"Hai ibu" sapa Soora sambil mengusap nisan bertuliskan Shin Jihan itu. Nisan itu sudah tiga tahun berada disana. "Ibu apa kabar?" tanyanya, seolah ada yang mendengarkannya.
"Bu, hari ini Soora datang dengan ayah. Tapi ayah Soora suruh tunggu di mobil karena Soora ingin berduaan dengan ibu hehe" ujar gadis itu sambil nyengir. Matanya yang bulat langsung menyipit kala sinar matahari mengenai wajahnya. Rambutnya nampak kecokelatan karena terkena sinar.
Gadis berusia dua belas tahun itu reflek menoleh. "Oh, sudah mau sunset" katanya. Ia tersenyum sambil menatap langit yang berwarna jingga serta matahari yang sudah semakin rendah. "Sunsetnya cantik sekali. Ibu suka sunset kan?" katanya sambil kembali menatap nisan. Senyum manis masih terpatri di wajahnya.
Ingatannya langsung melayang pada obrolannya dengan sang ibu empat tahun yang lalu, disaat ibunya masih hidup.
Soora sudah cukup lama berada disana, mungkin hampir lima belas menit. Di ambang pintu balkon, di belakang sosok Jihan yang duduk sambil memeluk lutut di balkon. Matanya menatap lekat punggung sang ibu yang hari ini entah kenapa terlihat tak setegap biasanya. Bahunya turun, seakan sedang memikul beban yang berat. Di mata Soora, ibunya terlihat seperti sedang rapuh.
Wanita yang melahirkan Soora itu tak bergeming, masih belum menyadari kehadiran putri sulungnya. Sejauh yang Soora ingat, Jihan jarang menginjakkan kakinya di lantai dua rumahnya. Itu sebabnya, melihat ibunya duduk di balkon sore hari ini cukup membuatnya heran. Akhirnya Soora memutuskan untuk langsung duduk di samping sang ibu.
"Eh," Jihan kaget begitu merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia menoleh sekilas, sebelum membuang mukanya. "Oh, Soora" ujarnya sambil cepat-cepat menghapus bekas air mata di pipinya, kemudian kembali menoleh ke arah Soora dan memaksakan senyum.
"Ibu kenapa?" tanya Soora tanpa basa basi.
"Ibu nggak apa-apa, ibu cuma lagi menunggu matahari terbenam" jawab Jihan. Jawabannya tak sepenuhnya berbohong karena dia memang menunggu matahari terbenam. Jihan memang menyukai sunset. Hanya saja, dia berbohong ketika dia berkata dia tidak apa-apa.
"Menangis saja nggak papa bu" kata Soora mengabaikan jawaban ibunya sebelumnya.
Jihan menaikkan kedua alisnya, bingung sekaligus kaget mendengar ucapan si sulung.
"Orang dewasa juga boleh menangis kok" kata Soora lagi. "Memangnya orang dewasa harus selalu kuat? Orang dewasa juga boleh menangis. Jadi kalau ibu sedih, ibu menangis saja. Ibu boleh cerita pada Soora, pasti Soora dengarkan. Soora kan sudah besar"
Jihan tertawa mendengar omongan Soora yang seperti terlalu dewasa untuk usianya, tapi air matanya malah meleleh. Soora tak berkata apapun meski dia ikut sedih melihat ibunya menangis sambil tertawa.
"Ibu cuma capek aja"
"Ibu capek kenapa?"
"Hmm kenapa ya? Nggak tau, pokoknya rasanya capek saja"
Soora tak lagi membalas, sementara Jihan menatap ratusan atap rumah di hadapannya dengan tatapan kosong. Air matanya masih mengalir dari sudut matanya.
Soora tiba-tiba saja bangkit dari duduknya lalu langsung berlutut di samping sang ibu. Tangan-tangan kecilnya merengkuh bahu Jihan dari samping. Jihan langsung terenyuh. Air matanya makin deras mengalir.
"Ibu capek kenapa?" Soora bertanya lagi tanpa melepas pelukannya dari tubuh sang ibu. "Soora nakal ya? Atau Daehan? Soora sama Daehan bikin ibu capek?"
Jihan cepat-cepat menggeleng. "Enggak. Soora sama Daehan anak-anak ibu yang paling baik hati. Kalian nggak pernah bikin ibu capek. Soora sudah baik sekali sejak lahir" kata Jihan, lalu melepas pelukan. "Soora tahu tidak? Sewaktu ibu melahirkan Soora, Soora cepat sekali keluar dari perut ibu, jadi ibu tidak lama-lama merasakan sakit. Sejak hari pertama Soora hadir di dunia ini, Soora sudah menjadi anak yang sangat baik"
Senyum langsung merekah di bibir kecil Soora. "Benarkah?"
"Iya" Jihan mengangguk, lalu tersenyum tipis. "Jadi Soora nggak perlu khawatir, ibu bukan menangis karena kamu ataupun Daehan. Ibu nggak pernah capek karena kalian, ibu justru bersyukur punya kalian"
"Terus siapa yang bikin ibu nangis? Ayah? Nanti ayah Soora marahin!" bibir anak itu cemberut.
Jihan terkekeh. "Bukan ayah juga kok" katanya.
Terkadang manusia tak butuh alasan untuk merasa lelah. Mungkin Jihan hanya lelah dengan keadaan. Mungkin dia lelah merindukan masa lalunya. Mungkin dia lelah merasa bersalah. Atau mungkin dia benar benar hanya lelah saja — tanpa alasan yang jelas. Bahkan dia pun terkadang bingung apa yang membuatnya lelah. Hidupnya terlalu rumit, dia sudah melalui terlalu banyak hal yang membuatnya lelah.
"Ibu sudah nggak apa-apa sekarang, terima kasih ya Soora" Jihan tersenyum. Tangannya lantas memegang kedua tangan Soora. "Ibu boleh minta sesuatu pada Soora?"
"Apa itu bu?" tanya Soora dengan tatapan penasaran.
"Ibu cuma minta Soora menjadi anak kecil" Jihan menatap putri sulungnya dalam. Tangannya mengelus punggung tangan Soora yang halus. "Ibu ingin Soora tumbuh sesuai umur Soora. Ibu tidak mau Soora dewasa lebih cepat dari seharusnya. Di umurmu sekarang seharusnya kamu cuma perlu memikirkan bermain dan belajar, tidak usah pikirkan yang lain"
Soora tak berkata-kata, namun masih menatap mata ibunya.
Jihan tersenyum kecil. "Ibu minta maaf ya keadaan keluarga kita seperti ini. Tapi Soora nggak perlu berubah menjadi lebih dewasa gara-gara keadaan kita. Soora masih delapan tahun, Soora nggak perlu pikirkan apa masalah ibu ataupun ayah, itu urusan kami sebagai orang dewasa. Ibu ingin Soora fokus belajar saja, ya? Kalau Soora mau bermain, bermain lah, jangan pikirkan yang lain. Pikirkan diri Soora terlebih dahulu sebelum memikirkan Daehan, ibu, atau ayah. Soora mengerti, nak?" ujar Jihan dengan suara halus.
Soora menggigit bibirnya, kemudian mengangguk pelan. Jihan pun menarik tubuh kecil Soora dan memeluknya. "Soora minta maaf bu" kata Soora sambil menyandarkan dagunya di bahu Jihan.
Jihan mengeratkan pelukan, lalu menggeleng. "Ibu yang minta maaf. Kalau keadaan kita nggak seperti ini, pasti Soora nggak perlu hidup seperti sekarang ini. Soora nggak perlu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan anak seusia Soora"
Jihan melepas pelukannya, lalu menatap langit yang kini sudah semakin jingga, menandakan matahari akan segera terbenam sepenuhnya. "Ibu suka sunset ya? Kenapa ibu suka sunset?" tanya Soora. Kini anak itu ikut duduk sambil memeluk lutut di samping ibunya.
"Karena sunset selalu cantik. Bahkan ketika langit tertutup awan gelap, kita masih tetap bisa melihat cahaya jingga-nya meskipun cuma sedikit. Cahayanya tetap cantik meski tertutup awan" jelas Jihan. "Ibu ingin menjadi seperti sinar matahari terbenam yang tetap bersinar cantik meski tertutup apapun itu"
"Ibu sudah seperti sunset kok" kata Soora polos.
Jihan menoleh dan tertawa kecil, lalu kembali menatap langit. Ia menggeleng kecil. "Ibu enggak begitu. Yang selalu bersinar itu ayahmu" ujarnya. Kala itu, Soora yang belum paham hanya menatap ibunya, tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Soora baru paham, bu" kata Soora. "Ibu memang seperti sinar matahari terbenam. Ibu cantik, pintar, karir ibu bagus, ibu juga terkenal. Mau di keadaan apapun ibu tetap bersinar. Bahkan meskipun ibu memiliki anak, ibu tetap bersinar, anak-anak ibu nggak pernah menghalangi ibu untuk bersinar."
"Soora sekarang sudah besar bu, Soora baru sadar betapa gelapnya dunia idol. Ibu salah, ayah tidak seperti sinar matahari terbenam. Ayah bukan seperti sunset, karena dia harus menyembunyikan ibu, Soora dan Daehan supaya ayah bisa tetap bersinar. Ayah itu seperti bulan. Meski dia terlihat bersinar, tapi ada bagian gelap yang tidak terlihat."
"Soora tau, itu memang bukan salah ayah. Dunia ini saja yang terlalu kejam. Kenapa idol tidak boleh berkeluarga? Padahal idol juga manusia" lanjutnya. "Tapi, Soora cuma mau bilang, bahwa ibu memang seperti sinar matahari terbenam yang ibu sukai itu, karena ibu selalu bersinar. Tidak ada yang bisa menghalangi sinar ibu" ujarnya sambil tersenyum manis.
Sembari kembali mengusap nisan itu, air mata Soora malah menetes. Meski begitu, gadis yang mulai beranjak remaja itu tetap tersenyum. "Ibu harus tetap bersinar di tempat ibu yang sekarang ya bu. Supaya nanti, kalau sudah waktunya Soora kesana, Soora bisa mudah menemukan ibu lewat sinar ibu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side of Father: dks
FanfictionKumpulan cerita pendek tentang keseharian anak-anak Ayah Kyungsoo. Cerita ini masih satu universe dengan universe Father: dks dan tiap chapternya ditulis dengan timeline acak. Baca Father: dks terlebih dahulu supaya lebih paham cerita disini ya! #1...
