36 | MULAI BERUBAH

76.1K 2.6K 6
                                        

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



-

"Nat nanti temenin beli novel yuk." ajak Elara.

"Gak bisa sayang. Aku ada urusan." balas Nathan sama sekali tidak menatap Elara.

Membuat gadis itu mendengus sebal. Akhir-akhir ini Nathan selalu aja sibuk. Sibuk ngapain juga Elara gak tau.

Setiap kali ia mengajak Nathan jalan atau minta Nathan menemaninya, pasti pria itu menolak.

Bahkan kebelakangan ini Nathan hanya menatap handphonenya tanpa peduli dengan kehadiran Elara disampingnya. Aneh bukan?

"Sibuk mulu perasan. Emangnya kamu ngapain aja sih?" tanya Elara penasaran.

Hening...

Nathan tidak menggubrisnya. Terlalu fokus dengan handphonenya.

Elara menghela nafas perlahan, berusaha menahan emosinya yang sebentar lagi meledak. Ia langsung merebut ponsel Nathan.

"ELARA!" bentak Nathan tanpa sengaja.

Tubuh Elara membeku kaget karna Nathan membentaknya. Sejak kapan Nathan jadi kasar begini?

"Kamu bentak aku Nat?"

Nathan mengusap mukanya kasar, tangannya dihulurkan, meminta kembali ponselnya yang Elara ambil.

"Maaf aku gak sengaja. Kembaliin handphone aku Ra."

Elara mengembalikan handphone Nathan dan pergi meninggalkan pria itu yang mengacak rambutnya frustasi.

Nathan gak ada niat sedikitpun membentak Elara. Hanya saja beberapa hari kebelakangan ini ia sibuk menjaga dan mengurus sepupunya.

Anak dari adik mamanya itu menginap beberapa hari dirumah mereka. Dan sepanjang hari itu juga, sepupunya yang manja dan cengeng itu terus menerus meminta perhatian Nathan.

Kalau kalian bilang harus banget diladenin? Jawabannya adalah karna mamanya Nathan, Tiffany bakal marah ke dia kalau mengabaikan sepupunya itu. Mau gak mau Nathan terpaksa nurut.

Baru saja Nathan ingin mengejar Elara, handphonenya berdering, tertera nama Klarissa di situ. Huftt seperti yang Nathan duga, sepupunya itu sangat tidak bisa menerima kalau dirinya diabaikan walaupun untuk beberapa menit.

Halo Nathan? Kamu ke mana tadi? Kok chat aku gak kamu bales?

Gue sibuk. Hidup gue bukan
soal lo doang.

Kepala aku sakit, mom and dad kamu gak ada dirumah. Ke sini boleh gak? Temenin aku.

Otw

Sekali lagi Nathan menghela nafas pasrah. Ia menatap arah dimana Elara pergi begitu saja sebentar tadi.


-

"Ra lo kenapa?" tanya Zara panik melihat sahabatnya itu langsung memeluk Karina sambil nangis.

"Siapa yang bikin lo nangis? Nathan?" tanya Karina. Tangannya menepuk punggung Elara, memberi ketenangan.

"Ni diminum dulu Ra." Zara memberi Elara air yang langsung diteguk perlahan.

Sekarang Elara lumayan tenang. Tapi hatinya masih sakit mengingat perlakuan Nathan tadi. Kenapa tunangannya itu berubah? Emangnya Elara ada salah apa? Atau Nathan curang?

Bermacam-macam soalan bermain dipikirannya.

"Ra?" panggil Karina yang menyedarkan Elara dari lamunannya.

Elara menarik nafas dalam sebelum menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya itu. Mula dari Nathan yang sibuk dengan handphonenya mulu, selalu menolak untuk menemaninya kemanapun dan tadi dimana dirinya dibentak.

Zara dan Karina mendengar semuanya dengan serius dan tampak sedikit berfikir, berusaha mencerna semuanya dan mencari solusi buat Elara.

"Lo pernah tanya dia sibuk ngapain?" tanya Karina.

Elara menggeleng lemah.

"Saran gue mending lo ke rumah nya aja terus. Kalian bisa selesaikan masalah kalian baik-baik disitu." Zara memberi saran.

"Gue belum sedia." balas Elara. Ia masih marah dan ia tidak mau disaat mereka berdua ketemu malah semakin memburukkan keadaan.

"Its okay. Lo tenangin diri lo dulu. Kalau udah mendingan. Lo samperin terus." ucap Karina yang dibalas dengan anggukan oleh Elara.

Huftt melelahkan. Padahal mereka baru saja tunangan tapi malah diuji dengan pertengkaran seperti ini.

POSSESIVE NATHAN (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang