°Gais maaf banget, untuk cover, judul dan deskripsi cerita di ubah. Untuk isi cerita 💯% isinya sama, gak ada sedikit pun yang diubah. Alurnya juga masih nyambung dengan judul baru kok°
Jangan terlalu membenci seseorang, nanti menjadi cinta. Seperti...
"Terus lo berdua ngapai?" Tanya Reno mengikuti langkah Edellyn yang masuk.
"Ih parah banget, masih di sekolah." Ucap Edellyn. "Modal dong Kenzo!"
"Kalau gue mau aja, udah gue ajak ke hotel yang bintang sepuluh pun jadi." Ketus Kenzo, lalu kembali menatap wajah Alea. "Gue sayang sama Alea, gak mungkin gue rusak tubuhnya, gue gak se brengsek itu. Alea lagi obati luka gue, di sini."
Kenzo menunjukan nya di dekat area bibir.
"Oh Alea ngobatinnya pakai bibir?" Tanya Reno lalu tertawa.
"Maksudnya?" Tanya Alea bingung, memang bisa ya?
"St, gausah dengerin Reno." Ucap Kenzo, bahaya nih soalnya Alea masih terlalu polos. "Lo fokus obati gue aja lagi."
Alea memanyunkan bibirnya, "ish."
"Terus kok lo di kelas aja Le?" Tanya Edellyn.
Alea memandang Edellyn sinis, "belajar bego! Sebentar lagi ujian!"
"Oh, gue fikir lo sengaja di kelas biar Kenzo datang kalian berduaan deh." Ucap Reno tertawa.
"Kalau dua hari lagi ujian, otomatis anak baru yang laki-laki itu sebentar lagi masuk dong." Ucap Edellyn kembali mengingat gosip-gosip itu.
"Oh, terus kamu senang?" Tanya Reno cemburu.
"Gak loh sayang, aku kan cuma kasih tau ke mereka berdua." Sahut Edellyn. "Hubungan mereka kan baru awal, masa udah ada pelakor sih."
"Oh jadi lo nuduh gue Lyn? Lo nuduh gue bakal sama anak baru itu?!" Tanya Alea sinis, sambil membereskan kembali semua obat-obatan yang sudah di pakainya, dibantu juga dengan Kenzo.
Edellyn tertawa melihat tingkah Alea, "ngomong-ngomong lo kenapa?"
"Biasa." Sahut Kenzo lalu berdiri sambil membawa kotak p3k. "Gue balikin ini ya sambil balik ke kelas. Terima kasih untuk menjadi dokter gue Alea, sama satu suapan bekal lo."