*Chapter ini timeline-nya sebelum Daehan sakit demam berdarah di cerita utama
Hari ini hari minggu. Seperti minggu-minggu sebelumnya, hari ini pun Jihan kerja setengah hari. Pukul satu siang, mobil sedannya yang berwarna abu-abu sudah terparkir rapi di garasinya. Setelah mengambil barang-barangnya di jok belakang, Jihan turun dari mobilnya membawa barang-barangnya. Wanita itu langsung melangkah masuk ke rumahnya setelah mengunci mobilnya. Begitu masuk ke dalam rumah, matanya langsung disuguhi pemandangan anak bungsunya yang sedang bermain dengan mainan-mainan robotnya di ruang tengah. Sendirian. Tumben sekali tidak ada Soora bersamanya.
Jihan hanya menatap anaknya sebentar, kemudian berlalu dari sana dan masuk ke kamarnya sendiri.
Jihan tidak tau, anak lelaki bungsunya itu lama menatap punggungnya, bahkan sampai punggungnya menghilang dibalik pintu kamar. Bahkan ia masih menatap ke arah pintu kamar itu sampai beberapa menit setelahnya. Wajahnya memang tak berekspresi, namun entah apa yang dipikirkannya. Tidak ada yang tau.
Ketika Jihan kembali keluar kamar lima belas menit setelahnya, Daehan reflek menoleh. Kedua orang itu saling bertatapan selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Jihan berlalu pergi dari sana, menuju dapur.
Setelah mengambil makanan, Jihan kembali melewati ruang tengah sebelum kembali ke kamarnya. Kali ini Daehan tak menatapnya, ia asik dengan mainannya. Untuk beberapa lama Jihan menatapnya. Jihan yang tadinya tak merasakan apa-apa, lama-lama jadi merasa bersalah. Rasa iba menyeruak ke dadanya kala melihat anak yang seharusnya masih dia peluk-peluk dan masih dia gendong-gendong itu malah selalu bermain sendiri dan selalu melakukan apapun sendiri.
"Daehan-ah" panggilnya. Yang dipanggil langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh. Matanya yang sipit menatap mata sang ibu tanpa berkedip sedikitpun. "Kakakmu mana?" tanya Jihan.
"Pelgi" jawabnya. "Thama ahjutti"
"Kemana?" tanya Jihan lagi.
"Lumah temannya kakak" jawab Daehan.
"Ah" Jihan mengangguk, kemudian wanita itu langsung masuk kamarnya tanpa berkata apapun lagi pada Daehan.
Dia bahkan tak bertanya apa Daehan sudah makan? Apa Daehan ingin ditemani bermain? Apa Daehan kesepian?
Padahal Daehan kesepian. Dia butuh teman. Dia bosan bermain sendirian.
Jihan sempat terdiam sebentar setelah masuk kamarnya, untuk sesaat terpikirkan Daehan. Namun ditepisnya pikiran itu, lalu ia duduk di kursi kerjanya dan membuka laptopnya, melanjutkan pekerjaannya sambil memakan makanan yang baru diambilnya di dapur.
Jihan tak pernah terlalu memikirkan anaknya, Jihan tak pernah memperhatikan anaknya. Hal itu awalnya dia lakukan supaya dia tidak merasa bersalah pada anak-anaknya. Tapi dia tak sadar, lama kelamaan, dia hampir betul-betul mati rasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
FanfictionKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
