13; a day with daehan (1)

103 7 5
                                        

*chapter ini timeline nya sebelum chapter 'Rapor', jadi disini Jihan sedang hamil muda.

Hari ini adalah hari ulang tahun Daehan yang ke-tiga. Sejak jauh-jauh hari Kyungsoo sudah meminta managernya untuk mengosongkan jadwalnya di tanggal ini. Pokoknya dia tidak mau melakukan pekerjaan apapun di hari ulang tahun anaknya. Jadilah hari ini Kyungsoo sudah tiba di rumah Jihan pagi-pagi sekali. Setelah memarkir mobilnya, Kyungsoo turun sambil membawa kado yang dibungkus kertas bergambar kartun mobil.

Pria itu langsung melangkah ke kamar anak lelakinya di lantai dua. Tentu saja anak itu belum bangun, matahari bahkan belum sepenuhnya memunculkan diri. Udaranya pun masih dingin. Kyungsoo hanya tersenyum sambil menatap Daehan yang masih tertidur nyenyak.

Setelah puas memandangi anaknya, Kyungsoo meletakkan kado yang dibawanya di samping kasur Daehan. Setelahnya, ia beralih ke kamar anak sulungnya. Rupanya Soora sudah mandi dan sudah mengenakan seragam sekolahnya. Anak perempuan itu tengah menyisir rambutnya di depan kaca. Kyungsoo tersenyum kecil, lalu menghampiri Soora. "Rambutnya mau ayah bantu ikatkan?"

Soora mengangguk. "Ikat dua yah"

Tanpa menjawab, Kyungsoo langsung mengambil alih sisir dan membagi rambut anak perempuannya menjadi dua bagian. Rambutnya panjang, hitam legam, tebal dan sehat, persis rambut Kyungsoo. "Ayah kapan datang?" tanya Soora sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

"Hmm baru saja kok. Ayah tadi langsung ke kamar Daehan, belum bangun dia" kata Kyungsoo sambil mengikat rambut Soora. Soora hanya mengangguk sebagai respon.

Tak butuh waktu lama, Kyungsoo sudah selesai mengikat rambut anaknya. Kini rambut Soora sudah rapi. Soora tersenyum senang menatap pantulan dirinya di cermin. "Terima kasih ayah"

"Sama-sama" Kyungsoo ikut tersenyum, lalu mengambil tas Soora di kursi. Ia merangkul Soora dan menariknya keluar dari kamar. "Ayo berangkat, ayah antar"

Setelah Kyungsoo dan Soora berangkat ke sekolah, Daehan bangun. Anak itu tersenyum melihat kado di samping kasurnya, namun memutuskan untuk membukanya nanti saja. Ia pun langsung turun ke lantai bawah dan mendapati ruang tengahnya kosong. Ia pun beralih ke dapur, dan rupanya ada ibunya disana, duduk sambil meminum susu. "Haii, selamat ulang tahun anak ibuuu" ujar Jihan begitu melihat Daehan. Wanita itu tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.

Anak yang hari ini berusia tiga tahun itu tertawa senang dan langsung berlari ke arah ibunya dan memeluknya. Jihan mengangkat Daehan ke pangkuannya. "Itu ada roti bakar vanilla, Daehan mau?" tanya Jihan sambil menunjuk beberapa lapis roti bakar di piring. Daehan menanggapinya dengan anggukan. Jihan pun mengambil piring lain yang ada di meja dan meletakkan selapis roti untuk Daehan. Anak itu langsung mengunyah rotinya sambil mengayun-ayunkan kakinya.

"Kado yang di kamal dali ibu?" tanya Daehan.

"Ibu belum ke kamarmu, mungkin dari ayahmu" jawab Jihan.

"Ayah kecini? Mana? Cudah puyang?" tanya Daehan lagi. Wajahnya tampak kecewa.

Jihan terkekeh. "Ayah mengantar kakak ke sekolah, nanti kesini lagi kok" kata Jihan sambil mengusak rambut tipis Daehan.

"Sebenarnya ibu sudah belikan Daehan kado, tapi apa Daehan punya keinginan? Kalau ada nanti ibu belikan" kata Jihan setelah Daehan menghabiskan rotinya.

"Hmmm..." Daehan tampak berpikir. "Daehan mau cepeda!"

"Sepeda?" Jihan kemudian tertawa. "Iya nanti ibu belikan. Kamu minta ayah ajarkan cara menaiki sepedanya ya"

"Oke!" anak itu tampak sangat senang. Matanya langsung hilang karena tersenyum lebar.

"Wah anak ayah sudah banguuun!" Kyungsoo tiba-tiba datang. Pria itu langsung menghampiri dan mengangkat Daehan ke gendongannya. Ia menciumi pipi Daehan. "Selamat ulang tahun ya anak ayah yang paling gantenggg. Sehat-sehat ya nak" ujar Kyungsoo. Daehan hanya mengangguk sambil memeluk leher ayahnya.

Jihan tersenyum melihat pemandangan di depannya. "Katanya Daehan minta sepeda. Nanti kamu yang ajarkan dia naik sepeda ya"

"Iya, nanti aku belikan sepedanya"

"Aku yang belikan, kan dia mintanya ke aku" balas Jihan sengit.

Kyungsoo tergelak. "Iya deh. Daehan mau minta apa dari ayah nak?"

"Daehan mau... mobil!" serunya.

"Waduh nak, bangkrut ayah kalo begitu" Kyungsoo menepuk jidatnya. Ketiganya tertawa setelahnya.

"Mobil yang ada lemotnya ayah" kata Daehan memperjelas.

"Mobil remote...?" tanya Kyungsoo. "Yang bisa dinaiki itu? Yang sering kita lihat di mall?"

"Iya!" Daehan mengangguk.

"Oooh oke! Tenang saja nanti ayah belikan"

"Yah kalo itu sih ayahnya yang senang, kan ayahnya yang pegang remotenya. Itu sih namanya ayahnya yang main, bukan anaknya" komentar Jihan dengan wajah malas.

Kyungsoo menjulurkan lidahnya ke arah Jihan, lalu kembali menatap Daehan. "Eh kamu mandi dulu, minta Goeun nuna mandikan kamu" ujarnya sambil menurunkan Daehan. Anak itu pun segera berlari ke kamarnya, meninggalkan orang tuanya berdua saja di dapur.

"Jihan, kamu kerja hari ini?" tanya Kyungsoo. "Aku cuti" jawab Jihan.

"Bagaimana kalau kita keluar bertiga saja dengan Daehan? Kita belum pernah mengajak dia keluar bertiga saja" usul Kyungsoo.

"Boleh" Jihan mengangguk. "Kupikir-pikir lagi memang kasihan dia, selama ini kan selalu ada kakaknya. Kalau Soora dulu sudah merasakan jadi anak tunggal"

"Nah itu dia" kata Kyungsoo. "Kita pergi makan saja, nggak usah lama-lama. Nanti kamu capek"

"Ah nggak apa-apa, tenang. Kamu ini seperti baru pertama punya anak saja. Kita sekalian membelikan sepeda dan mainan mobil yang dia minta saja" balas Jihan.

"Kamu betulan nggak apa-apa?" tanya Kyungsoo khawatir.

"Betulan, Kyungsoo. Tenang saja" Jihan berusaha meyakinkan Kyungsoo. "Kadomu bawa saja, nanti kita buka sama-sama diluar. Aku siap-siap dulu ya"

Selagi Jihan bersiap-siap, Kyungsoo pergi ke kamar Daehan. Rupanya anak itu baru selesai mandi. Ketika Kyungsoo datang, Daehan baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh setengah basah dan dibalut handuk.

"Aku saja yang pakaikan bajunya Daehan. Terima kasih, Goeun-ssi. Kamu boleh pergi" ujar Kyungsoo sopan. Pengasuh Daehan yang bernama Goeun itu pun membungkuk sopan sebelum pergi dari kamar itu.

Sepeninggal Goeun, Kyungsoo mengeringkan tubuh Daehan dengan handuk. Ia lalu mengangkat tubuh Daehan dan mendudukkannya di kasur. Kemudian ia pun memakaikan Daehan kaus berwarna kuning bergambar Bumblebee dan celana pendek berwarna cokelat. Ia tersenyum menatap anaknya. "Nah sudah ganteng anak ayah"

Daehan tersenyum lalu langsung melompat ke tubuh ayahnya yang sedang berjongkok di depannya. Kyungsoo terkekeh, lalu menggendong anak bungsunya dan mengambil kado yang ia letakkan di samping kasur pagi tadi. Keduanya turun ke lantai bawah berbarengan dengan Jihan yang juga baru keluar dari kamarnya. Jihan juga menenteng sebuah kado berukuran cukup besar. Wanita itu tampak cantik dalam balutan dress selutut berwarna biru langit. Wajahnya dipoles make-up tipis, rambut panjangnya yang tak terlalu tebal dibiarkan tergerai. Poninya yang baru dia potong beberapa hari yang lalu membuatnya tampak lebih segar. Untuk sesaat, Kyungsoo seperti tersihir melihat kecantikan mantan istrinya itu.

"Kita mau kemana?" suara Daehan memecah keheningan.

"Ah," Kyungsoo tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya dari mantan istrinya dengan kikuk. "Daehan mau makan apa hari ini?"

"Umm..." Daehan tampak berpikir. "Daehan mau udon"

"Jihan, kamu nggak dilarang dokter makan udon kan?" tanya Kyungsoo. Jihan menggeleng.

"Oke kalau gitu kita makan udon ya" Kyungsoo tersenyum sambil menjawil hidung anaknya. Kedua laki-laki itu terkikik geli, membuat Jihan ikutan tersenyum melihatnya.

Another Side of Father: dksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang