1; ngompol

267 8 0
                                        

ps. chapter ini timeline-nya setelah Daehan sakit demam berdarah, jadi Jihan dan anak-anak sudah lumayan dekat.

"Heeey sudah-sudah! Yuk sudah yuk, sudah waktunya tidur" pria berusia tiga puluh tahun itu berseru sambil berkacak pinggang. Namun yang diajak bicara tak mendengarkan sama sekali. Dua anak itu masih asyik loncat-loncat di kasur sambil melempar-lempar bantal dan boneka ke udara. Belasan boneka milik Soora sudah berserakan di kasur dan lantai sekarang.

Kyungsoo memijat pelipisnya, pening dengan semua ini. Tapi dia harus tetap sabaaaar. Jadi dia hanya menghela nafas berat dan menahan dirinya untuk tidak ngomel-ngomel. Lalu di tengah-tengah keberisikan itu tiba-tiba...

Hap!

Daehan yang hampir jatuh karena berdiri terlalu ke pinggir langsung ditangkap dengan sigap oleh Kyungsoo. Si bungsu langsung memeluk leher sang ayah, sementara si sulung langsung berhenti melompat. Kamar itu langsung hening.

"Ayah kan sudah bilang, jangan loncat-loncat terus. Untung ayah tangkap, kalau enggak? Pasti malam ini Daehan tidur dengan kepala benjol" kata Kyungsoo sambil mengusap kepala Daehan. Soora tertawa kencang mendengar perkataan ayahnya, dia membayangkan kepala adiknya yang benjol.

"Eh, kakak jangan ketawa. Kakak juga sama saja, dari tadi ayah bilang berhenti kalian masiiiih sajaa" kali ini perkataan Kyungsoo menghentikan tawa anak sulungnya.

Kyungsoo mendudukkan dirinya di kasur Soora, masih dengan Daehan yang masih memeluk leher Kyungsoo. "Duduk sini. Ayah enggak marah kok" Kyungsoo menepuk-nepuk kasur sambil tersenyum.

Soora segera duduk bersila di samping sang ayah. Kyungsoo kembali tersenyum, rambut Soora dibelainya dengan penuh kasih sayang. "Loncat-loncat di kasur itu berbahaya ya, kakak. Lihat sendiri kan tadi adiknya hampir jatuh? Kalau kakak Soora jatuh juga bagaimana? Ayah enggak mau anak-anak ayah terluka. Lagipula ini bantal-bantal dan bonekanya di lempar-lempar ke lantai, nanti siapa yang beresin?"

"Soora sama Daehan" jawab Soora polos.

"Ah masa? Paling juga nanti imo-imo yang beresin. Kan kasian imonya, kalian berantakin kamar terus imo yang harus rapikan dan bersihkan kamarnya" ujar Kyungsoo. "Lagian ya, bayangkan deh kalau tadi gak ada ayah lalu kalian jatuh. Sudah benjol-benjol kepala kalian, badan kalian juga pasti memar semua" ia tertawa. Kemudian, ia melanjutkan, "Sekarang ada ayah, tapi kalau enggak ada ayah gimana? Lain kali kakak harus ingatkan adiknya supaya enggak lompat-lompat, karena berbahaya. Ingat terus pesan ayah ya, gak boleh lompat-lompat di kasur ataupun sofa"

"Ah, ayah selalu ngomongin kalau semisal gak ada ayah. Makanya ayah sama kita terus dong!" Kyungsoo langsung mendapat protes dari si sulung.

Kyungsoo tersenyum getir. Kembali dibelainya rambut Soora, sementara tangan satunya mengeratkan pelukannya pada Daehan. "Ayah kan kerja, gak bisa dua puluh empat jam sama kalian. Yang bisa menjaga diri kalian itu cuma kalian sendiri. Paham maksud ayah?"

Soora tak berkata-kata lagi, ia hanya mengangguk sambil menatap mata ayahnya yang memancarkan tatapan yang sulit diartikan.

———

Daehan terbangun karena merasa ada yang basah di kakinya. Ia terbangun dan melihat ujung celana pendeknya basah. Dia pikir dia mengompol, tapi dia menyadari kalau celana dalamnya kering. Berarti.........

Daehan menoleh kearah sosok yang tidur di sampingnya.

Soora.

Daehan langsung bergidik, jijik kala menyadari bahwa celananya basah oleh cairan pipis yang bukan miliknya.

"Kakakkk!" ia menyolek-nyolek lengan kakaknya. Anak perempuan itu langsung terbangun dan menatap adiknya bingung. Daehan langsung menunjuk kearah celana Soora yang basah.

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang