ps. chapter ini timeline-nya sebelum Daehan sakit demam berdarah, jadi anak-anak belum dekat dengan Jihan
"Kamu tahu tidak? Sewaktu Daehan lahir, dia tidak bernafas" ujar Kyungsoo sambil menatap rerumputan di hadapannya. Kyungsoo dan Soora tengah duduk di bangku di halaman belakang rumah, menikmati semilir angin sore hari yang bertiup tak terlalu kencang.
Mata Soora membesar. "Hah benarkah?! Lalu bagaimana ayah?"
"Iya dia tidak bernafas, tidak menangis juga. Detak jantungnya juga lemah saat itu. Ibumu panik sekali waktu itu. Ayah juga panik, tapi ayah nggak bilang apa-apa. Ayah cuma memegangi tangan ibumu saja, ayah benar-benar nggak bisa berpikir waktu itu" jelas Kyungsoo sembari mengingat-ingat masa itu. Sembari melepas sandalnya, ia menaikkan kedua kakinya ke atas bangku dan memeluk kakinya.
"Dokter kenapa dia tidak menangis?!" Jihan bertanya panik kala dirasakannya sang bayi sudah keluar dari rahimnya namun tak terdengar suara apapun.
"Sebentar nyonya" ujar sang dokter. Tanpa memotong tali pusarnya terlebih dahulu, dokter itu dengan cepat mengangkat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu dan menepuk-nepuk punggungnya. Sembari memperhatikan, Jihan menyadari tidak ada pergerakan di dadanya. Bayi itu tidak bernafas.
"Kenapa dia tidak bernafas?! Kyungsoo, anakku! Dokter tolong selamatkan anakku! Kyungsoo kalau terjadi sesuatu pada anakku semua ini salahmu!" Jihan menjerit tak karuan.
Kyungsoo pucat pasi saat itu. Dia sendiri juga sudah menyadari bahwa anaknya yang baru lahir itu tak bernafas. Jantungnya berdegup kencang, panik bukan main. Namun tak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Jihan sembari menatap sang dokter yang sedang menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu.
"Kenapa itu salah ayah?" tanya Soora. Alisnya berkerut bingung. Ia ikut memeluk kakinya seperti sang ayah.
Kyungsoo tertawa kecil. "Ibumu terlalu panik saat itu, jadi dia butuh seseorang untuk disalahkan. Jadi ayah lah yang ingin dia salahkan"
"Tapi kan itu bukan salah ayah?" tanya Soora lagi.
"Memang begitulah manusia, nak. Manusia selalu butuh sesuatu atau seseorang untuk disalahkan supaya mereka bisa sedikit lebih tenang" jelas Kyungsoo. Soora terdiam.
"Sama saja seperti Soora kalau terlambat sekolah, pasti Soora akan menyalahkan macet. Padahal Soora yang bangunnya sedikit kesiangan. Kalau Soora bangun lebih pagi, pasti Soora tidak kena macet dan jadi tidak terlambat ke sekolah juga" Kyungsoo melanjutkan penjelasannya dengan contoh yang bisa lebih mudah dimengerti oleh sang anak.
"Hmm benar juga ya" Soora manggut-manggut.
Kyungsoo terkekeh. "Manusia memang selalu begitu, nak. Ayah pun juga begitu kok, seringkali ayah menyalahkan sesuatu padahal memang ayah yang salah"
Soora terdiam sebentar, lalu melanjutkan pertanyaannya. "Lalu setelah itu Daehannya bagaimana, yah?"
"Setelah punggungnya ditepuk-tepuk terus oleh dokter, akhirnya dia mulai bernafas dan menangis, tapi memang agak lama. Setelah itu baru ibumu tenang"
Soora mengangguk-angguk mendengar cerita ayahnya. "Lalu waktu Soora lahir, bagaimana?"
"Kalau kamu, dulu lahirmu cepat dan mudah karena kamu lahir melalui operasi"
"Kenapa harus operasi, yah? Kalau Daehan lahirnya tidak operasi ya?"
"Iya, Daehan tidak operasi. Kamu lahirnya dioperasi karena kamu sudah terlalu lama di dalam perut ibu tapi tidak ada tanda-tanda akan lahir juga. Betah sekali di perut ibu" jawab Kyungsoo sambil terkekeh.
"Memang kalau terlalu lama di perut kenapa, ayah?" tanya Soora penasaran. Sebagai anak usia delapan tahun, dia belum tahu apapun soal bagaimana bayi lahir.
"Kan umumnya bayi di perut ibu itu sembilan sampai sepuluh bulan, kalau terlalu lama tidak baik untuk bayinya juga. Nah, kamu sudah sepuluh bulan lebih dua minggu di dalam perut ibumu tapi belum keluar juga, kalau dibiarkan takut kamu kenapa-napa di dalam perut" jelas Kyungsoo. "Akhirnya ibu di operasi supaya kamu bisa keluar. Kamu tahu nggak? Perut ibu dibelah lalu kamu dikeluarkan, setelah itu perut ibu ditutup lagi dan dijahit" lanjutnya.
"Hiiiyyyy" Soora bergedik ngeri membayangkan perut ibunya dibelah. "Seram sekali!"
"Makanya kamu harus baik sama ibu"
"Tapi ibu yang nggak baik sama Soora"
"Hush!" seru Kyungsoo. "Nggak boleh begitu. Kalau ibu nggak baik, nggak mungkin kamu disekolahkan, diberi makan yang enak, diberi uang saku, dibelikan baju-baju yang bagus juga"
Soora hanya diam. Kyungsoo melanjutkan, "Ibumu tuh sayang padamu. Waktu kamu masih bayi, dia sering begadang karena kamu selalu terbangun tengah malam. Dulu setiap bertemu orang, ibumu akan pamer bahwa kalimat pertama yang kamu ucapkan adalah 'ibu'. Dia juga akan pamer bahwa pada saat kamu pertama kali mulai berjalan, kamu lebih memilih berjalan ke arah ibu daripada ke arah ayah."
Soora tertawa kecil. "Ternyata ibu pernah sayang sama Soora ya"
"Sampai sekarang dia masih sayang" kata Kyungsoo. "Dia cuma nggak bisa menunjukkan kalau dia sayang"
"Kenapa nggak bisa?"
"Ya ayah tidak tau. Ayah kan bukan cenayang"
"Ah, harusnya ayah tahu. Ayah kan pernah jadi suaminya ibu"
"Hmmm" Kyungsoo tampak berpikir, mencoba memikirkan kenapa Jihan tak bisa menunjukkan rasa sayangnya kepada anak-anaknya. Tapi dia tetap tak bisa menemukan jawabannya. Kyungsoo tetap tak bisa memahami perasaan Jihan. "Enggak tau, pokoknya ayah nggak tau" ujarnya gusar. Soora hanya bisa mendengus sebal.
"Nanti, pasti ada waktunya ibumu bisa menunjukkan rasa sayangnya pada kalian lagi. Percaya sama ayah"
"Hmm" Soora mengangguk-angguk. "Nggak apa-apa kok, yang penting Soora punya ayah"
Kyungsoo hanya bisa tersenyum miris, lantas memeluk putri sulungnya itu dengan erat. Sembari menciumi puncak kepala putrinya, Kyungsoo diam-diam berdoa dalam hati, berdoa agar dia selalu diberi kesehatan supaya dia bisa terus merawat dan menyayangi anak-anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
Fiksi PenggemarKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
