12 Januari 2016.
Waktu masih menunjukkan pukul enam. Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul. Rumah besar itu masih sangat sunyi, namun ada seseorang yang sudah sibuk di dapur.
Dialah Jihan. Wanita itu membuka sebuah kotak dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Rupanya itu kue cokelat. Diletakkannya kue itu di meja makan, kemudian ia tancapkan dua buah lilin di atasnya. Ia menarik laci dan mengeluarkan korek api dari sana, kemudian ia nyalakan lilinnya.
Setelah lilinnya menyala, ia mengangkat kue itu dan membawanya ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya perlahan. Kamar itu gelap, seluruh lampunya padam. Kyungsoo masih tertidur pulas di kasur. Soora juga masih tertidur lelap di box bayi-nya. Jihan terkekeh lalu mendekati suaminya tanpa menyalakan lampu.
Jihan mengusap lengan Kyungsoo perlahan. "Kyungsoo" panggilnya. Meski sudah menikah, Jihan dan Kyungsoo jarang menggunakan panggilan sayang. Mereka lebih sering memanggil nama. Mungkin karena dulunya mereka teman sekolah, jadi sudah terbiasa memanggil nama.
Mata Kyungsoo terbuka perlahan. Pria yang tadinya memunggungi Jihan itu langsung menoleh ke arah Jihan.
Jihan tertawa kecil. "Selamat ulang tahun, Kyungsoo" ujarnya dengan suara pelan, takut membangunkan Soora yang sedang tidur.
Kyungsoo langsung bangun. Ia mengusap wajahnya. "Aku ulang tahun hari ini?" tanyanya bingung.
Jihan kembali tertawa kecil. Ia keluarkan ponselnya dan menunjukkan layarnya pada Kyungsoo. Tanggal dua belas Januari terpampang di layar. "Ah iya" Kyungsoo terkekeh melihatnya.
Kini Jihan duduk di tepi kasur, di samping suaminya. "Kyungsoo, selamat ulang tahun. Hari ini usiamu bertambah satu tahun, semoga kamu juga semakin dewasa" kata Jihan sambil mengarahkan kuenya ke depan Kyungsoo. Kyungsoo membetulkan posisinya agar ia bisa menghadap Jihan sepenuhnya. Cahaya lilin menyinari wajah mereka berdua di tengah kamar yang gelap. "Semoga makin bijak, semoga bisa selalu jadi contoh yang baik untuk anak kita, dan semoga kamu bisa lebih sering pulang meski jadwalmu padat, karena Soora selalu menunggu ayahnya."
"Kok doanya untuk Soora semua? Kalau kamu bagaimana? Kamu menunggu aku juga, tidak?" tanya Kyungsoo.
Jihan tertawa pelan. "Aku dan Soora sudah sepaket. Aku selalu ada di rumah ini."
"Berarti kamu menungguku juga" Kyungsoo tersenyum.
"Istri mana yang tidak menunggu suaminya pulang" kata Jihan sambil mencubit lengan Kyungsoo gregetan.
"Aduh" Kyungsoo mengaduh kesakitan.
"Jangan keras-keras, nanti anaknya bangun" Jihan melotot galak.
Kyungsoo terkekeh. "Lanjutkan ucapanmu."
"Pokoknya, aku selalu doakan yang terbaik untukmu, Kyungsoo. Semoga hidupmu selalu diiringi kebahagiaan dan kesehatan. Semoga Tuhan selalu melindungi kamu kapanpun dan dimanapun, karena kamu pelindungku dan Soora. Kamu harus selalu sehat, supaya bisa melindungi kami berdua" ujar Jihan.
"Iya. Mau aku sehat ataupun sakit, aku pasti melindungi kalian berdua" Kyungsoo tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih ya, Kyungsoo. Terima kasih sudah selalu ada di sisiku. Terima kasih sudah selalu bertumbuh bersamaku. Terima kasih sudah selalu mengusahakan yang terbaik. Terima kasih sudah bekerja keras. Terima kasih sudah selalu menjadi orang baik. Dan yang terpenting, terima kasih sudah lahir ke dunia yang keras ini dan jadi bagian dari cerita hidup kami. Teruslah bersinar yang terang, ya." Jihan tersenyum tulus.
Kini air mata Kyungsoo sudah tak bisa ditahan lagi. Air mata meluncur dari sudut matanya, membasahi pipinya yang putih bersih. Ia terkekeh. "Ah, pagi-pagi aku dibuat menangis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
Fiksi PenggemarKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
