2; cerita

149 8 0
                                        

ps. chapter ini timeline-nya setelah Daehan sakit demam berdarah, jadi Jihan dan anak-anak sudah lumayan dekat.

"Kok pada belum tidur?" tanya Jihan yang baru keluar dari kamarnya. Wanita itu menutup pintu kamarnya, lalu menghampiri dua anaknya yang tengah menonton tv di ruang tengah sambil makan biskuit.

"Beyum ngantuk" jawab Daehan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara matanya tetap terfokus ke tv yang tengah menayangkan kartun Mickey Mouse Clubhouse.

"Tapi kan sudah malam, ini sudah lewat jam sepuluh loh. Tidur yuk" bujuk Jihan.

"Besok kan libur, bu" Soora beralasan.

Jihan terkekeh sambil pergi ke dapur, meninggalkan keduanya yang masih asyik menonton. Tak lama, Jihan kembali dengan sekotak susu stroberi dan dua kotak susu melon.

"Mau libur ataupun tidak, tidur terlambat itu tetap enggak baik buat kesehatan. Apalagi kalian masih kecil. Tidur, yuk? Ibu antar ke kamar" bujuk Jihan lagi sambil menggoyang-goyangkan tangannya, mengisyaratkan kedua anaknya untuk menghampirinya.

Soora langsung berdiri dan menggandeng tangan kiri Jihan. Daehan juga ikut bangkit dan menggandeng tangan kiri Soora. Mereka bertiga menaiki tangga perlahan dan menuju kamar Soora. Begitu sampai di kamar, kakak-beradik itu langsung naik ke kasur, sementara Jihan meletakkan susu di nakas.

"Biasanya ayah bacakan buku cerita apa?" tanya Jihan sambil melihat-lihat deretan buku cerita dan buku dongeng di rak buku Soora. Soora lumayan suka membaca buku, jadi koleksi bukunya cukup banyak.

"Sudah bosan sama buku cerita bu, ibu aja yang cerita sini" kata Soora sambil menepuk kasur di sisi kirinya. Jihan langsung menghampiri dan duduk di kasur. Kini Soora berada di tengah-tengah Jihan dan Daehan. Daehan masih merasa agak asing dengan sosok ibunya, sehingga anak itu lebih banyak diam.

Jihan mengambil susu yang dibawanya tadi, lalu yang stroberi diberikan pada Soora sementara yang melon untuk Daehan dan dirinya. Daehan memang replika Jihan, bahkan rasa susu kesukaannya pun sama seperti Jihan. "Hmm mau dengar cerita apa dari ibu?" tanya Jihan sambil meminum susu melonnya.

"Cerita waktu ibu sama ayah masih muda!"

"Hahahah" Jihan tertawa mengingat masa itu. "Aduh, kalo itu sih lucu sekali. Nih ibu kasih tau ya, dulu ayah kalian itu salah masuk kelas waktu hari pertama masuk SMA" Jihan memulai ceritanya.

"Oh ya? Kok bisa bu?"

"Enggak tau juga ibu. Kalian tau kan ayah kalian itu dulu besar di Australia? Nah dia pertama kali pindah ke Korea itu saat masuk SMA, jadi mungkin dia masih bingung karena baru pertama kali sekolah di Korea. Waktu itu ayah seharusnya masuk ke kelas IPS 1, tapi dia malah masuk kelas IPS 2, terus duduknya di samping ibu. Dia kelihatan bingung banget sih waktu itu, terus dia langsung ajak ibu berteman. Karena ibu juga gak punya banyak teman, jadi ya ibu mau-mau saja"

Soora dan Daehan tergelak mendengarnya. Padahal Daehan juga belum terlalu paham yang dibicarakan ibunya, dia cuma ikut-ikutan tertawa saja.

"Terus, gimana ayah sama ibu sadar kalo ayah itu salah kelas?" tanya Soora penasaran.

"Waktu itu gurunya sudah masuk kelas, tapi pelajarannya belum dimulai. Tiba-tiba ada guru dari kelas sebelah datang, terus ngobrol sama guru kelasnya ibu. Guru itu kelihatan cemas, dia cerita ada satu anak muridnya yang enggak ada, namanya Do Kyungsoo. Terus tiba-tiba ayahmu angkat tangan. Dia bilang, 'Saya Do Kyungsoo, seonsaengnim'. Terus satu kelas menoleh ke dia"

"Terus, kata gurunya apa?"

"Dia ngomel. Katanya, 'Haduuuh kamu itu saya cariin dari tadi! Kelasmu itu di sebelah! Ayo ikut saya!' pokoknya gurunya kelihatan sebel tapi lega juga. Sepertinya guru itu tau ayahmu baru pindah ke Korea, jadi dia khawatir sekali waktu ayahmu enggak ada di kelas, takutnya ada yang jahat ke ayahmu, atau takutnya ayahmu tersesat karena sekolahnya luas. Ternyata malah nyasar ke kelas ibu"

Kini mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal.

"Terus bu, kok bisa pacaran dan menikah?" tanya Soora lagi.

"Jadi dulu satu-satunya teman dekat ayahmu itu ya ibu. Mungkin karena ayahmu agak pendiam, jadi banyak yang segan. Apalagi ayahmu dulu enggak terlalu lancar berbahasa Korea, jadi teman-temannya ya sekedar kenal aja, enggak ada yang akrab dengan ayahmu. Terus ya sudah, ayah dan ibu sering jalan-jalan berdua, sering bikin tugas berdua juga, kalau istirahat juga makan berdua. Terus, waktu ibu ke sekolah untuk menerima rapot semester satu, ayah tiba-tiba ngajak ibu pacaran. Ibu sempat tanya kenapa kok tiba-tiba sekali di hari terakhir sekolah dia mengajak pacaran. Katanya ayahmu, dia takut selama liburan ada yang ngajak ibu pacaran duluan. Soalnya ayahmu mau liburan ke Australia jadi selama liburan dia gak bisa ketemu ibu, makanya dia takut" Jihan bercerita sambil terkikik geli.

Soora tertawa mendengarnya. Ternyata ayahnya takut ibunya direbut orang. "Oh iya bu, kalau ayah enggak lancar bahasa Korea, terus ibu bicara sama ayah pakai bahasa apa?"

"Ya bahasa Korea. Ibu paksa ayahmu bicara bahasa Korea, karena ibu pingin ayahmu lancar bahasa Korea. Kalau dia gak lancar bahasa Korea, gimana mau hidup di Korea kan? Jadi ibu juga bantu ayahmu belajar bahasa Korea. Tapi di saat-saat tertentu kalau dia kesulitan, ayah dan ibu pakai bahasa Inggris. Coba deh kamu tanya ke ayahmu nanti, siapa yang ngajarin dia bahasa Korea sampai fasih seperti sekarang? Pasti dia bakal jawab ibu"

Soora tersenyum gemas, lalu kembali bertanya. "Waktu ibu sama ayah menikah, ayah sudah jadi idol?"

"Sudah" Jihan tersenyum. "Ayahmu sudah dua tahun jadi idol waktu itu, terus ibu sama ayah menikah"

"Terus kenapa ibu sama ayah berpisah?"

Jihan kembali tersenyum mendengar pertanyaan anak sulungnya. "Kamu masih kecil, nanti saja kalau sudah besar ibu ceritakan. Sekarang waktunya tidur, ini sudah larut malam!" ujar Jihan tegas sambil mengambil kotak susu yang sudah kosong dari tangan anak-anaknya, lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu menarik selimut agar kedua anaknya tidak kedinginan.

"Buuu, satu pertanyaan terakhir! Sifat jeleknya ayah apa?" tanya Soora sambil menyamankan posisi tidurnya.

"Sifat jelek?" Jihan tampak berfikir. "Keras kepala. Ayahmu keras kepala sekali, sama seperti kalian berdua" ujarnya sambil terkekeh. Ia segera menyalakan lampu tidur, lalu membelai kepala kedua anaknya.

"Sudah ya, ibu juga mau tidur" ucapnya sambil menuju pintu kamar Soora.

"Selamat tidur ibu" ucap Soora.

"Thelamat tidul ibu" Daehan menimpali.

Jihan tak membalas, ia hanya mematikan lampu kamar, lalu keluar dan menutup pintunya perlahan.

"Selamat tidur juga, anak-anak ibu" gumamnya pelan dari balik pintu kamar. Setelah menatap sebentar pintu berwarna cokelat itu, ia pun pergi dari sana dan menuju kamarnya di lantai satu.

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang