*Chapter ini hanyalah what if, alias hanya berandai-andai saja, dan tidak benar-benar terjadi di cerita ini. Semua nama politikus di chapter ini adalah fiksi. Chapter ini panjang, semoga nggak bosan ya!
Breaking News: Presiden Mengumumkan Darurat Militer.
Betapa terkejutnya Kyungsoo kala sedang menonton televisi dan berita tersebut muncul. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba saja sang Presiden mengumumkan darurat militer tengah malam begini?
Tentu saja pikirannya langsung melayang pada Jihan. Pria itu langsung menekan kontak Jihan. Namun, telponnya tidak diangkat. Ia kembali menekan kontak Jihan sembari pergi ke kamar. Telpon itu lagi-lagi tidak diangkat, namun Kyungsoo tetap mencobanya lagi dan lagi. Ia berganti pakaian dengan cepat sembari menunggu telponnya diangkat Jihan. Namun setelah empat kali, telpon itu masih tetap tak diangkat.
Kyungsoo melirik jam di ponselnya. Pukul sebelas malam. Seharusnya anak-anaknya sudah tidur, jadi opsi terakhirnya adalah menelpon Song Imo untuk menanyakan kabar Jihan. Namun, sebelum sempat menekan kontak Song Imo, sebuah telpon masuk ke ponselnya. Itu Soora.
Kyungsoo mengernyit. Rupanya anaknya belum tidur?
Ia segera mengangkat telpon itu. "Ibumu mana, nak?" Kyungsoo langsung pada intinya. Ia segera mengambil jaketnya.
"Itu, ibu baru saja pergi ke garasi. Dia mau pergi, ayah" jelas Soora. Dari suaranya, anak itu jelas khawatir. "Tolong hentikan ibu, ayah. Soora sudah minta ibu jangan pergi, tapi dia tetap pergi."
Kyungsoo bergegas keluar dari apartemennya dan menuju basement. "Biarkan ibumu pergi. Dia harus menyelamatkan negeri ini."
"Tapi ibu nggak pernah pergi semalam ini. Ini ada apa, ayah?" tanya Soora lagi. Ia duduk di sofa ruang tengah dengan gelisah. Sebetulnya Soora sudah tidur tadi, namun dia terbangun karena ingin pipis. Saat itulah dia mendengar suara-suara di bawah. Setelah dicek, rupanya ibunya tengah memasukkan barang-barang ke tas dengan tergesa-gesa. Bajunya rapi, lalu tak lama kemudian Soora melihat ibunya itu pergi membawa kunci mobil. Sejak dulu Jihan memang gila kerja, namun wanita itu tidak pernah keluar semalam ini. Apalagi tadi Soora melihat sendiri bagaimana ibunya itu pergi dengan tergesa-gesa. Wajar anak itu gelisah sekarang.
Kyungsoo menekan kunci mobilnya, lalu masuk. "Ayah, kenapa banyak helikopter?" Soora kembali bertanya. Anak itu kini berdiri di ambang pintu rumahnya. Ia menatap langit. Tiba-tiba saja banyak helikopter yang terbang di langit. Sangat tidak biasa.
"Soora tenang dulu ya. Tidak ada apa-apa, kok. Soora aman di rumah. Song Imo dan Pak Kim ada di rumah kan, nak?" tanya Kyungsoo sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ada" jawab Soora.
"Bagus. Sekarang Soora harus tidur, karena ini sudah larut malam. Ibumu sudah berangkat?" tanya Kyungsoo. Mobilnya kini sudah keluar dari basement.
"Sudah. Mobilnya baru saja keluar dari pagar" jawab Soora.
"Sekarang Soora masuk rumah ya. Seluruh pintu dan pagar harus dikunci. Jangan lupa minta Song Imo untuk mengecek, oke?" jelas Kyungsoo.
"Iya ayah" Soora mengangguk.
"Anak pintar. Baik-baik di rumah ya. Ayah susul ibumu dulu" ujar Kyungsoo sebelum mematikan telponnya.
Kini, sedan hitam Kyungsoo sudah melaju di jalanan. Sudah pukul sebelas lewat, tentunya jalanan sudah sepi. Ditambah dengan adanya darurat militer membuat jalanan semakin sepi.
Dibanding rumah Jihan, apartemen Kyungsoo jaraknya lebih jauh dari Gedung Majelis Nasional. Jadi, kali ini Kyungsoo benar-benar berpacu dengan waktu. Kakinya terus menginjak pedal gas. Mobilnya melaju kencang menuju Yeouido, tempat Gedung Majelis Nasional berada. Untungnya jalanan memang sepi sehingga Kyungsoo bisa mengebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
Fiksi PenggemarKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
