"Kabarin aku setiap 30 menit."
Elara Livya Larissa, gadis yang membuat pria sedingin kulkas dan secuek Nathan Neo Dilhar luluh.
Mereka adalah definisi she fell first but he fell harder.
(Penggemar minim konflik mari merapat)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
Hening
Nathan dan Elara saling diam, tiada yang membuka suara. Tangan Nathan membelai lembut pipi Elara, gadisnya itu hanya diam didalam pelukannya. Sesekali Elara menatap wajah Nathan. Mengagumi ketampanan mas pacar ehem.
"Kita tunangan mau?"
Ha? Elara langsung bangun dari posisinya. Apa tadi? Tunangan? Elara gak salah denger kan?
"Kamu lagi bencanda?"
"Muka aku keliatan lagi ngelawak?"
Elara memainkan jarinya, gugup. Memang benar ia mencintai Nathan tapi untuk masuk ke jenjang yang lebih serius, Elara belum siap. Masih banyak yang harus ia gapai dalam hidupnya.
"Aku belum siap." jawab Elara berusaha jujur.
"Belum siap kenapa? Aku gak ngajak kamu nikah Ra, cuma tunangan. Sebagai tanda pengikatan hubungan kita." jelas Nathan tidak suka dengan jawaban dari Elara.
Nathan bahkan telah merencanakan buat menikah dengan Elara setelah mereka lulus. Tiada kata terburu-buru jika itu bersangkutan dengan gadisnya.
"Nat aku sayang dan cinta ke kamu, dan itu gak bisa dipungkiri. Tapi aku belum siap. Masih banyak yang pengen aku lakuin."
"Memangnya hal yang kamu mau lakuin itu gabisa dilakukan kalau kita tunangan?" tanya Nathan.
Skakmat. Elara terdiam. Ada benernya tapi tetap saja, Elara belum siap.
"Bagi aku waktu. Aku gak mau buat keputusan terburu-buru."
Nathan mengangguk setuju. Kalau difikir dari sisi positif, Elara mau memikirkannya saja sudah cukup bagus daripada ditolak kan?
"Tapi ada syaratnya."
Nathan mengangkat satu alisnya yang bermaksud ada apa?
"Aku mau kamu jujur, obat yang Theo bawa tadi apa? Kenapa kamu sampai nonjok dia?" tanya Elara penasaran.
Kini giliran Nathan yang diam. Ahh ia fikir Elara sudah melupakan hal itu. Ternyata tidak...
"Kamu mau bawa hubungan kita lebih serius tapi buat jujur aja kamu susah." ucap Elara. Tangannya ia jauhkan saat Nathan cuba menggenggamnya.
"G-Gak gitu sayang."
"Salah kalau aku mau tau? Atau aku gak sepenting itu untuk tau?"
Nathan langsung memeluk Elara. "Kamu ngomong apa sih Ra, kamu yang paling penting setelah papa mama."
"Terus apa salahnya jujur ke aku?"
Nathan menghembuskan nafasnya pasrah. Ia melepaskan pelukannya dan menatap dalam gadisnya itu. Ia mengusap lembut pipi Elara yang kemerahan.
"Obsessive Love Disorder"
Elara mengernyit kebingungan.
Gabisa bahasa inggeris...
"Kondisi psikologis dimana seseorang mempunyai keinginan obsesif yang berlebihan, rasa cemburu yang gak bisa dicontol dan gak bisa berjauhan bahkan gak bisa menerima penolakan." jelas Nathan.
"Mental aku gak aman Ra, itu salah satu sebab kenapa aku gak pernah pacaran selama ini. Tapi kamu beda Ra, aku berusaha buat cuek dan tetap dingin ke kamu. Tapi kamu gak pernah nyerah. Maafin aku, aku gak seindah yang kamu lihat Ra. Ini kekurangan aku..." lirih Nathan di akhir katanya.
Mata Elara berkaca. Kenapa Nathan tidak pernah mengatakan hal ini kepadanya. Pantesan sikap Nathan terkadang berlebihan menurutnya. Ternyata ini sebabnya.
Hiks
"Ra kok malah nangis?" Nathan sedikit gelagapan. Ahhh ia tidak akan bisa terbiasa melihat Elara menangis. Jantungnya serasa diremas.
"K-Kok kamu gak pernah c-cerita ke aku hiks.."
Nathan tersenyum hangat "Aku takut kamu bakal ninggalin aku kalau tau soal itu."
Elara menggelengkan kepalanya "Untuk apa aku ninggalin kamu cuma karna itu Nat? Kamu udah pernah coba ke psikiater?"
"Beberapa kali, tapi gak semudah itu. Semuanya tergantung dari aku dan aku harus makan beberapa obat yang dibagi." jelas Nathan.
Beberapa tahun kebelakangan ini ia memang ke psikiater beberapa kali buat pengobatan. Namun hal itu tidak semudah yang kalian fikirin.
"Aku bakal temenin kamu berjuang okay? Tapi semuanya tergantung dari diri kamu juga. Kamu harus lawan." Elara memberi semangat.
"Makasih. I love u."
Elara tersenyum, ia memajukan wajahnya untuk mengecup ringan bibir Nathan. Saat ia ingin melepaskan, Nathan menahan kepalanya dan memperdalam ciuman itu.
Saat dirasakan keduanya mulai kehabisan nafas, Nathan menjauh.
"Kangennnnnnn" rengek Elara kangen sembari memeluk erat tubuh Nathan. Berjauhan 5 hari rasanya kayak 5 tahun.
Orang bucin memang terkadang sedikit lebay.
Nathan terkekeh. "Ra bobok yuk. Udah jam 12, aku yakin besok kamu bakal pusing lagi."
Elara menatap jam di dinding. Ahhh masa berlalu begitu pantas.
Nathan membuka kaosnya, ia bertelanjang dada kemudian baring disamping Elara.
Tangannya ia lingkarkan di pinggang ramping milik Elara, sesekali ia mengecup lembut dahi Elara.