. Tidak mungkin dari dia apalagi Dominic. Suaminya itu orangnya hangat dan romantis.
"Biar mom yang lanjutin. Kamu ke kamar sana bareng Nathan." Tiffany mengambil alih tugas Elara.
"Ayokk." Nathan langsung menarik Elara ke kamarnya.
"Ih aku gak enak tinggalin mama kamu masak gitu aja." ucap Elara tidak terima, tangannya berusaha ia lepas dari genggaman Nathan.
"Kamu lupa? Aku masih marah soal tadi Elara." suara Nathan berubah serius.
Elara terdiam. Ahh... ia lupa soal tadi.
"Kamu tau gak betapa khawatirnya aku tadi nyariin kamu? Bahkan temen kita juga sama. Kamu kalau mau ke mana-mana bilang ke aku Ra. Aku harus ngomong berapa kali baru kamu ngerti? Gimana kalau kejadian hari itu keulang? Kamu gak takut? Walaupun aku tau disini gak ada yang kenal sama aku tapi gak menutup kemungkinan bahaya itu ada dimana mana Elara. Apapun bisa terjadi sama kamu."
Kalau keadaan lagi gak serius, sudah pasti Elara bertepuk tangan. Ini pertama kali dalam sejarah Nathan bicara sebanyak ini.
"M-Maaf a-aku... aku minta maaf." Elara menundukkan kepalanya. Ia tau dirinya salah.
Nathan menghela nafas dan merentangkan tangannya "Sini". Elara langsung memeluk Nathan erat.