"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
Masuk hari ke 5 dimana Elara dan Nathan saling berdieman Keduanya tetap dengan pendirian masing-masing. Tidak sedikitpun dari mereka berdua yang mau mengalah.
Selama lima hari itu juga, Anna gencar mendekati Nathan walaupun udah ditolak berkali-kali. Elara tidak buta, ia tau akan hal itu. Tapi selama Nathan masih menolak, ia masih bisa santai.
"Ra, udah 5 hari loh. Kalian gak ketemu sama sekali." ujar Zara.
Bukannya Zara mau masuk campur, hanya saja ia mendengar curhatan dari Devan. Katanya Nathan kembali ke diri nya yang dulu. Seorang Nathan yang dingin. Bahkan lebih parah.
"Iya Ra. Gak baik kalau dibiarin. Gak sehat juga kan buat hubungan kalian." Karina turut menasehati. Theo juga sering bilang ke dirinya kalau Nathan makin sering balapan. Bahkan beberapa kali terlibat perkelahian.
"Gue gak tau harus ngapain..." lirih Elara. Ia bingung harus apa. Ini soal masa depannya. Elara gak boleh membuat keputusan buru-buru.
"Menurut gue mending bicarain baik-baik. Apapun itu kita berdua bakal dukung lo." ucap Karina lalu memeluk Elara diikuti dengan Zara.
Elara jadi sedikit lebih tenang. Ia harus menyiapkan dirinya untuk ketemu Nathan.
-
Elara menatap handphonenya dengan mata yang berbinar.
Matanya menatap fokus ke fancam Jungkook yang telah diulanginya lebih dari 10 kali. Gak akan bosen!
Ting
Notifikasi masuk. Sedikit mengganggunya. Namun pesanan itu dari Devan. Mimpi apa Devan ngechat dia malem gini?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepantas kilat, Elara memakai apa saja yang bisa ia gapai lalu bergegas ke bawah dimana Devan menunggunya.
"Buruan Ra, sebelum tu markas dimakan sama dia." Devan sempat bercanda yang dihadiahkan tamparan dibahunya.
"Malah ngelawak. Buruan anjir."
-
Tidak butuh waktu yang lama buat mereka tiba. Dan benar saja, keadaan markas itu berantakan. Pecahan kaca dimana-mana. Bahkan tv yang harganya jutaan sudah tidak bisa diselamatkan lagi.