19; anak tunggal

94 4 0
                                        

ps. chapter ini timeline-nya ketika Daehan sedang dirawat karena sakit demam berdarah.

Mata bulat anak perempuan berusia delapan tahun itu tampak berbinar-binar kala menatap keluar jendela dengan takjub.

Cklek.

Terdengar suara pintu di belakangnya terbuka lalu tertutup kembali. Soora pun menoleh dan mendapati ibunya baru saja keluar dari ruang rawat Daehan.

"Kok ibu keluar?" tanya Soora.

"Daehannya sudah tidur" jawab Jihan. "Kamu lihat apa?"

Soora berbalik badan, kembali menatap hal yang sebelumnya dia tatap, gedung-gedung dan rumah-rumah yang lebih rendah dari tempatnya berdiri. "Ternyata kita tinggi sekali ya bu"

Jihan terkekeh sambil ikut menatap gedung-gedung itu. Matanya yang sudah sipit semakin menyipit karena silaunya sinar matahari diluar. "Tentu saja, kita kan di lantai dua puluh" jawabnya. "Di apartemen ayahmu, bukannya tinggi begini juga?"

"Tinggi juga sih, lantai enam belas. Tapi gedung-gedung di sampingnya nggak ada yang lebih rendah" jelas Soora.

"Aah" Jihan mengangguk paham.

"Tapi kok ibu tau sih, kalau apartemen ayah tinggi? Ibu pernah kesana?" Soora balik bertanya. Untuk sesaat dia lupa, bahwa ibunya pernah menjadi istri ayahnya dan hidup bersama ayahnya selama beberapa tahun.

"Pernah. Dulu sering" kata Jihan sambil mengangguk-angguk.

"Dulu ibu tinggal disana?"

"Enggak. Ayahmu nggak suka ibu disana"

"Kenapa ayah nggak suka?"

"Karena apartemen itu sempit, tidak leluasa. Ayahmu nggak suka itu, dia ingin ibu tinggal di tempat yang luas dan nyaman" jelas Jihan. "Ayahmu orang yang baik hati sekali"

Soora menatap ibunya dengan sedikit bingung. "Ibu bilang ayah orang baik, ayah juga bilang ibu orang yang baik. Kalau kalian sama-sama baik, kenapa berpisah?"

Jihan tersenyum. "Keadaannya yang tidak baik"

Soora semakin bingung. Alisnya berkerut.

Jihan kini terkekeh. Ia menoleh dan sedikit membungkuk agar kepalanya sejajar dengan kepala sang anak. Dibelainya pipi anak sulungnya itu. "Kamu masih kecil, belum mengerti" katanya. Tanpa kedua orang itu sadari, Kyungsoo sudah keluar dari ruang rawat Daehan sejak tadi dan telah mengabadikan momen ibu dan anak itu melalui ponselnya.

"Ck, Soora sudah besar!" Soora menghentakkan kakinya dengan sebal.

"Belum" Jihan tersenyum tipis sambil membelai rambut tebal Soora. "Kamu masih delapan tahun, masih anak-anak"

Soora tak menjawab kali ini. Anak itu hanya menatap mata ibunya.

"Tandanya sudah besar itu apa?" tanya Soora setelah terdiam beberapa saat.

"Hmm apa ya?" gumam Jihan sambil memegang dagunya. Ia kini kembali menghadap jendela besar, memandang gedung-gedung dan rumah-rumah itu. "Umurmu harus lebih dari tujuh belas tahun dulu, baru sudah besar"

Kedua alis Soora naik, kemudian anak itu mengeluarkan kesepuluh jarinya dan mulai menghitung. "...delapan, sembilan... berarti sembilan tahun lagi dong bu? Lama sekali!"

Jihan terkekeh. "Ya memang begitu" jawabnya sambil melipat tangannya di dada. Di belakang mereka, Kyungsoo diam-diam kembali masuk ke ruang rawat Daehan dan menutup pintunya perlahan. Namun, dibalik pintu itu, Kyungsoo masih menguping pembicaraan anak dan mantan istrinya.

"Waktu Soora lahir, ibu sudah besar juga ya?"

Jihan terkikik geli. "Sudah dong, waktu itu ibu sudah berumur dua puluh dua tahun. Lagipula, kalau ibu masih kecil, mana bisa punya anak? Harus sudah besar dulu dong"

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang