Happy reading!
...
"Masalah terakhir kamu, bolos. Ini malah semakin parah, ada masalah apa kamu dengan Dion?" Tanya Pak Jeno sudah bersikap dada.
Sang empu hanya diam sambil menunduk, sedangkan Dion duduk sambil di obati oleh adik kelas yang kebetulan bertugas PMR hari ini.
Wajah Dion benar-benar sudah babak belur. Dan siku kanannya sedikit robek, akibar terbentur meja besi di kantin.
Gak lupa dengan kedua lututnya yang sudah robek dan berdarah akibat terseret oleh tarikan Kenzo yang menariknya ke kantin.
Sadis, emang.
"Ditanya tuh, ya di jawab." Ucap Pak Jeno.
Membuat Kenzo mendongakkan kepalanya, "tidak ada masalah apa-apa."
"Terus kenapa begini?" Tanya Pak Jeno. "Brutal banget kamu. Dua hari lagi ujian, dan kamu masih mengerjakan hal yang gak berguna seperti ini?"
"Otak saya sudah mampu, Pak." Sahut Kenzo santai. "Ini panggilan orang tua, atau hormat bendera?"
"Terserah kamu saja, kamu ini orangnya santai banget." Sahut Pak Jeno sambil menggaruk rambutnya stres. "Mau kamu jungkir balik, masuk ke paret, guling-guling di lapangan, jaga parkir, kasi makan kucing, kasi makan ikan di kolam, juga gapapa. Atau kamu mau jadi satpam juga gapapa, sudah stres saya mengahadapi kamu. Sudah sujud syukur saya, kamu gak pernah masuk BK lagi, eh malah ketemu dengan kasus lebih brutal. Semakin stres saya, rambut saya sudah banyak yang putih."
"EH, GAK SOPAN KAMU!"
Kenzo berlari duluan, dari pada harus mendengar ocehan Pak Jeno yang membuat kupingnya panas.
Hal itu membuat Pak Jeno yang semula bercerita sambil menatap mejanya, seolah meratapi nasib kini tersadar ketika dia seperti berbicara sendiri karena Kenzo sudah kabur begitu saja. Membuat Pak Jeno berteriak, hingga urat-urat di lehernya kelihatan.
"Kamu lagi, mau saya hukum apa kamu?!" Gertak Pak Jeno menatap Dion yang masih meringis kesakitan. "Kalau gak bisa melawan, ya minimal menyerah aja. Gak tau aja, kalau Kenzo udah emosi kayak orang kesetanan."
Dion menatap Pak Jeno malas, sambil berusaha menutupi kedua kupingnya.
"Kamu udah babak belur, gak tega saya melihat kamu, apalagi menghukum kamu." Ucap Pak Jeno memelas.
Membuat Dion menatap Pak Jeno aneh, "jadi saya gimana nih pak?"
"Yasudah, ke UKS saja." Sahut Pak Jeno. "Yasmin, bawa kakak kelasmu ini ke UKS."
Yasmin, adik kelas itu pun mengangguk.
...
"Kenapa sudut mata lo?"
Sang empu menggeleng, lalu tersenyum kecil. "Gimana tadi belajarnya?"
"Ya gitu, biasa aja." Sahut Alea. "Kalau gue tanya, jawab. Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Lo nanya ini?" Tanya Kenzo sambil menunjuk luka di wajahnya. "Habis berantem sama Dion."
Seketika Alea menutup mulutnya tak percaya. "Masalah apa? Gara-gara dia kasih tau gue tentang lo semua?"
"Lain kali kalau dia cerita ke lo, jangan di percaya." Sahut Kenzo sambil menyunggingkan rambut-rambut kecil yang menghalangi indahnya wajah Alea.
"Kenapa?" Tanya Alea.
"Dia suka mengarang cerita." Sahut Kenzo. "Lo udah makan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
hate so love
Fiksi Remaja°Gais maaf banget, untuk cover, judul dan deskripsi cerita di ubah. Untuk isi cerita 💯% isinya sama, gak ada sedikit pun yang diubah. Alurnya juga masih nyambung dengan judul baru kok° Jangan terlalu membenci seseorang, nanti menjadi cinta. Seperti...
