61; what if: LDR

78 7 115
                                        

*Chapter ini hanya what if alias berandai-andai
*Timeline-nya setelah chapter what if: cemburu


Jihan sedang melakukan kunjungan dinas di Pulau Jeju, jadi anak-anak berada di rumah bersama Kyungsoo. Hari pertama, sih, aman-aman saja. Jihan menghubungi anak-anaknya melalui ponsel Soora atau Kyungsoo untuk mengetahui kabar mereka di rumah. Anak-anak makan dengan baik di rumah dan bersekolah seperti biasanya. Kebetulan Kyungsoo juga tidak ada pekerjaan selama seminggu ini, jadi mereka aman bersamanya.

Namun sayangnya, semua itu hanya bertahan satu hari. Di hari kedua, keributan mulai terjadi. Pagi-pagi buta, saat Jihan sedang mengganti pakaiannya, Soora menelpon.

"Ibuuuuu rok Soora yang kotak-kotak mana ya?" tanya Soora di ujung sana.

"Ya ampun nak... mana ibu tahu. Minggu lalu sudah kamu berikan ke pelayan untuk dicuci atau belum?" tanya Jihan sambil mengancingkan kemejanya.

"Nah itu dia ibu, Soora lupa."

"Hadeeeh" Jihan memutar bola matanya kesal. "Coba tanya ke Song Imo dulu, setelah itu tanya ayahmu."

"Sudah tanya ayah tapi ayah nggak tahu."

Jihan mengecek jam. "Kenapa kamu nggak pakai rok lain saja? Nanti terlambat, nak."

"Soora mau pakai rok yang itu" rengek Soora.

Jihan makin pusing mendengarnya. "Coba cari baik-baik dulu di lemarimu, kalau nggak ada kamu tanya ke Song Imo. Kalau masih nggak ada juga, ibu nggak tahu lagi nak."

Soora menghela sedih. "Ya sudah, terima kasih ibu."

Setelah panggilan ditutup, Jihan segera menyisir rambutnya dengan cepat. Dia harus menghadiri rapat pagi ini, dia hampir saja terlambat gara-gara telepon dari Soora.

Saat Jihan sedang berjalan cepat di lorong hotel menuju ballroom tempat diadakannya rapat, ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi Soora.

"Roknya nggak adaa bu" rengek Soora.

Jihan menghela sambil menghentikan langkahnya. "Pakai rok lain dulu aja ya nak?"

"Hngg..." Jihan bisa mendengar nada kecewa dari suara Soora.

"Kakak Soora, boleh tolong kerjasamanya tidak? Ibu lagi nggak di rumah, ibu nggak bisa bantu. Ayahmu sendirian mengurus tiga anak, kasihan dia. Sekali ini saja Soora pakai rok yang lain dulu. Nanti ibu minta tolong ke Song Imo untuk carikan rok kotak-kotak Soora sampai ketemu supaya bisa Soora pakai besok. Bagaimana?" ujar Jihan lembut.

"Hnggg... iya deh..." kata Soora sedih.

"Nanti malam, Soora langsung cari dan siapkan pakaian apa yang mau Soora pakai ke sekolah besok, supaya nggak terburu-buru besok pagi. Oke?"

"Iya ibu."

"Oke, Soora masih butuh bantuan ibu?"

"Enggak bu."

"Boleh ibu matikan telponnya? Ibu sudah terlambat rapat nak" kata Jihan sambil mengecek arlojinya.

"Iya ibu, maafkan Soora ya bu."

"Nggak apa-apa nak."

"Selamat bekerja ibu!" suara Soora perlahan kembali ceria.

Jihan tersenyum. "Selamat belajar juga ya anak cantik."

Masalah sudah beres. Jihan segera mematikan nada dering ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian ia pun berlari menuju ballroom.

Seluruh kegiatan rapat hari itu diselesaikan Jihan dengan baik. Pukul empat, rapatnya berakhir. Ia pun langsung menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Jihan langsung memompa asinya. Karena sedang jauh dari Soojin, jadi tidak ada yang meminum asi Jihan. Itu sebabnya Jihan harus terus memompanya.

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang