Empat|04

33 14 1
                                        

Happy reading!
...

"Ehem," Edellyn menyapa dengan deheman. Seusai berbincang dengan Reno, Edellyn duduk di samping Alea.

"Kenalan baru tuh." Ucap Edellyn. "Ayolah cari pacar, gue pengen double date nih."

"Gak." Sahut Alea. "Semua cowo sama aja, gaada yang bener."

"Pala lo peang. Jadi maksud lo, bapak lo juga sama kayak Rio?!" Sahut Edellyn.

"Ya engga, pokoknya gitu lah." Ucap Alea, "banyak tanya lo!"

"Dih, kok nyolot." Sahut Edellyn malas.

Alea tak membalas, dia menyeruput jus alpukatnya dengan seruputan panjang tanpa henti.

Dengan mata yang memicing ke arah meja ujung, seakan menyembunyikan dendamnya.

"Najis banget gue." Ucap Alea tiba-tiba.

Edellyn yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya seusai sahutannya tidak terbalaskan menatap Alea bingung, "siapa?"

Matanya menunjuk ke arah meja ujung, Edellyn langsung paham apa yang di tunjuknya.

Alis kanannya naik, pertanda 'kenapa?'

"Gue udah duga, tuh anak songong." Ucap Alea.

"Tapi ganteng." Sahut Edellyn senyum-senyum sendiri.

"Gila lo, mata lo katarak. Bisa-bisanya orang songong kayak tuh cowo lo bilang ganteng." Ucap Alea menyolot lagi.

"Lo PMS ya?!" Tanya Edellyn.

Alea menggeleng, "gak. Kenapa emangnya?"

"Marah-marah mulu lo dari tadi." Aahut Edellyn binging.

Alea mengangkat bahunya acuh, tak mau ambil pusing dia memesan satu mangkuk lagi bakso isi telur+mie indomie. Ah, nikmat.

...

"Nak, tolong belikan telur di warung depan dong."

Alea menatap lesu dari arah dapur, baru saja melangkahkan satu kakinya untuk masuk ke dalam rumah, sudah saja disuruh mamanya.

Seolah si mama selalu tau suara derap langkah Alea. Karena, selalu saja begitu, baru 'assalamualaikum' si mamah langsung nyahut 'waalaikumsallam Alea.'

Kadang juga insting seorang ibu itu sangat kuat.

"Mah, baru pulang sekolah loh." Sahut Alea.

"Yaudahla, tolong. Kak keenan belum balik, Ayah juga, jadi mama mau minta tolong sama siapa lagi?" Tanya Celinne dari arah dapur.

"Iya, iya." Sahut Alea.

Dengan perlahan Alea membuka sepatu, lalu masuk dan menaruh tasnya di meja ruang tamu.

Alea berjalan ke arah dapur, wangi masakan mama nya menyeruak seketika masuk ke dalam indra penciumannya.

"Mana duitnya?" Tanya Alea setelah sampai tepat di belakang punggung Celinne.

Celinne merogoh kantung celemeknya, lalu memberi uang tiga puluh ribu rupiah. "Catatannya di kantung kulkas ya nak."

Alea membelalakan matanya malas, "kan-kan."

"Sekalian Nak, kamu mau durhaka nih ceritanya?" Sahut Celinne.

"Yaudah iya mah, iya." Ucap Alea malas.

Dengan langkah gontai, Alea keluar lalu menuju ke tujuannya.

Setelah berjalan beberapa menit, sampai lah Alea di warung Mbok Jem. Warung kecil, kumuh, tapi lengkap.

hate so loveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang