"Permisi, Nyonya" seorang pelayan menghampiri Jihan di dapur. Wanita yang tengah mengoleskan selai kacang di rotinya itu pun menoleh.
"Soora tidak mau sekolah nyonya, katanya tidak enak badan" lanjut pelayan itu.
Jihan menaikkan kedua alisnya. "Tidak enak badan bagaimana? Badannya panas?"
Pelayan itu menggeleng. "Tadi saya cek tidak panas nyonya."
Jihan meletakkan rotinya yang belum termakan itu di piring, kemudian beranjak dari posisinya. "Baiklah saya cek dulu, terima kasih."
Jihan langsung menuju lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar Soora lalu masuk. Yang bisa dia lihat hanyalah gundukan selimut di atas kasur. Anak itu menyelimuti dirinya hingga ke kepala.
Jihan perlahan duduk di tepi kasur. "Kakak Soora kenapa?" tanyanya lembut sambil menarik selimut itu. Kini tampaklah wajah anak sulungnya yang kusut. "Apanya yang sakit?"
Soora menggeleng.
Jihan menyentuh kening Soora, kemudian lehernya. Tidak panas sama sekali. "Enggak panas. Jadi apanya yang sakit? Soora sakit tenggorokan? Pilek? Pusing?"
Soora hanya diam sambil menatap Jihan.
"Coba cerita sama ibu, Soora kenapa kok nggak mau sekolah? Kalau Soora diam saja, ibu nggak tahu apa masalah Soora" lanjut Jihan. Mata Soora mulai berkaca-kaca.
"Kamu diapain sama temanmu?" tanya Jihan lagi. Dia hanya menebak kemungkinan anaknya tidak mau sekolah, namun sepertinya tebakannya benar karena Soora kembali menutup wajahnya dengan selimut.
"Soora nggak mau bertemu teman-teman!"
"Lho kenapa?" Jihan terkejut.
"Mereka jahat" lirih Soora.
"Bukannya kamu punya sahabat? Namanya Hana kan? Masa nggak mau bertemu Hana?"
"Hana baik, yang lain jahat. Soora nggak suka"
Jihan kembali menarik selimut Soora. Rupanya wajahnya sudah basah oleh air mata yang meleleh dari kedua sudut matanya. Tentu saja dia terkejut. "Hey, kenapa? Teman-temanmu kenapa?"
Soora makin terisak, membuat Jihan makin panik. "Cerita saja sama ibu. Nanti ibu yang marahi mereka" ujar Jihan geram.
"Katanya... hiks... kata teman-teman, Soora tidak disayang orang tua. Hiks, katanya keluarga Soora aneh" ia mulai bercerita.
"Kenapa begitu? Ibu dan ayah sayang Soora kok. Keluarga kita juga tidak aneh. Ada ibu, ada ayah, ada adik" alis Jihan berkerut. Terselip rasa kesal dalam nada bicaranya.
"Soalnya mereka tahu Soora hanya tinggal dengan ibu. Mereka juga bilang, kalau mereka selalu lihat Soora diantar-jemput Pak Kim, jadi mereka bilang Soora tidak disayang" jawab Soora. Bibirnya melengkung ke bawah.
Jihan mengerutkan dahinya. "Soora kan sering dijemput ayah? Kadang-kadang diantar ayah juga, kan?"
"Mereka nggak tahu kalau itu ayah. Ayah kan selalu di dalam mobil saja."
"Sejak kapan kamu diejek mereka?"
"Sudah agak lama, tapi paling parah kemarin" jawab Soora sambil melihat jendela. Ia tak mau menatap ibunya.
Jihan menggertakkan giginya dengan geram. "Cepat mandi! Hari ini ibu yang antarkan Soora sampai ke kelas!" serunya berapi-api.
Soora terkejut. "Buat apa, bu?" tanyanya bingung.
"Biar semua teman-temanmu lihat betapa kerennya ibunya Soora. Biar mereka juga tahu, Soora sangat disayang orang tuanya" jawab Jihan sambil melipat tangannya di dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
Hayran KurguKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
