59; april mop

80 8 81
                                        

1 April.

Jihan baru saja pulang dari kantornya. Setelah turun dan mengunci mobilnya, Jihan langsung masuk membawa barang-barangnya. Setelah melepas heels-nya, ia pun menuju kamarnya.

"Ibu!" langkah Jihan terhenti. Di depan pintu kamarnya, ia berbalik. Kedua anaknya sedang duduk di karpet ruang tengah.

"Ibu mau oreo?" tanya Soora sambil mengangkat sebuah piring berisi oreo.

"Sebentar ibu taruh tas di kamar dulu ya" Jihan tersenyum lalu membuka pintu kamarnya. Ia meletakkan barang-barangnya diatas kasur, lalu segera kembali ke ruang tengah.

Jihan ikut duduk di karpet bersama Soora dan Daehan. "Ibu mau oreonya."

Daehan mengambil sebuah oreo dan mengarahkannya ke bibir Jihan. Jihan langsung menggigit oreo itu. Wanita itu bahkan belum mengunyahnya, tapi ekspresinya langsung berubah. "HUEKKK KENAPA RASA ODOL?!?!"

"HAHAHAHA!" Soora dan Daehan langsung tertawa terbahak-bahak.

Oreo itu memang terlihat normal. Dua buah biskuit berwarna hitam dengan krim berwarna putih di tengahnya. Namun ternyata krim yang seharusnya rasa vanilla itu sudah diganti dengan pasta gigi.

"APRIL MOP!" seru Soora dan Daehan.

"Hahahah maaf ya ibu" Daehan langsung meminta maaf meskipun sambil tertawa.

"Yang ini betulan oreo, bu" Soora menyodorkan sebungkus oreo yang sudah dibuka.

Jihan mengambil oreo itu. Kali ini Jihan percaya karena oreo itu masih berada didalam kemasannya. Ia langsung mengigit oreo itu.

"ARGHH INI SAMA SAJA!!"

Sayangnya kepercayaan Jihan dirusak sekali lagi. Soora dan Daehan kembali tertawa.

"Ibu kena lagi" celetuk Daehan.

Jihan cepat-cepat mengambil tisu dan melepeh oreo itu diatas tisu. Ia langsung bangkit menuju dapur. Setelah membuang tisu berisi oreo yang sudah sedikit terkunyah olehnya itu, Jihan segera meminum air mineral.

Ketika kembali ke ruang tengah, Jihan berkacak pinggang. Soora dan Daehan tersenyum lebar. "Maaf lagi ya ibu" kata Soora.

"Usil sekali" omel Jihan kesal. Meski begitu, dia tertawa tak lama setelahnya karena melihat senyum lebar anak-anaknya.

"Ayah nggak kesini, bu?" tanya Soora.

"Mana ibu tau" Jihan mengedikkan bahunya. "Biasanya kan kalian yang suka chat sama ayah."

"Masa ibu nggak tau, sih? Ibu kan mantan istrinya" Soora melipat tangannya di dada.

Jihan ikut melipat tangannya di dada. "Kamu kan anaknya. Harusnya kamu lebih tahu."

Soora menghela napasnya. "Ibu mau teh, nggak?" ia mengalihkan pembicaraan.

"Nggak. Nanti kamu usil lagi" jawab Jihan sinis.

"Tapi Soora mau minum teh. Kalau begitu ibu saja yang buatkan tehnya, supaya aman" kata Soora polos.

Jihan mencebik kesal. Dia sudah dijebak anaknya. Tapi daripada ia dikerjai lagi, Jihan memilih untuk mengangguk saja. "Daehan mau teh juga?"

"Daehan mau cucu meyon" sahut Daehan. Jihan mengangguk kemudian pergi ke dapur.

Sembari menunggu airnya mendidih, Jihan memasukkan dua sendok gula pasir dan sekantong teh ke dalam gelas. Setelah beberapa menit, air panas sudah mendidih. Jihan menuangkan sebagian air panas ke gelas lalu mengaduknya hingga gula larut dan airnya berubah kecokelatan. Setelah itu ia menambahkan sedikit air dingin supaya teh itu tidak terlalu panas. Setelah selesai, Jihan mengambil sekotak susu melon. Ia kembali ke ruang tengah membawa teh dan susu melon.

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang